Memasuki bulan april ini, ada sebuah tradisi internasional yang terkenal, yakni April Mop. Dalam bahasa Inggris disebut juga dengan April Fools’ Day, yang artinya adalah hari bodoh di bulan April. Hari ini diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, teman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan mereka-mereka yang mudah ditipu.

Sangat mengherankan, kebohongan disahkan bahkan dijadikan semacam perayaan sampai tingkat internasional. Tetapi di beberapa negara Eropa dan Amerika, hal ini dianggap wajar. Bagi negara-negara muslim yang terbelakang semacam Indonesia, sepantasnya budaya ini diwaspadai. Sebab kebohongan dalam pandangan islam bukan persoalan remeh.

Bohong merupakan perkara yang berbahaya dan keburukan yang mudah menular dan menurun. Menular dari satu orang ke orang lain, menurun merupakan kebiasaan  yang dilakukan oleh generasi pendahulu dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Ia selalu berkembang setiap masa dan di mana saja kecuali orang-orang yang dirahmati Allah saja. Ia bisa merupakan dosa besar dan menjadi penyebab laknat Allah. Allah swt berfirman: “Ketahuilah sesungguhnya laknat Allah bagi orang-orang yang dusta”.

Definisi Bohong

Bohong dalam definisi para ulama’ adalah menngatakan sesuatu tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya, baik disengaja maupun tidak. Akan tetapi berdosa bagi orang yang sengaja dusta dan tidak berdosa orang yang tidak sengaja dusta.

Tanpa ada legalisasi pun, kini kebohongan itu sudah menjalar dan tersebar ke mana-mana. Lalu bagaimana kah jika kebohongan ini disahkan dengan mengatasnamakan budaya?

Saat ini informasi begitu cepat, internet dan dunia maya, serta berbagai jaringan telivisi sudah bisa ditonton seluruh dunia. Yang kita saksikan, banyak sekali informasi itu jauh dari kebenaran dan tidak diketahui kebenarannya. Semua itu karena informasi tidak lagi murni bicara secara objektif akan tetapi bercampur aduk dengan opini, misi dan kepentingan pemilik media. Bahkan tak jarang informasi sengaja dibuat-buat untuk kepentingan tertentu.

Dalam keseharian, bohong hampir menjadi bagian hidup yang sulit ditinggalkan. Iklan-iklan yang melebih-lebihkan keistemewaan suatu barang lebih dari yang sebenarnya. Bagi pelajar, banyak yang melakukan kecurangan dalam ujian sehingga nilai-nilai itu palsu. Para pejabat juga banyak yang sibuk dengan angka-angka palsu, proyek-proyek palsu dan janji-janji palsu.

Bahaya Kebohongan dalam Islam

Al-Qur`an sendiri sangat mewanti-wanti agar umat Islam tidak terjerumus ke dalam kebiasaan berdusta atau berbohong. Bukan hanya berpesan agar umat Islam tidak berbohong, bahkan Allah memberikan ancaman yang berupa;

1. Para pendusta tidak akan mendapatkan hidayah:

Allah swt berfirman:

إن الله لا يهدي من هو مسرف كذاب

Sesungguhnya Allah tidak menunjukkan orang yang berlebihan dan sangat berdusta (Ghafir:28).

Ayat ini menunjukkan bahwa bohong akan menyebabkan pelakunya tidak mendapatkan ataupun dijauhkan dari hidayah Allah, ia akan jauh dari jalan yang lurus karena ia telah memilih jalur yang bengkok yaitu jalan dusta. Persoalan tidak mendapat hidayah jangan dianggap persoalan remeh, sebab orang yang tidak mendapat hidayah berarti jalannya ke akhirat kelak akan senantiasa gelap dan sulit.

2. Ia dijauhkan dari rahmat dan mendapatkan laknat dari Allah, Allah swt berfirman:

لعنة الله على الكاذبين

Laknat Allah kepada orang-orang yang dusta. (Ali Imran:61).

Begitulah orang yang dusta akan mendapat laknat dari Allah swt, laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah, Rahmat inilah yang menjadi dambaan dan idaman setiap orang yang berhati bersih.

Selain di dalam al-Qur’an, juga kita dapati Rasulullah mengingatkan umatnya untuk menjauhkan diri dari kebiasaan berbohong. Banyak hadits yang menyebutkan keburukan-keburukan berbohong, seperti;

3. Dusta menyebabkan pelakunya menuju kejahatan.

Dari Abdullah ibnu Mas’ud ra berkata: Bersabda Rasulullah saw:

إِيَّاكُمْ وَاْلكَذِبَ فَإِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يَكْتُبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hindarilah oleh kalian kebiasaan bohong, Sesungguhnya kebohongan itu menunjukkan kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang tidak berhenti berdusta dan masih menjalankan dusta hingga tercatat di sisi Allah Kaddzab (Pendusta berat). (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa arti fujur (kejahatan) dalam hadits di atas: menurut ar-Raghib al-Isfahani artinya adalah: Pecah, atau melenceng. hal ini menunjukkan bahwa fujur adalah melenceng atau memecah dari agama yang lurus dengan melakukan maksiat.

4. Dusta adalah kunci kemunafikan.

Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash ra Rasulullah saw bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ خَالِصٌ ، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا : إِذَا حَدَثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Empat hal apabila ada padanya maka ia telah menjadi munafik murni, jikalau ada satu bagian saja dari mereka, maka ia mempunyai satu bagian kemunafikan hingga ia meninggalkannya. Apabila bicara berdusta, bila melakukan perjanjian ia khianat, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila berselisih ia jahat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi mengatakan: Makna hadits diatas adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat ini adalah mirip sekali seperti kaum munafik, Karena munafik sejati adalah orang yang menyembunyikan apa yang tidak sesuai dengan dhahirnya.

Memang ada sedikit beda, kalau orang beriman berdusta bukan dalam wilayah keimanan, tetapi dalam wilayah amal. Kalau orang munafik berdusta dalam masalah iman. Ia mengatakan beriman tetapi sesungguhnya di dalam hatinya tidak ada iman. Demikianlah Allah memberitahukan kepada kita di dalam al-Qur’an

ومن الناس من يقول آمنا بالله وباليوم الآخر وما هم بمؤمنين (8) يخادعون الله والذين آمنوا وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون (9) في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون

Dan di antara manusia ada yang mengatakan : “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (8) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak menyadarinya. (9) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (10) [al-baqarah:8-10)

5. Dusta adalah khianat paling besar.

Dari An Nawwas bin Sam’an ra Rasulullah saw bersabda:

كَبُرَتْ خِيَانَةٌ أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيْثًا هُوَ لَكَ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ كَاذِبٌ

Khianat besar adalah anda menceritakan kepada saudara kalian sebuah kisah lalu ia membenarkanmu sedangkan anda mendustainya. (HR. Ahmad dan Ath Thabrani)

6. Dusta menyebabkan keraguan,

Sebagaimana hadits Nabi saw:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رَيْبَةٌ

Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu menuju yang tidak meragukanmu, karena sesunguhnya kejujuran itu menenteramkan dan sesungguhnya dusta itu menimbulkan keragu-raguan (HR. At Turmudzi)

7. Tidak mendapatrkan berkah.

Dari Hakim bin Hizam ra dari Nabi saw bersabda:

البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كذاب وكتما مُحقت بركة بيعهما

Dua orang yang berjual beli bagi keduanya khiyar (pilihan) sebelum berpisah, jikalau keduanya jujur dan menjelaskan (barangnya dengan jujur) maka keduanya diberkahi dalam jual-beli mereka, dan apabila keduanya berdusta dan menutupi maka dihilangkanlah barakah jual beli mereka.

Itulah bahaya dusta mungkin masih banyak lagi bahayanya baik bagi pelakunya maupun bagi orang lain, cukuplah upah bagi pendusta adalah dianggap dusta walaupun ia jujur. Untuk itu berusahalah untuk tidak berdusta sedikit mungkin.