Dalam shalat berjama’ah, jika makmumnya anyak maka makmum berdiri di belakang imam dengan berbaris (shof). Persoalan sebenarnya sederhana, hanya menata shof saja. Namun jika persoalan ini didalami, ternyata Islam telah memberikan pelajaran yang penting dalam hal ini. Dan seharusnya umat islam memeliharanya demi kesempurnaan shalat berjama’ah.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menata shof, adalah

1. Orang yang utama setelah imam hendaklah mengambil posisi di belakang imam. Hal ini didasarkan atas hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi diriwayatkan bahwa beliau bersabda :

لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” (HR. Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa dalam menyusun shof disesuaikan dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan dan bacaannya dalam Al-Qur’an dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian. Hikmah dari syari’ah ini, bila sewaktu-waktu imam lupa atau salah dalam bacaan Al-Qur’an, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur seperti batal, sakit, dan lain-lainnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjama’ah.

2- Shof (barisan shalat) hendaklah disusun lurus. Diriwayatkan oleh an-Nu’man bin basyir bahwa Rasulullah saw bersabda;

لتَسَوُّنّ صُفُوفَكُمْ أوْ لَيُخالِفَنَّ الله بَينَ وُجُوهِكُمْ

“Hendaklah kalian meratakan shof-shof kalian atau Allah akan menyelisihkan antara wajah-wajah kalian”. (HR. Al-Bukhori)

Di dalam riwayat Muslim dikatakan;

اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

Ratakanlah (shof kalian) dan janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian akan salling berselisih (HR Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa lurusnya shof akan membentuk kebersamaan di antara kaum muslimin. Sebaliknya, tidak lurusnya shof menunjukkan adanya penyakit pribadi di antara kaum msulimin sehingga antara satu dengan yang lain memungkinkan terjadinya perselisihan dan perpecahan.

Di dalam hadits lain rasulllah saw bersabda

أقِيموا الصفُّوفَ فإنِّي أراكُم خَلْفَ ظَهْرِي عن أنس

Luruskanlah shof-shof (sholat), sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku”. (HR. Al-Bukhori).

Perintah Rasulullah saw ini menegaskan bahwa susunan Shof harus dibuat selurus mungkin. Karena itulah hendaknya para jama’ah benar-benar memperhatikannya dengan memperhatikan kanan kirinya, mengatur diri, dan saling mengingatkan jama’ah lain, sehingga shof dapat menjadi benar-benar lurus dari awal shalat sampai akhirnya.

3- Shof (barisan shalat) disusun dengan rapat. Kerapatan shof ini digambarkan oleh Nu’man bin Basyir..

قال النعمان بن بشير رَأيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يَلْزقُ كَعْبَه بِكَعْبِ صَاحِبهِ

Nu’man bin Basyir berkata: Aku melihat seorang di antara kami menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya. (HR. Al-Bukhori)

Anas bin Malik menjelaskan tentang rapatnya shof para shahabat dahulu…

وكانَ أحَدُنا يَلْزَقُ مَنْكِبَه بِمَنْكِبِ صَاحِبه وَقدَمَه بِقَدَمِه

Dan seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu saudaranya dan kakinya dengan kaki temannya. (HR. Al-Bukhori)

Ukuran rapatnya shof diukur dengan rapatnya mata kaki bukan ujung telapak kaki, atau jari kaki. Karena itulah kaki harus lebih dibuka, dan posisi telapak kaki ditata lurus menghadap ke kiblat sehingga memungkinkan bagi jama’ah untuk bisa menempelkan mata kaki mereka dengan mata kaki saudaranya yang berdiri di sebelahnya.

Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa tanda rapatnya shof adalah bertemunya bahu dengan bahu

أقيموا الصفوف فإنما تصفون بصفوفِ الملائِكةِ وحَاذُوا بَين المنَاكِبِ وسُدُّوا الْخَلَلَ وَلَيِّنُوا فِي أيْدِي إخْوانِكُم وَلاَ تَذَرُوا فُرُجاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَن وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ تبارك وتعالى وَمَنْ قَطَعَ صفًّا قَطَعَهُ اللهُ

“Luruskanlah shof-shof, karena tidaklah kalian menyusun shof melainkan dengan shof para malaikat tempelkanlah antara bahu dengan bahu, isilah (shof) yang kosong, lembutkanlah pada tangan-tangan saudara kalian, jangan tinggalkan celah untuk syaitan, barangsiapa yang menyambung shof, maka Alloh menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskan shof maka Alloh memutusnya”. (HR. Ahmad)

Shaf yang rapat akan mendorong lebih kuatnya persatuan umat Islam dan terhalangnya syetan untuk mengganggu shalat. Jika shaf tidak rapat, sebagaimana dikatakan di dalam hdits di atas, maka syetan akan masuk ke dalam sela-sela shof itu. Namun adanya hadits ini jangan diartikan, kebetulan syetan mau ikut shalat, berarti sudah taubat. Jika memang demikian kenyataannya, maka Rasulullah pasti menyuruh para shahabat untuk merenggangkan agar syetan-syetan ikut shalat dan bertaubat. Kenyataannya adalah, beliau menyuruh untuk merapatkan dan meluruskan shof.

4- Mengisi shof yang awal terlebih dahulu, dan tidak membuat shof yang baru apabila shof yang lebih awal belum penuh. Jabir bin samurah meriwayatkan hadits tentang ini;

أَلاَ تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلاَئِكَة عِنْدَ رَبِّهَا. فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ  يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِى الصَّفِّ

“Tidakkah kalian mau menyusun shof (sholat) seperti para malaikat yang menyusun shof di depan Rabb mereka?”. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat menyusun shof di depan Rabb mereka? Beliau menjawab: “Merekamenyempurnakan shof-shof yang pertama dan merapatkannya”. (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Sesungguhnya di dalam shof awal itu ada keutamaan yang besar. Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda;

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَاسْتَهَمُوا

Andaikata mereka mengetahui (pahala) di shaf yang depan, niscaya mereka akan berundi (untuk mendapatkan shof depan) (HR Muslim)

Ketidak tahuan inilah menyebabkan kadang-kadang jama’ah memilih dekat dengan seseorang yang telah mereka kenal, atau memilih dekat dengan orang yang mereka sukai dengan mengorbankan pahala yang besar.

5- Imam Hendaknya mengatur shof terlebih dahulu sebelum memulai shalatnya.

عن أنس ابن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم سَوُّوا صُفوفَكم فإنَّ تسْوِيةَ الصفِّ مِن تَمامِ الصلاةِ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rosululloh saw bersabda: “Ratakanlah shof-shof kalian karena meratakan shof termasuk dalam kesempurnaan sholat”. (HR. Muslim)

Di dalam riwayat lain dikatakan;

عن البراء بن عازب قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتخَلَّلُ الصفَّ مِن ناحيةٍ إلَى ناحيَةٍ يَمْسَحُ صُدُورَنا ومَناكِبِنا ويقول ” لاَتَخْتَلِفُوا فَتخْتَلِفُ قُلُوبِكُم

Dari Al-Barro’ bin ‘Azib ia berkata: Dahulu Rosululloh saw memasuki shof dari ujung ke ujung, beliau mengusap dada-dada dan bahu-bahu kami seraya berkata: “Janganlah berselisih (dalam menyusun shof), niscaya hati kalian akan berselisih pula”. (HR. Abu Dawud)

Hadits-hadits tersebut menggambarkan, bahwa sebelum shalat dimulai, beliau sebagai imam shalat terlebih dahulu menata shof sehingga shof lurus dan rapat.

6- Dalam embangun shof lelaki dimulai dari depan, tetapi untuk kaum wanita, dalam membuat shof dimulai dari belakang

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf lelaki adalah yang diawal, dan seburuk-buruknya adalah yang di belakang. Dan sebaik-baik shof wanita adalah yang dibelakang dan seburuk-buruknya adalah yang dimuka (HR Muslim)

Cara menyusun shof seperti ini berlaku apabila kau lelaki dan wanita melakukan jama’ah di dalam satu masjid dalam satu lantai. Jika kaum wanita di lantai yang lain dari kaum lelaki, maka dalam membuat shof tetap dimulai dari muka, bukan dari belakang.

Hikmah cara membangus shof demikian adalah untuk menjaga kekhusyu’an dan menghindarkan fitnah. Yang lebih dekat dengan lawan jenis akan lebih besar fitnahnya sehingga nilainya di sisi Allah adalah lebih buruk, dibandingkan shof-shof yang lain.

About these ads