Nama mBah Marijan mulai mencuat ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak tahun 2006. Latar belakang yang menyebabkan melambungnya nama mBah Marijan adalah sikapnya yang kukuh tidak mau mengungsi dari rumahnya di Kinahrejo ketika Gunung Merapi dalam keadaan kritis dan siap meletus. Dan saat terjadi letusan, kampung mBah Marijan, yang terletak 4 km dari puncak gunung selamat.

Saat itulah mBah Marijan yang nama lengkapnya Mas Penewu Surakso Hargo, lahir 83 tahun silam, mendapat sorotan media secara luas. Dan berkat ketegarannya melaksanakan amanah Hamengkubuwono IX itulah juru kunci merapi ini kemudian dikontrak oleh salah satu perusahaan minuman berenergi untuk menjadi bintang iklannya.

Istilah juru kunci, bukan berarti tukang buat kunci, atau petugas pembawa kunci. Istilah ini biasanya merupakan suatu sebutan kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang bertugas menjaga situs budaya yang dikeramatkan oleh warga.

Gunung merapi dalam masyarakat jawa memiliki mitos tersendiri. Gunung Merapi dalam masyarkat jawa dipandang sebagai salah satu kerajaan Ghaib yang terletak di sebelah utara keraton Jogjakarta. Sementara di sebelah selatan Kraton juga ada kerajaan gaib, yaitu kerajaan Pantai Selatan dengan ratunya yang dikenal sebagai Nyi Roro Kidul. Dan selanjutnya, antara Merapi, Kraton Jogja dan parangkusumo bisa ditarik garis imajiner, yang diyakini sebagai penyeimbang pulau jawa.

Damarjati Supajar, seorang ahli filsafat jawa, menyatakan bahwa sebenarnya posisi-posisi itu hanyalah kebetulan saja. Namun dibalik kebetulan itu tersimpan kearifan lokal yang tidak boleh diabaikan. Di antara kearifan lokal yang tersimpan adalah keseimbangan antara api (gunung merapi) dan air (laut selatan). Dalam bahasa lain, manusia hidup harus selaras dan harmonis dengan alam.

Gambaran singkat ini menunjukkan betapa pentingnya gunung Merapi dalam pandangan budaya kraton Jogjakarta, sehingga untuk menjaga kelestarian budaya ini diperlukan juru kunci. Adapun tugas juru kunci, yang paling utama adalah menjaga tradisi-tradisi mistis yang berkaitan dengan gunung itu. Sehingga realisasi dari tugas mBah Marijan saat itu adalah memimpin berbagai upacara selamatan yang berkaitan dengan Gunung merapi.

Pada akhir bulan oktober 2010, ketika Gunung Merapi dinyatakan awas oleh petugas volkanologi, dan penduduk yang tinggal di sekitar gunung Merapi diperintahkan untuk mengungsi, kembali mBah Marijan menyatakan keberatannya untuk mengungsi. Namun menurut beberapa sumber, Sore hari tanggal 26 oktober 2010, setelah tanda-tanda akan meletusnya Merapi sudah begitu dekat dan badan ilmiah untuk kegunugapian itu meminta petugas memaksa penduduk untuk mengungsi, konon mBah Marijan pun mau. Tetapi beliau akan melaksanakan shalat maghrib dahulu, sebelum mengungsi. Sayang, belum lagi selesai menunaikan shalat Maghrib, wedus gembel segera menerjangnya hingga mBah Marijan meninggal dunia dalam keadaan bersujud.

Ada salah satu media menyebutkan bahwa mBah Marijan belum mau dievakuasi sebelum tampak adanya wedus ireng turun gunung. Biasa orang jawa sering menggunakan bahasa simbol yang susah dimengerti. Yang tersirat dari bahasa ini, bahwa mBah Marijan adalah salah satu orang yang cukup memahami bahasa alam Merapi. Yang menjadi andalan sikap mBah Marijan adalah kondisi alam nyata. Sementara itu para ahli volkanologi sudah menggunakan berbagai alat yang lebih modern dan canggih.

Jika benar pernyataan ini, menunjukkan bahwa sebenarnya mBah Marijan mau mengungsi jika tanda-tanda Merapi akan meletus sudah nyata. Dan di antara nyatanya tanda akan meletusnya gunug merapi itu adalah panasnya suhu di sekitar puncak, yang memaksa binatang-binatang liar turun gunung. Namun, berkaitan dengan rusaknya habitat puncak gunung, dan habisnya binatang liar di sekitar puncak, maka tanda ini tidak bisa dibaca dengan baik oleh mBah Marijan. Akibat selanjutnya, mBah Marijan terlambat dalam mengabil sikap dan akhirnya beliau meninggal diterjang wedus gembel.

Peristiwa ini menjadi ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Di satu sisi ada yang menilai miring, tetapi di sisi lain ada yang menyanjung mBah Marijan setinggi langit, hingga ada yang mewacanakan untuk dianugerahi gelar sebagai pahlawan. Karena itu pula lah kami mendapatkan banyak pertanyaan seputar mBah Marijan. Dan sebagai jawabannya secara umum, kami turunkan tulisan ini, semoga memberikan wacana yang Islami.

Dalam menilai mBah Marijan, kami cenderung memegangi apa yang pernah diwasiatkan oleh Rasulullah saw

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

Dari Aisyah ra, bahwasannya ia berkata; Rasulullah saw bersabda: ”Janganlah kamu mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka perbuat”. (HR. Al-Bukhari)

Secara dhahir, mBah Marijan adalah muslim. Keislamannya sanyat nyata dengan menyisihkan sebagian honornya dari membintangi iklan minuman berenergi untuk membangun masjid yang cukup megah. Kita saja belum mampu melakukan hal seperti itu. Selain itu mBah Marijan juga diakui oleh PB NU sebagai pengurus Syuriah tingkat ranting.

Kalaupun mbah Marijan ikut memimpin selamatan, selama ini dikatakan memohon kepada Allah. Masalah bahwa di dalam selamatan itu potensial menyebabkan kemusyrikan, memang benar. Tetapi potensial bukan berarti telah ada. Karena itu, apakah dengan mengikuti selamatan seseorang telah menyekutukan Allah, hal ini perlu didalami lebih lanjut. Sementara ini belum ada pendalaman terhadap masalah ini.

Sementara itu berkaitan dengan kekukuhannya untuk tidak mengungsi pun, ada argumen logis yang bisa diterima akal, sebagaimana yang kami kemukakan di muka. Kami kemukakan versi ini, karena kami tidak ingin bersu’udhon. Karena itulah, kita boleh berharap, semoga mBah Marijan mengakhiri hayatnya dengan husnul khatimah. Salah satu tandanya, beliau meninggal dalam keadaan sedang beribadah. Meskipun memungkinkan untuk ditanyakan, ke manakah mBah marijan menghadap? Semoga saja benar-benar sujud kepada Allah. Bukan seperti lontaran liar sujud menghadap gunung merapi. Sehingga kita pun mendo’akan semoga dosa-dosanya diampuni (Allahummaghfir lahu)

Adapun keyakinan-keyakinan yang beredar di masyarakat tentang mitos gunung Merapi, memang sebuah keyakinan yang harus dibersihkan dari umat Islam. Tradisi-tradisi yang timbul dari kepercayaan itu juga hal yang harus dibersihkan. Namun bukan dengan caci maki secara liar, melainkan dengan dakwah bil hikmah wal mau’idhotul hasanah. Siapakah yang sudah melakukan hal ini?

Inilah kiranya sikap yang harus kita ambil, wallahu a’lam bish-showab.