Pada umumnya masyarakat muslim menganggap sudah cukup dinamakan beriman karena sudah percaya kepada Allah, sebagai Tuhan yang Maha Esa. Dengan adanya keyakinan ini mereka sudah merasa layak masuk sorga, meskipun tidak pernah beramal, bahkan shalat pun ditinggalkannya. Sebab mereka berpegang pada kaidah, akan tetap masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada iman seberat biji sawi.

Benarkah pendapat yang berkembang luas seperti ini ?

Definisi Iman

Iman secara bahasa berarti percaya (at-tashdiq)

Secara istilah, para ulama’ ahlus sunnah wal jama’ah mengartikan iman dengan;

تصديق بالقلب ، وإِقرار باللسان ، وعمل بالجوارح

Meyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan.
Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

1. Keyakinan dengan hati.

2. Pengucapan dengan lisan.

3. Pengamalan dengan anggota badan

Keyakinan dengan hati maksudnya adalah meyakini kebenaran segala hal yang telah disebutkan oleh Allah di dalam al-Qur’an, atau dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallm di dalam hadis. Dasar keyakinan ini adalah firman Allah

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (al-Hujurat:14)

Iqrar (mengucapkan) dengan lisan maksudnya adalah mengucapkan dua kalimah syahadat. Dasar kewajiban mengikrarkan dalah hadis

أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا : لا إله إلا الله وأني رسول الله

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah dan Aku adalah rasulullah

Mengamalkan dengan anggota badan maksudnya adalah menjalankan segala perintah dan menjauhi larang-larangan di dalam al-Qur’an dan Hadis. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa amal bagian dari iman adalah;

اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً أَعْلاَهَا قَوْلُ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ طَرِيْقٍ

Iman itu ada 77 cabang, yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalanan.

Amal manusia dapat dibagi menjadi 3 macam, amal hati, amal lisan dan amal anggota tubuh. Amal hati contohnya adalah sabar, ikhlas, tawakkal, khauf raja’ dan lain-lain. Amal lisan seperti dzikir, baca al-Qur’an, berdo’a dan lain-lain. Dan amal anggota tubuh seperti shalat, puasa, haji, jihad dan lain-lain.

Orang yang percaya adanya Allah tetapi tidak mau beramal ketaatan maka ia beriman seperti Iblis, karena iblis sangat percaya kepada Allah. Tetapi Iblis disebut kafir karena tidak mau menjalankan perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam.

Orang yang percaya tetapi tidak mau bersyahadat tetap kafir juga, seperti Abu Thalib.

Dan orang yang mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan tetapi tidak yakin disebut munafik.

Iman bisa bertambah dan berkurang

Berdasarkan definisi tersebut di atas, amal adalah bagian dari iman, maka semakin banyak amal yang dilakukan semakin bertambahlah iman, dan semakin sedikit amal yang dilakukan semakin sedikit pula imannya. Dengan kata lain, iman itu bisa bertambah atau bisa saja berkurang.

اْلإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang

Lagi pula nilai ikrar seorang dengan orang lain tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

“Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab : ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. (Al-Baqarah : 260)

Iman akan bertambah tergantung pada keyakinan hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat didalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (al-Anfal;2)

“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. (Al-Mudatstsir : 31)

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At-Taubah : 124-125)

Di dalam hadis juga kita temukan,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim)

Ungkapan selemah-lemah iman dikaitkan dengan aktifitas amar ma’ruf nahi munkar menunjukkan bahwa semakin sedikit peran amar makruf seseorang maka semakin tipis imannya. Amar ma’ruf hanyalah satu dari sebikan banyak cabang iman, maka semakin sedikit amal seseorang semakin lemahlah imannya.

Bahkan jika tidak tersisa sedikitpun amal, maka keimanan itu bisa hilang. Atau mungkin masih beramal tetapi tidak melaksanakan rukun-rukunnya, maka keimanan bisa rusak. Sebagai contoh, orang berbuat baik kepada sesama, shalat dan puasa rajin, tetapi terhadap salah rukun iman ia ragu, tidak yakin, maka imannya rusak. Tidak percaya kepada salah satu rasul saja yang telah disebutkan oleh Allah kerasulannya, menyebabkan rusaknya seluruh keimanan. Atau melakukan berbagai kebaikan tetapi meninggalkan shalat, sama juga rusaklah keyakinannya.

Bagaimana meningkatkan Imam

Namun ada masalah yang penting yang perlu kita ketahui, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya:

• Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya daripada yang lain.

• Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (Adz-Dzariyat : 20-21).

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

• Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

Di antara Penyebab turunnya iman

Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu:

• Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

• Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

• Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. (Al-Hadits)

• Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimanannya dari sisi yang satu ini.