Hadis ke-3

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ رضي الله عنهم قَالُوا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  :  وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ  .

Terjemah

Dari abdullah bin Amr bin Ash, Abu Hurairah, dan Aisyah ra, mereka berkata; Rasulullah saw bersabda; Kecelakaan bagi tumit dari neraka

Takhrij

Hadits ini ada tiga shahabat yang meriwayatkannya, yakni Abdullah bin Amr bin al-Ash, Abu Hurairah dan Aisyah; Hadits yang diriwayatkan oleh Amr bin al-Ash; tercantum di dalam shahih al-bukhari kitab al-’Ilm (no. 60, dan 96) dan kitab al-Wudlu’ (no. 163) sedangkan Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya pada Kitab at-Thoharoh (no 241)

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, tercantum di dalam Shahih al-Bukhari pada kitab al-wudlu’ (165), dan di dalam Shahih Muslim terdapat pada kitab ath-Thaharah (no 242)

Dan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, tidak ada di dalam shahih al-Bukhari, tetapi ada di dalam shahih Muslim, Kitab at-Thaharah (no.240)

Sekilas Tentang Rawi

Hadis ini diriwayatkan oleh tiga orang shahabat, seorang di antaranya, yakni Abu Hurairah, sudah dijelaskan di muka, maka di sini hanya akan dijelaskan secara singkat dua orang saja, yakni Abdullah bin Amru bin Ash dan Aisyah;

1- Abdullah bin Amr bin al-Ash bin Wa’il bin Hasyim, al-Qurasyi as-Sahmiy. Dia dan ayahnya adalah sama-sama shahabat, tetapi Abdullah ini lebih dahulu masuk islam daripada ayahnya. Kemudian keduanya berhijrah sebelum Fathu Makkah. Abdullah ini adalah salah satu dari al-’Abadilah al-Arba’ah (empat sekawan Abdullah). Seorang yang cukup banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, bahkan telah menulis hadits sejak Rasulullah saw masih hidup. Tulisan hadits belau dinamakan ash-Shahifah ash-Shadiqah, sayangnya kitab itu tidak bisa ditemukan lagi saat ini. dan juga seorang mujtahid baik dalam ilmu maupun ibadah. Wafat pada bulan dzulhijjah tahun 63 H.

2- Aisyah; binti Abu bakar ash-Shiddiq, dia mendapatkan kunyah ummu Abdilah. Beliau dikunyahkan dengan anak saudara perempuannya yaitu Abdullah bin az-Zubeir. Beliau juga dipanggil dengan ummul mukminin karena beliau dalah isteri Rasulullah saw. Aisyah adalah seorang shahabat wanita yang cerdas, menguasai berbagai ilmu syara’, khususnya dalam masalah kewanitaan. Beliau juga meriwayatkan hadits yang cukup banyak. Bahkan Aisyah ini juga seorang mujtahid wanita yang dikenal oleh kaum muslimin. Wafat setelah tahun 50 H, ada yang menyebutkan tahun 57 H di Madinah, dan dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Kata Kunci;

وَيْلٌ : Kecelakaan, dan adzab. Ini adalah kata dalam bentuk masdar, tetapi tidak memiliki fi’il. Di dalam beberapa atsar disebutkan bahwa wail adalah nama lembah di dalam neraka, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Ibnu Hibban dari Abu Sa’id. Kata ini digunakan sebagai ancaman bagi orang yang menyimpang atau mengabaikan tuntunan Islam.

الأَعقاب : adalah bentuk jamak dari kata (عَقِبٍ ) Tumit, yaitu telapak kaki bagian belakang. Yang dimaksudkan adalah orang yang memilikinya, bukan hanya tumitnya. Hadis ini mengungkapkan sebagian anggota tubuh sedangkan yang dimaksudkan adalah seseorang

Asbab wurud

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو رضي الله عنه قَالَ : تَخَلَّفَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ سَافَرْنَاهُ فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا الصَّلاَةَ صَلاَةَ الْعَصْرِ ، وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا ، فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ : وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ . مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا .

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, ia berkata; Rasulullah tertinggal di dalam sebuah perjalanan yang kami tepuh, lalu beliau menjumpai kami ketika kami terburu-buru untuk menunaikan shalat ashar, dan kami berwudlu, lalu kami mengusap kaki kami. Maka beliau saw berseru dengan suranya yang lantang, Kecelakaan lah bagi tumit-tumit, dari neraka, dua atau tiga kali

وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ : رَجَعْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم  مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِيْنَةِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيْقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ الْعَصْرَ فَتَوَضَّؤُوْا وَهُمْ عُجَّالٌ ، فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوْحُ لَمْ يَمَسَّهَا الْمَاءُ ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

. Di dalam riwayat lain dikatakan, Kami bersama Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah, sehingga berada di mata air, yang ada di tengah perjalanan, ada satu kaum yang pada waktu sore hari terburu-buru untuk melaksanakan shalat sehingga mereka berwudlu dengan tergesa-gesa. Lalu kami sampai kepada mereka dan tumit mereka masih belang, karena belum tersentuh oleh air. Maka beliau bersabda; Kecelaanlah bagi tumit, dari neraka,

Penjelasan Singkat

Thoharoh memegang peranan sangat fital dalam menentukan sahnya shalat seseorang. Karena itulah wudlu ini harusnya diperhatikan oleh umat Islam, dan hendaklah ia berusaha untuk bisa melakukannya sesempurna mungkin. Ketidaksempurnaan dalam berwudlu menyebabkan wudlunya tidak sah, dan selanjutnya ibadahnya tidak diterima Allah. Shalat dengan wudlu yang tidak sah sama dengan tidak shalat, sehingga pelakunya celaka di akhirat kelak. Disebutkan tumit di dalam hadis ini bukan berarti perintah untuk memperhatikan tumit saja, tetapi karena kebanyakan orang kurang memperhatikan tumitnya.

Pelajaran dari Hadis

1- Kewajiban membasuh kaki jika tidak mengenakan khuf, bukan mengusap kaki.

2- Ancaman bagi orang yang sembrono dalam berwudlu sehingga tidak membasuh anggota wudlu dengan benar.

3- Tidak membasuh sebagian anggota wudlu menyebabkan wudlunya tidak sah, dan mengakibatkan shalatnya tidak sah, sehingga ia berdosa.

4- Kewajiban untuk memperhatikan kesempurnaan dalam membasuh seluruh anggota wudlu.

5- Kebanyakan anggota wudlu yang tidak terbasuh dengan sempurna adalah kaki, tepatnya yang tidak terbasuh adalah tumit.

6- Tumit adalah bagian kaki yang harus dibasuh dengan sempurna.

7- Boleh bersuara lantang ketika menyampaikan perkara yang penting

8- Disyari’atkan untuk mengulang pebicaraan dua atau tiga kali, pada bagian yang penting.

9- Tidak sempurna dalam membasuh anggota wudlu termasuk ke dalam dosa besar

10- penegasan bahwa setiap amal diberikan balasan.

11- Penegasan kepada keyakinan ahlussunnah wal-Jama’ah bahwa seorang itu diadzab ruh dan jasadnya.