Wasancara dengan Karnisa

(Karnisa) : Apa pandangan ustadz tentang krisis moral di zaman globalisasi ini?

(Ustadz Budi) : Di era globalisasi ini memang segala sesuatu mengalami perubahan secara cepat. Kalau di akhir abad 20, mengirim surat dari jakarta ke Solo masih membutuhkan waktu hitungan hari, kini dalam hitungan detik pesan bisa sampai, baik melalui sms, ataupun melalui e-mail. Semua itu terjadi karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi telah membuat berbagai hal yang sulit menjadi mudah dan enak. Sayang, kemajuan IPTEK ini tidak diiringi dengan kemajuan di bidang moral, bahkan moralitas bangsa ini mengalami perkembangan yang memprihatinkan. Moral dalam ilmu sosial dipahami sebagai aturan kebiasaan yang semula dibuat berdasarkan kesepakatan bersama oleh suatu kelompok sosial, yang kemudian dijadikan sebagai ukuran sikap dan tingkah laku yang dianggap baik dan dapat diterima di dalam melakukan interaksi, baik antara sesama anggota kelompok maupun dengan orang yang berada di luar kelompok. Tetapi sebagai umat Islam, tentu kita tidak semata-mata membangun definisi moral hanya dengan landasan sosial. Marilah kita berbicara moral dengan tinjauan islam, yaitu moral yang dibangun atas dasar wahyu, yang telah terinternalisasi ke dalam hati manusia yang meyakininya. Dan selanjutnya aturan wahyu itu dijadikan standar baik buruknya tingkah laku seseorang dalam kehidupannya.

Masyarakat yang sehat terbentuk oleh individu-individu yang memiliki moral yang sehat. Tingkat kesehatan moral masyarakat tergantung dari keterikatan masyarakat tersebut kepada aturan-aturan yang berlaku di dalam suatu masyarakat. Dalam masyarakat Islam, maka tingkat kesehatan moralnya tergantung dari sejauh mana aturan Islam ini dipatuhi. Jika sebuah masyarakat semakin taat kepada aturan islam, maka moralitas masyarakat tersebut makin tinggi dan berkualitas. Dan jika masyarakat semakin permisif terhadap penyimpangan dari aturan islam maka semakin mengkhawatirkan.

Dan kini istilah krisis moral ini layak disematkan pada beberapa kelompok masyarakat karena secara real kita saksikan norma-norma Islam tidak berlaku. Selain dari itu, masyarakat pun cenderung bisa menerima penyimpangan perilaku dari norma Islam ini sehingga tidak ada upaya yang signifikan untuk mengadakan perbaikan sesuai dengan norma dan aturan Islam.

Namun untuk sebagian masyarakat yang lain, istilah ini tidak bisa digunakan. Sebab krisis moral dalam arti yang sesungguhnya terjadi jika telah terpenuhi, minimal empat syarat berikut;

1- Jika nilai-nilai islam sudah banyak tereliminasi dari masyarakat.

2- Banyak anggota penting dalam masyarakat itu tidak lagi terikat dengan moral Islam.

3- Ikatan norma tidak lagi mampu menggerakkan perilaku mayoritas anggota masyarakat.

4- Tidak ada lagi penindakan terhadap orang yang melanggar norma secara sistematis dan terstruktur.

Tetapi secara umum, memang negara kita menghadapi krisis moral, jika dibatasi pada moral islam. Indikatornya, norma Islam sudah banyak diabaikan, meskipun dakwah islam cukup gencar. Para pemimpin negeri ini kurang peduli terhadap norma Islam. Yang menjadi landasan membangun negeri ini pun bukan semangat islam, tetapi semangat nasionalisme. Dan pelanggar aturan islam tidak ada sanksinya, karena undang-undang Islam belum bisa disahkan.

K: Menurut Ustadz, apa saja faktor yang menyebabkan munculnya krisis moral ini?

B: Pergeseran nilai-nilai hingga terjadi krisis moral di dalam suatu asyarakat adalah buah dari pergulatan berbagai hal. Secara garis besar kita sebut saja ada dua macam; yaitu

Pertama; faktor internal, yaitu faktor yang muncul dari anggota masyarakat itu sendiri. Jika kita boleh menilai, sesungguhnya masyarakat kita belum kuat memegang aqidah Islam. Masyarakat kita lebih terikat kepada warisan budaya daripada kepada ikatan norma Islam. Ikatan budaya ini sesungguhnya masih rentan dalam mengatasi konsep nafsu, karena budaya kita tidak memiliki konsep yang jelas dan tegas bagaimana mengendalikan nafsu.

Kedua; adalah faktor eksternal, yaitu munculnya kemajuan teknologi sehingga masyarakat ini bisa berinteraksi dengan masyarakat di berbagai belahan dunia. Dari sana mereka mendapatkan tawaran berbagai norma dari berbagai budaya dan peradaban. Tawaran-tawaran inilah yang menggoda hafsu manusia untuk meninggalkan norma-norma Islam.

Perlu kita ketahui bahwa secara sosial aturan-aturan moral merupakan produk dari interaksi di masyarakat. Karena itu lemahnya ikatan keyakinan Islam di dalam suatu masyarakat ketika berhadapan dengan berbagai tawaran nilai asing, maka masyarakat tidak akan menfilter nilai-nilai itu dengan spirit Islam. Lebih parah lagi jika masyarkat kita cenderung pragmatis, akan menilai manfaat dan tidaknya sesuatu, baik atau buruknya sesuatu hanya dari pandangan sesaat belaka. Akhirnya, norma-norma Islam di masyarakat akan semakin pudarnya dan tergantikan dengan nilai-nilai lainnya.

K: Apakah santri Assalaam sudah terkena krisis moral?

B: Saya kira terlalu prematur untuk mengatakan bahwa santri Assalaam sudah terkena krisis moral. Kita harus menyadari bahwa santri Assalaam ini masih berada di dalam masa perkembangan dan pembentukan. Selain itu masyarakat santri Assalaam bukanlah masyarakat real, tetapi masyarakat buatan yang diskenario untuk membentuk kader umat yang siap menghadapi tantangan global.

Sebuah kenyataan di dalam kehidupan santri, memang ada gejala terjadinya erosi moralitas. Namun dari keempat syarat di atas, baru pada point pertama saja muncul gejala yang layak diprihatinkan dan harus segera diambil langkah. Cukup banyak tanda-tanda yang bisa kita baca, seperti cara berpakaian yang masih cukup memprihatinkan. Berjilbab dengan bagus masih baru sekedar karena aturan pondok, belum menjadi kesadaran. Sehingga setelah lulus lalu memakai celana panjang, atau kaos ketat.

Kita juga saksikan adanya kecenderungan pergaulan yang permisif. Hubungan laki-laki dan perempuan cenderung longgar. Kecenderungan ini bisa dilihat dari jejaring sosial semacam facebook. Antar santriwan dan santriwati sudah saling berteman, saling memberi motivasi, saling curhat, bahkan berfoto bersama.

Namun sekali lagi ini belum bisa dikatakan sebagai bentuk krisis moral, karena tiga syarat selanjutnya masih cukup kuat mengawal. Buktinya, pelanggaran yang masih minimalis pun bisa terkena sanksi yang cukup berat, yakni dikeluarkan dari masyarakat santri

K: Apa dampak krisis moral dan bagaimana cara menanggulanginya

B: Istilah krisis moral memiliki cakupan yang sangat luas dan tingkat yang berbeda-beda. Karena itu jika berbicara dampak krisis moral harus dicermati lebih lanjut pada jenis moral yang dimaksud, beserta segala aktifitas yang berkaitan dengan moral itu. Selain itu juga harus dilihat seberapa parah krisis itu terjadi. Sebagai gambaran jika krisis ini dominan pada masalah perzinaan tentu dampak yang ditimbulkannya akan berbeda dengan dampak akibat dominannya minuman keras.

Mengingat masih umumnya pembicaraan ini, maka kita sebut saja dampak umum dari krisis moral adalah tersingkirkannya orang yang taat dari masyarakat, terjadi banyak kedzaliman, tidak terciptanya keamanan dan kenyamanan hidup di dunia, tertutupnya pintu berkah Allah, dan berkembangnya stress dan dan tekanan batin.

Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menanggulangi krisis ini, haruslah merupakan tindakan yang komprehensif di dalam sebuah masyarakat ataubahkan negara. Di antara hal penting yang mendesak untuk dilakukan adalah;

a- Perbaikan undang-undang, sistem hukum dan mekanisme penegakannya.

b- Adanya lembaga amar ma’ruf nahi munkar yang definitif.

c- Optimalisasi peran dakwah dan pendidikan, untuk menanamkan aqidah islam dan akhlak yang mulia.

d- Terkendalinya media massa agar tidak memblow up trend dan arus budaya yang menyimpang.

e- Teladan dari tokoh masyarakat dan para pemimpin negeri.

Tetapi kalau berbicara tingkat mikro, kita dan sekitar kita, maka kita harus menjadikan diri kita sebagai individu yang berkepribadian mantap. Kepribadian yang mantap inilah yang akan bisa mefilter arus budaya yang datang kepadan kita.

Allahu a’lam bish-Showab.