Hadis ke-2

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Terjemah

Dari Abu Hurairah ra, ia berakat; Rasulullah saw bersabda; Allah tidak menerima shalat seseorang di antara kalian yang berhadas hingga ia berwudlu

Kata Kunci;

لا يَقْبَلُ : Tidak menerima. Kalimat yang digunakan di dalam hadis ini menggunakan bentuk nafi (peniadaan). Bentuk nafi itu lebih dalam dan tajam daripada bentuk larangan, sebab peniadaaan (nafi) memuat makna larangan, dan lebih menekankan tiadanya nilai perbuatan yang dilarang.
أَحْدَثَ : berhadats, yaitu rusaknya thaharah baik karena sesuatu yang keluar dari pintu depan dan belakang, atau karena sebab-sebab lain.

Sekilas Tentang Rawi

Abu Hurairah terkenal dengan julukanya ini, hingga para ulama’ berbeda pendapat tentang nama aslinya dan juga nama ayahnya. Pendapat yang paling masyhur, namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi. Masuk ke dalam Islam tahun 7 Hijriyah, pada tahun yang sama dengan peristiwa perang Khaibar. Beliau dijuluki dengan Abu Hurairah karena ketika kecil suka bermain-main dengan kucing kecil. Abu Hurairah inilah shahabat yang paling banyaka meriwayatkan hadis. Konon hadis yang diriwayatkan darinya mencapai 5374 buah hadis. Wafat tahun 57 H.

Penjelasan Singkat

Hadis ini menjelaskan kewajiban berwudlu sebelum shalat adalah bagi orang yang berhadats. Jika orang berhadats nekat melakukan shalat tanpa berwudlu terlebih dahulu, maka shalatnya tidak diterima oleh Allah.
Meskipun di dalam hadits ini hanya disebutkan wudlu, tetapi bagi orang yang berhadats besar, ia wajib mandi. Disebutkan wudlu saja di dalam hadits ini karena kebanyakan hadats adalah hadats kecil.

Pelajaran dari hadits;

1- Shalat orang yang berhadats, baik hadats besar maupun hadats kecil tidak diterima, sehingga ia melakukan thaharah.
2- Hadats itu membatalkan wudlu dan shalat.
3- Jika terjadi hadats ketika sedang shalat, baik sengaja maupun tidak, maka shalatnya batal.
4- Apabila di tengah shalat ia mengalami hadats, maka ia tidak boleh melanjutkan shalatnya.
5- Tidak diterima shalatnya; maknanya adalah tidak sah, tidak mendapatkan pahala shalat bahkan jika shalatnya tidak diulangi ia berdosa.
6- Thaharah adalah syarat sahnya shalat seseorang.

Tambahan:

Secara sepintas, hadis ini nampak bertentangan dengan al-Qur’an, karena al-qur’an memerintahkan berwudlu setiap akan shalat, sementara hadits ini membolehkan shalat tanpa wudlu jika tidak berhadats. Dengan mendalami makna ayat dan hadis, bisa ditemukan jalan tengah pemahamanya, yakni bahwa hadis ini mengkhususkan perintah berwudlu di dalam al-Qur’an.

Ayat al-Qur’an memaksudkan agar dalam melakukan shalat dalam keadaan suci. Sementara asumsi awal, manusia ada dalam keadaan hadats. Karena itulah ayat menunjukkan makna umum. Tetapi realitasnya, ada orang yang sudah berwudlu sejak dari sebelum masuk waktu shalat. Dalam hal inilah hadits ini menjelaskan hukum keadaan orang yang demikian. Bahwa orang yang tidak dalam keadaan hadats tidak wajib berwudlu.

Dengan demikian, hadits ini bisa dipandang sebagai takhshish (menerangkan kekhususan) terhadap pernyataan umum di dalam al-Qur’an. Allahu a’lam