Hadis ke-6

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ : إذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعاً .

“Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda; jika anjing minum di dalam bejana seseorang dari kalian maka basuhlah tujuh kali”.

وَلِمُسْلِمٍ :  أُولاهُنَّ بِالتُّرَابِ

Di dalam riwayat Muslim dikatakan, “Yang pertama dengan debu”

وَلَهُ فِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ : إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الإِناءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعاً وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ .

“Dan juga di dalam riwayat Muslim, dari Abdullah bin Mughaffal, bahwa Rasulullah saw bersabda; Jika anjing minum di dalam bejana maka basuhlah tujuh kali, dan lumurilah dengan debu pada kali yang kedelapan”.

Takhrij;

Hadits Abu Hurairah ra diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Kitab ath-Thaharah, Bab al-ma’ alladzi yughsalu bihi syu’rul-Insan (172)

Sedangkan Muslim meriwayatkan di dalam Kitab Thaharah, Bab Hukmi Wulughi al-Kalbi (279:90)

Adapun yang menggunakan redaksi ulahunna bit-turab diriwayatkan oleh Muslim (no. 279;91)

Adapun hadits dari Abdullah bin Mughaffal ra, diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kita bath-Thaharah, Bab Hukmu Wulughil-Kalbi, (280 :93)

Kata Kunci

ولَغَ :    minum dengan menggunakan ujung lidahnya untuk mengambil air. Demikianlah cara minumnya beberapa binatang buas seperti anjing kucing dan harimau.

عَفِّروهُ :    melumuri bejana dengan debu

Sekilas tentang rawi

Abdullah bin Mughaffal; Mughaffal ayah Abdullah ini juga seorang shahabat, yang meninggal menjelang Fathu Makkah. ada yang menyebutnya al-Mughaffal.

Abdullah ini semula tinggal di Madinah, tetapi kemudian berpindah ke Bashrah atas perintah Umar bin Khaththab agar bisa mengajarkan agama kepada penduduk bashrah. Lalu beliau menetap dan membangun rumah di sana. Beliau ikut serta dalam Bai’atur Ridlwan. Wafat tahun 59 H.

Penjelasan hadis:

Anjing termasuk binatang yang dinilai kotor oleh syara’, sehingga ketika ia menjilat bejana dan meminum air dari dalamnya, bejana tersebut harus dicuci dengan cara yang lain dari najis-najis lainnya. Rasulullah mengajarkan cara mencuci bekas jilatan anjing dengan menggunakan dua alat bersuci sekaligus, air dan debu. Benda yang terkena jilatan, atau air bekas jilatan dicuci sebanyak tujuh kali, yang pertama dengan disertai debu, lalu disiram sempai tujuh kali. Jika telah dilakukan demikian, maka bejana itu sudah suci.

Pelajaran dari hadis

1- Najis jilatan anjing adalah najis yang berat (mugholadloh).

2- Yang menjadi najis akibat jilatan bukan hanya jilatannya, tetapi juga sisa air atau sisa makanan anjing. Karena itulah di dalam riwayat Muslim diperintahkan untuk membuang sisa jilatan anjing

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ»

Dari Abu hurairah ra, bahsawannya ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Apabila ada anjing minum di dalam bejana seorang dari kalian maka tumpahkanlah ia kemudian cucilah tujuh kali (HR Muslim, no 279)

3- Jilatan anjing najis disebabkan oleh liur anjing, tetapi bulu dan anggota tubuh yang lain tidak najis

4- Cara mensucikan najis karena jilatan anjing adalah dengan dicuci tujuh kali.

5- Kewajiban mencampurkan air dengan debu, pada salah satu cucian.

6- Tidak benar menggantikan debu dengan yang lain, karena dhahirnya hadis demikian. Dan kebolehan menggunakan selain debu membutuhkan dalil tersendiri.

7- Cara mencuci najis termasuk aktifitas ta’abbudi (ibadah khusus), bukan ta’aqquli (berdasarkan rasio)

8- Anjing yang ditunjukkan oleh hadis bersifat umum, baik anjing untuk menjaga atau anjing untuk berburu.

9- Air yang hanya sedikit, menjadi najis jika kemasukan benda najis meskipun tidak berubah sifatnya.

10- benda-benda yang berkaitan dengan air jilatan anjing menjadi najis.

Masalah:

1- Di dalam hadis pertama disebutkan mencuci sebanyak tujuh kali, tetapi pada hadis kedua, disebutkan penggunaan debu pada kali kedelapan. Hal ini ditafsirkan berbeda-beda oleh para ulama’. Di dalam kitab Aunul Ma’bud diterangkan bahwa hadis Ibnu Mughaffal itu marjuh, dan hadits Abu Hurairah lebih kuat (rajih) karena diriwayatkan dari dua jalan, sedangkan Ibnu Mughaffal hanya satu riwayat saja. Sehingga yang diamalkan untuk mencuci najis jilatan anjing harus menggunakan hadis Abu Hurairah.

Selain itu, jika dilumuri dengan debu pada basuhan yang ke delapan maka tentu membutuhkan sekali lagi pencucian untuk menghilangkan debu, sehingga total bisa mencapai 9 kali cucian.

2- Ada sebagian ulama’ yang menqiyaskan babi kepada anjing, dan meganggap babi najis mughaladhah sebagaimana najis liur anjing. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah, karena di dalam hadis ini hanya disebutkan anjing, tidak ada keterangan tentang babi. Bukankah, di masa nabi saw sudah ada babi, bahkan hukum babi dijelaskan di dalam al-Qur’an, tetapi tidak ada penjelasan tentang najisnya babi seperti najis air liur anjing