Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu larangan. Kemaksiatan kata lainnya adalah dosa. Baik dosa besar maupun dosa kecil. Setiap muslim pasti telah meyakini bahwa kemaksiatan itu akan mendapatkan balasan neraka.

Tetapi dewasa ini kita lihat fenomena aneh. Orang sudah memahami bahwa kemaksiatan atau dosa itu akan menyebabkan pelakunya mendapatkan balasan neraka pada hari kiamat kelak, namun mereka tetap saja melakukan dan tidak berhenti. Yang lebih mengherankan lagi, tak jarang para pelaku maksiat itu sudah mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah kemaksiatan.
Ada di antara mereka, para pelaku maksiat itu, beranggapan bahwa dengan beristighfar telah diampuni dosa. Atau puasa ramadlan telah menyebabkan diampuninya dosa setahun yang lalu dan setahun kemudian. Dengan modal asumsi ini, mereka tenang saja melakukan kemaksiatan.

Sungguh ini merupakan pemahaman yang sangat memprihatinkan. Pemahaman Islam yang tidak didasarkan kepada sumber yang benar, tetapi justru menurut pemahaman ahli maksiat. Mereka memaksakan pemahaman dalil dengan kaca mata hawa nafsu.
Jika kita mempelajari islam sesuai tuntunan al-Qur’an dan sunnah, istighfar saja tidak cukup untuk bertaubat, tetapi mesti diiringi oleh penyesalan, rasa takut dan senantiasa istighfar dan memperbanyak amalan kebaikan sehingga kita termasuk dari orang-orang yang didekatkan dan selamat. Allah berfirman :

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Furqaan : 70)

“Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (Al-Furqan : 71)

Paparan di atas menunjukkan bahwa kebodohan adalah salah satu hal penting yang menjadi sebab seseorang menyepelekan kemaksiatan. Bodoh terhadap pemahaman agama, sehingga tertipu oleh pemahaman yang salah. Bodoh pula terhadap akibat yang ditimbulkan oleh kemaksiatan. Andaikata mereka sadari dampak kemaksiatan, niscaya tidak mudah melakukan kemaksiatan. Untuk itulah dampak kemaksiatan harus diketahui dengan benar.

Kini muncul orang yang sudah berusaha mengaitkan kemaksiatan dengan kehidupan seseorang. Tetapi kadang-kadang dalam mengaitkan antara kemaksiatan dengan kehidupan manusia tidak akurat. Sebagai misal; mereka katakan bahwa seringnya orang mengghibah akan menyebabkan serak-serak. Banyaknya seseorang bersu’udhon akan menyebabkan migren, dan seterusnya.

Jika pernyataan itu benar, dosa kecil saja bisa menyebabkan munculnya berbagai penyakit, apakah dosa besar tidak menyebabkan penyakit? Syirik, kufur, nifaq adalah dosa-dosa besar, bahkan terbesar. Apa dampak yang ditimbulkannya? Ini adalah salah satu bentuk upaya menyembuhkan penyakit tetapi justru menimbulkan efek samping yang lain.

Untuk melihat dampak maksiat, marilah kita kembalikan kepada dasar al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.

Dampak maksiat pada keimanan;

Pada diri seseorang kemaksiatan itu akan mempengaruhi imannya. Ini karena salah satu unsur iman adalah amal. Jika seseorang melaksanakan ketaatan maka imannya bertambah, tetapi jik melakukan kemaksiatan imannya akan berkurang.

Rasulullah saw bersabda; bahwa iman itu memiliki 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan “la ilaha illallah” dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan.

Sabda Rasulullah ini menunjukkan bahwa iman bercabang-cabang dan bertingkat-tingkat. Dengan bertingkatnya nilai keimanan, maka orang yang melakukan kemaksiatan pun dampaknya juga bertingkat-tingkat.

Kemaksiatan secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga tingkat;

1- dosa kecil
2- dosa besar
3- dosa pembatal keimanan

Pengaruh dosa kecil dan dosa besar terhadap iman hanyalah mengurangi kadar keimanan. Sedangkan dosa pembatal keimanan, jika dilakukan maka seseorang keluar dari wilayah iman menuju wilayah kufur. Allah berfirman

Sebagaimana Allah menceritakan tentang Fir’aun dengan firmanNya:

“Tetapi Fir’aun mendustakan dan maksiat.” (An-Nazi’at: 21)

Kemaksiatan yang dilakukan oleh fir’aun di atas, termasuk kemaksiatan yang membatalkan keislaman. Dan sejarah mencatat, Fir’aun mati dalam keadaan kufur.

Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat atas iman, yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka akar-akarnya adalah tashdiq (kepercayaan) dan dengan akar itulah ia hidup, sedangkan cabang-cabangnya adalah amal perbuatan. Dengan cabang itulah kelestarian dan hidupnya terjamin. Semakin bertambah cabangnya maka semakin bertambah dan sempurna pohon itu, dan jika berkurang maka buruklah pohon itu.

Lalu jika berkurang terus sampai tidak tersisa cabang maupun batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akar itu tidak mengeluarkan batang-batang dan cabang-cabang yang bisa berdaun maka keringlah akar-akar itu dan hancurlah ia dalam tanah. Begitu pula maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat pengurangan dan aib dalam kesempurnaan dan keindahannya, sesuai dengan besar dan kecilnya atau banyak dan sedikitnya kemaksiatan tersebut.

Kemaksiatan juga akan menutupi mata hatinya.
Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin itu jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkan dan beristighfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah (dosa) maka bertambahlah (bintik hitamnya) sampai menutupi hatinya. Itulah ‘rain’ yang disebut oleh Allah dalam Al-Quran: ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin:14) [HR. Ahmad]

Pengaruh maksiat pada masyarakat

1- Hilangnya keberkahan dan rahmat Allah
Allah menjanjikan apabila penduduk satu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan dari bumi, Firman Allah
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al A’raf:96)

Demikianlah janji Allah, sebaliknya bila penduduk negeri tersebut tidak beriman dan bertakwa bahkan kemaksitan merajalela, niscaya murka Allah akan menghampiri mereka.

2 Terjadinya musibah yang dahsyat
Allah SWT berfirman:
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal:25)
Lebih jauh Rasulullah saw bersabda;
dari Abdullah bin Umar bin Khattab berkata: “Aku adalah salah satu dari sepuluh kaum muhajirin yang berada di sisi Rasulullah. Beliau menghadapkan wajahnya, lalu bersabda : “Wahai kaum muhajirin, ada lima perkara yang aku berlindung pada Allah agar kalian tidak menjumpainya. Tidaklah muncul perbuatan keji pada suatu kaum secara terang-terangan, melainkan mereka akan di timpa penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah ada di zaman sebelumnya …” .(HR Ibnu Majah)
ini adalah sebagian dari dampak maksiat. Masih banyak ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw , yang menjelasakan akibat negatif kemaksiatan, baik pada pribadi maupun masyarakat. Secara umum, dampak itu sesungguhnya sangat mengerikan. Karena itulah, marilah berusaha menghindarkan kemaksiatan sekuat tenaga kita. Dan marilah berusaha menimimalisasikan kemaksiatan di sekitar kita.