عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رضي الله عنه ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا: فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ. وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةِ الْمَال» رواه مسلم وأحمد.

Dari Abu hurairah ra, bahwasanya ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan tuluslah kalian (tanashahu) kepada orang-orang yang diangkat oleh Allah untuk mengurusi urusan kalian. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (HR Muslim dan Ahmad)

 

Setiap umat pasti menginginkan sebuah tatanan masyarakat yang dilandasi dengan nilai-nilai keyakinannya. Orang Islam tentu menginginkan agar masyarakatnya diisi dengan nilai-nilai islam. Sebagaimana juga orang Komuis menginginkan agar masyarkatnya ditata dengan nilai-nilai kekomunisannya.

Rasulullah saw telah memberikan contoh dan teladan yang sangat komprehensif bagi umat Islam. Dalam membangun sebuah masyarakat pun Rasulullah telah memberikan petunjuk secara besar. Berikut adalah wasiat beliau dalam membangun masyarakat yang islami

Ibadah

Ibadah kepada Allah ini adalah tujuan diciptakannya manusia, sebagaimana firman Allah, “Dan tidak Aku cioptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahKu (adz-Dzariyat:51). Karena itulah persoalan ibadah adalah persoalan sentral umat islam. Sehingga masalah ini menjadi wasiat pertama Rasulullah dalam membangun masyarakat.

Apa sih ibadah itu?

Ibadah artinya adalah merendahkan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan penghormatan. Kata ini mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridlaiNya. Segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah, atau diperintahkan oleh NabiNya, maka itu termasuk ibadah. Jika Allah menciptakan kita di muka bumi ini untuk beribadah kepadaNya, maka merupakan pengkhianatan terbesar bagi manusia jika ia melalaikan tugas ini.

Di dalam hal ini Nabi saw bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun”.

Arti ibadah telah kita bahas, lalu apakah arti syirik?

Syirik secara bahasa artinya bersekutu. Tetapi secara syara’ maknanya adalah mengangkat tandingan bagi Allah dalam uluhiyahnya, rububiyyahnya, atau nama dan sifatnya.

Syirik dalam uluhiyah, bentuknya adalah jika seseorang melakukan ibadah tetapi tujuannya bukanlah untuk Allah. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah mengesakan Allah dalam peribadatan ini. Di antara syirik dalam bentuk rububiyyah adalah tidak mengesakan dlam perbuatan Allah. Contohnya adanya keyakinan bahwa seseorang bisa menghidupkan dan memaikan, dan ada manusia yang bisa melakukan apa-apa yang hanya dikuasai oleh Allah saja. Syirik dalam Asma’ wa shifat, di antaranya adalah memberikan sifat kepada seseorang dengan sifat yang selayaknya hanya milik Allah.

Syirik itu ada dua macam, syirik akbar (besar) dan syirik ashghar (kecil). Syirik ashghar, adaah segala sesuatu yang dilarang oleh Allah karena merupakan jalan menuju kepada terjadinya syirik akbar. Karena itulah di dalam al-Qur’an maupun hadits disebut dengan syirik, meskipun sesungguhnya belum sampai pada batas beribadah kepada selain Allah, seperti bersumpah dengan selain Allah.

Perbedaan di antara kedua macam syirik itu, yang akbar membatalkan keislaman seseorang, yang asghar tidak. Yang akbar menyebabkan kekal di neraka, yang ashghar tidak. Yang akbar menghapuskan selluruh amal, yang kecil hanya satu amal yang diikuti dengan syirik itu sajalah yang terhapus pahalanya. Yang akbar menyebabkan halal darah dan harta, sedangkan yang ashghar tidak. Yang akbar menyebabkan terlarangnya memberikan loyalitas secara mutlak, yang ashghar hanya larangan memberikan loyalitas pada kemaksiatan saja.

Mestinya cukuplah ancaman Allah bahwa dosa syirik tidak akan di ampuni sebagai peringatan untuk tidak melakukan perbuatan syirik, firman Allah

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa-syirik, dan Dia mengampuni dosa-dosa selain itu bagi orang yang Dia kehendaki” (an-Nisa’:48)

Persatuan

Wasiat rasulullah yang kedua adalah, “dan kalian semua berpegang pada tali Allah dan janganlah berpecah belah”. Perintah untuk berpegang kepada tali Allah maknanya adalah supaya menjaga persatuan yang dilandasi oleh agama Allah. Banyak perintah untuk bersatu ini di dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah (Ali Imron:103) (al-Anfal:46)

Namun sekarang ini muncul fenomena aneh. Kaum muslimin lebih terikat dengan ikatan kelompok daripada ikatan Allah. Mereka akan membela muslim yang menjadi kelompok mereka mati-matian, tetapi mengacuhkan musim yang bukan kelompok mereka.

Kapankah kaum muslimin meninggalkan kesetiaan dan permusuhan yang berlandaskan pada organisasi dan partainya? Kapankah kaum muslimin membangun loyalitas karena Allah? Kapankah mereka menyerukan seruan kepada agama Alah? Lalu membangun cinta dan benci karena Allah?

Banyak orang menyangka dirinya berda’wah kepada Allah, tetapi hakekatnya ia berda’wah kepada partainya atau bahkan kepada dirinya sendiri. Mereka sering menganggap bukanlah saudara jika belum bergabung kepada jama’ahnya. Bahkan tak jarang mereka menganggap, orang yang bukan anggota organisasinya tidak layak mendapatkan hak ukhuwwah. Padahal Allah telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah saudara”

Tetapi kadang-kadang kita dengar dialog sebagai berikut;

”Kamu kenal si fulan, kah?”

Pertanyaan itu dijawab, ”Apakah dia ikhwan?”

Jawabannya, ”Bukan, dia umum saja kok”

Tidakkah mereka ingat, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah saudara (ikhwan)”. Lalu mengapa mereka katakan seperti itu?

Inilah sikap yang memecah belah kaum muslimin, tetapi berkedok dakwah.

Taat kepada Ulil Amri

Adanya pemimpin yang mengurusi persoalan masyarakat adalah kunci tegaknya masyarakat yang tertib dan teratur. Tanpa adanya pemimpin, maka akan terjadi kekacauan di masyarakat. Karena itulah Rasulullah memerintahkan kaum muslimin agar mentaati para pemimpin, dan bersikap tulus (nasihat) kepada mereka.

Sabda Rasulullah saw, ”Dan tuluslah kalian (tanashahu) kepada orang-orang yang diangkat oleh Allah untuk mengurusi urusan kalian”.

Kata Tanashahu menurut al-Munawi, yaitu tidak menyelisihi, mendo’akan dengan kebaikan, memberikan dukungan dalam kebaikan, dan bersikap lemah lembut dalam memberikan teguran ketika mereka mengalami kekeliruan.

Selain hadits ini, banyak hadits lain ayat maupun yang memerintahkan kaum muslimin untuk taat dengan tulus kepada para pemimpin. Bahkan hingga pemimpin itu telah melakukan kedhaliman, anggota masyarakat tetap diperintahkan untuk bersikap baik kepada para pemimpin.

Di dalam hadits ini tidak disebutkan ”janganlah menyelisihinya” setelah memerintahkan taat kepada ulil amri. Hal ini bisa difahami sebagai isyarat kewajiban menyelisihi ulil amri dalam kemaksiatan. Karena jika seorang pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka masyarakat haram mentaatinya. Sebab taat kepada makhluk hanya diizinkan oleh Allah selama tidak bermaksiat kepadaNya. Allahu a’lam