Kata dosa adalah kata yang sudah sangat akrab di telinga kita. Tetapi kadang-kadang kita tidak mengerti, apa sesungguhnya dosa itu. Dosa adalah kata dalam bahasa Indonesia, yang sering dipadankan dengan dzanb dan itsm. Dzanb sendiri bisa berarti mengikuti, bisa berarti menghukum, tetapi bisa juga berarti melakukan kesalahan (dosa). Sedangkan istm berarti berbuat kesalahan. Sedangkan dalam bahasa indonesia, kata dosa biasa diartikan balasan buruk yang akan diterima sebagai akibat dari kesalahan.

Kesalahan yang dilakukan oleh manusia, pasti akan ada akibatnya, baik akibat langsung di dunia ini ataupun akibat di akhirat kelak. Yang pasti, setiap keburukan yang dilakukan oleh manusia akan menyebabkan berkurangnya kadar keimanan seseorang. Bahkan, ada kalanya dosa itu akan menghabiskan keimanan hngga tidak tersisa sama sekali.

Dosa yang diilustrasikan dalam alinea di atas, memberikan sebuah pemahaman bahwa antara satu dosa dengan dosa yang lain memiliki bobot yang berbeda-beda. Demikianlah para ulama’ telah memahami hakekat dosa ini. Lalu mereka membagi dosa menjadi dua kelompok, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Pembagian dosa menjadi dua kelompok ini didasari oleh firman Allah;

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (an-Nisa’:31).

Para ulama’ berbeda-beda dalam mendefinisikan dosa besar. Pendapat yang paling kuat tentang pengertian dosa besar adalah segala perbuatan yang pelakunya diancam dengan api neraka, laknat atau murka Allah di akherat atau mendapatkan hukuman had di dunia. Sebagian ulama menambahkan perbuatan yang nabi meniadakan iman dari pelakunya, atau nabi mengataan ‘bukan golongan kami’ atau nabi berlepas diri dari pelakunya.

Sebagai contoh, yang termasuk dosa besar adalah Nabi saw bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Bukan golongan kami orang yang menampar pipi (saat berduka cita), mengoyak pakaian, dan meratap dengan ratapan jahiliyah” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa ratapan kematian yang berlebihan hingga menyakiti diri sendiri, merusak pakaian dan menjerit-jerit mengakibatkan dosa besar.

Di antara contoh dosa besar lainnya adalah mencuri dan berzina. Karena mencuri memiliki hukuman had di dunia yaitu potong tangan maka muncuri adalah dosa besar. Zina juga memiliki hukuman had di dunia. Membunuh juga dosa besar.

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)” (an-Nisa’:10).

Dalam ayat ini ada ancaman neraka bagi orang yang memakan harta anak yatim sehingga perbuatan ini hukumnya dosa besar.

HUKUM PELAKU DOSA BESAR

Mengenai permasalah ini, kaum muslimin terbagi menjadi tiga kelompok : ada yang meremehkan dosa besar, ada yang bersikap berlebihan dalam menghukumi pelaku dosa besar, dan yang terbaik adalah yang pertengah dari dua kelompok itu.

Kelompok yang meremehkan, memiliki pendapat bahwa dosa apapun yang dilakukan oleh seorang mukmin, tidak akan membahayakan keimanannya, sebagaimana kebaikan yang dilakkan oleh orang kafir tidak akan bermanfaat terhadap kekafirannya. Pandangan ini diikuti oleh kelompok yang biasa disebut dengan Murji’ah.

Sedangkan kelompok yang berlebihan, meyakini  pelaku dosa besar keluar dari keimanan. Keyakinan ini dianut oleh kelompok yang biasa disebut dengan khawarij, atau haruriyyah.

Tetapi ada juga yang sedikit berbeda dengan pandangan Khawarij, mereka tidak meyakini kekufuran pelaku dosa besar. Mereka hanya meyakini bahwa pelaku dosa besar tidak mukmin dan tidak kafir, dan mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka. Kelompok yang berpandangan demikian adalah kelompok muktazilah.

Baik Murji’ah, Khawarij, maupun Mu’tazilah, pandangan mereka bertentangan dengan tuntunan al-Quran maupun al-Hadits. Adapaun kelompok yang pertengahan, mereka menyatakan bahwa dosa besar sangat berbahaya bagi keimanan seorang mukmin, karena bisa menyebabkan dia disiksa di akhirat. Meskipun demikian, mereka tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari keimanan dengan sebab dosa besar yang dilakukannya, selain syirik yang setingkat dengannya. Mereka berdalil dengan firman Allah swt:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisa:48)

Karena pelaku dosa besar tidak kafir, maka kelompok ini berpandangan bahwa kelak mereka pun akan tetap masuk ke dalam sorga, setelah terlebih dahulu disiksa di dalam neraka selama masa yang dikehendaki oleh Allah. Inilah pendapat ahlus sunnah wal-Jama’ah.

Di dalam shahih al-Bukhari disebutkan sebuah hadits yang cukup panjang, mengisahkan apa yang terjadi pada hari akhir kelak. Salah satu hal yang desbutkan oleh Rasulullah saw adalah, perintah Allah kepada Malaikat penjaga neraka agar orang yang di dalam hatinya ada setitik iman dikeluarkan dari neraka.

فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا

Maka barangsiapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada iman seberat biji sawi, meka keluarkanlah ia. Maka para malaikat pun mengeluarkan orang-orang yang ia ketahui (ciri-cirinya) (HR al-Bukhari)

Waspadalah terhadap dosa besar Meskipun Allah masih mungkin mengampuni dosa besar, dan memasukkan seseorang ke dalam sorga setelah sekian lama tinggal di neraka, janganlah pernah merasa aman dari dosa. Jangan pula berprinsip, toh nanti akan masuk sorga karena di hatiku masih ada iman. Orang yang mengatakan seperti ini adalah orang yang meremehkan dosa. Perhatikan firman Allah berikut,

Dan mereka berkata: “Kami tidak sekali-kali akan disentuh oleh api Neraka kecuali beberapa hari yang tertentu”. Katakanlah (wahai Muhammad): “Adakah kamu sudah mendapat janji dari Allah supaya (dengan itu) Allah tidak akan menyalahi janjiNya, atau hanya kamu mengatakan atas nama Allah sesuatu yang tidak kamu mengetahuinya? “ (al-Baqarah:80)

Sudahkah Allah menjanjikan Anda, Saya, atau kita akan masuk sorga, sehingga kita berkeyakinan toh nanti bakal masuk sorga juga? Adakah keimanan yang barangkali saat ini masih ada sudah dijamin oleh Allah akan tetap ada hingga akhir hayat kita?

Walhasil, marilah berusaha memperbaiki amal dan menjauhi dosa-dosa, terutama besar.