عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzar (ra), ia berkata, Rasulullah bersabda kepadaku, “Bertakwalah kamu kepada Alloh di mana pun kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Sekilas tentang Hadis

Hadis tersebut di atas adalah wasiat Rasulullah kepada Abu Dzar al-Ghifari. Tetapi di dalam riwayat Ahmad disebutkan wasiat yang mirip dengan hadis tersebut kepada Mu’adz bin Jabal.

عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا مُعَاذُ أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Mu’adz, bahwa Rasulullah saw bersabda kepadanya, hai Mu’adz, ikutilah kesalahan dengan kebaikan, agar ia menghapuskannya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baiklah (HR Ahmad)

Meskipun wasiat ini diucapkan Rasulullah kepada kedua shahabat beliau, Abu Dzar dan Mu’adz khususnya, namun makna yang terkandung di dalamnya berlaku juga untuk seluruh umat Islam. Wasiat Rasulullah ini menunjukkan betapa tingginya perhatian Rasulullah kepada kita. Ketinggian perhatian ini ditunjukkan dengan memberikan wasiat dalam tiga hal, tentang cara berinteraksi dengan Allah, berinteraksi dengan nafsu, dan berinteraksi dengan sesama manusia. Beliau sangat berharap agar kita agar kita bisa berinteraksi dengan benar kepada siapa saja sehingga kita menjadi manusia yang bisa merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Interaksi dengan Allah

Jika Anda memperhatikan kondisi dan situasi yang ada, niscaya Anda rasakan bahwa Anda tidak akan pernah bisa lepas dari mulkiyatullah dan qudratullah (kerajaan dan kekuasaan Allah). Ke mana dan di mana saja Anda berada, Allah senantiasa mengawasi Anda. Allah berfirman

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. (al-Mujadalah:7)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah selalu bersama dengan Anda. Di manapun Anda berada, Dia mengawasi Anda. Di mata Allah, tidak ada sesuatu yang bisa dirahasiakan, sehingga dia mengetahui persis bagaimana kondisi Anda. Maka, wasiat Rasulullah, bertaqwalah kepada Allah di mana saja Anda berada!

Sungguh ini adalah sebuah wasiat agung, yang diucapkan oleh hamba Allah yang agung pula. Bila kita bisa merealisasikan wasiat ini, niscaya kita bisa menduduki derajat Ihsan, sebagaimana penjelasan Rasulullah kepada malaikat Jibril,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Anda beribadah kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya, dan jika Anda tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia yang melihat Anda (HR Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu sadarilah, bahwa Allah senantiasa mengawasimu. Di saat Anda berada dalam kesendirian lalu terlintas di dalam fikiran yang tidak diketahui oleh siapapun, tetapi Allah pasti mengetahuinya.

إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui”. (Ali Imran:29)

Bila Anda sudah menyadari bahwa Allah selalu mengawasi keadaanmu, lalu ingatlah bahwa Dia kelak akan membalas semua yang Anda lakukan. Jika kita berbuat jahat, maka balasan yang buruk akan kita peroleh. Tetapi jika kita berbuat baik maka Allah pun akan mencurahkan rahmat (kasih sayang), kemuliaan dan karunianya kepada kita. Ingatan kita kepada Allah akan bisa mengendalikan sedemikian segala lintasan di dalam hati. Ketika muncul lintasan buruk di dalam hati, kita bisa meredam sekuat tenaga sehingga kita terjauh dari murka Allah.

لاَ يُؤَاخِذُنَا بِمَا تَحَدَّثَ بِهِ أَنْفُسُنَا مَا لَمْ نَعْمَلْ أَوْ نَتَكَلَّمْ

Allah tidak akan mengadzab kita karena sesuatu yang terlintas di dalam hati kita, selama kita belum melakukan atau mengucapkannya (Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Bagaimana pun lintasan pikiran buruk harus dihindarkan, meski jika masih hanya merupakan lintasan pikiran belum dihukum oleh Allah. Jika pikiran buruk itu tidak diantisipasi, bisa jadi syetan akan meningkatkan eskalasi serangannya sehingga menjadi syak (keragu-raguan) atau bahkan menjadi azam (keinginan kuat). Demikian, lama kelamaan perhtahanan kita pun akan jebol, dan kita melakukan kemaksiatan atau bahkan kekufuran.

Pertahanan jiwa yang harus dilakukan adalah dengan memelihara ketaqwaan. Makna dari taqwa di sini adalah tauhid yang bersih dan beramal yang shalih. Dilandasi dengan tauhid yang bersih, kita memelihara amal lisan kita, amal hati kita, dan amal anggota tubuh kita agar senantiasa sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Kecermatan kita untuk selalu berjalan di atas rel al-Qur’an dan sunnah merupakan kunci sukses untuk menjaga taqwa itu.

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (al-Isra’:36)

Dan tentu semua itu kita lakukan dengan diiringi do’a, semoga Allah berkenan menjauhkan kita dari segala macam goda syetan.

Itulah interaksi seorang hamba dengan Allah, yang diungkapkan dalam sebuah kata indah, taqwa. Itulah kunci kesuksesan manusia dalam mengarungi hidupnya di dunia, dengan senantiasa memelihara ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-larangannya.

Interaksi dengan diri sendiri

Adakah manusia yang tidak pernah berbuat salah? Berpijak pada hal inilah selanjutnya Nabi saw bersabda;

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Dan iringilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Sesungguhnya nafsu itu ada kecenderungan untuk mengajak seseorang melakukan keburukan.

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطََّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setiap anak Adam memiliki kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat

Kondisi kita, sebagaimana diberitakan oleh Allah di dalam hadis qudsi

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُذْنِبُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرَ لَكُمْ

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan dosa-dosa di siang dan malam hari, dan Akulah yang mengampuni dosa-dosa itu semua, maka minta ampunlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ampuni

Secara manusiawi kita pasti melakukan kekeliruan dan kesalahan, kita pasti melakukan amal buruk. Segala kekeliruan itu dilakkukan karena kelemahan dan kekurangan kita. Selain karena faktor tersebt juga karena ketidaktahuan dan kedhaliman kita.

إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً

Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (al-Ahzab:72)

Itulah sifat manusiawi, kurang, lemah, bodoh dan dhalim. Siapapun tidak akan pernah lepas dari sifat tersebut, kecuali orang-orang yang mendapat anugerah sifat ma’shum dari Allah . Dengan segala kekurangan tersebut, manusia pasti pernah melakukan kekeliruan di dalam hidupnya. Jika demikian, lalu apa solusinya

Solusi terbaik bagi orang yang melakukan kekeliruan adalah dengan bersegera menghapuskannya. Kalau tulisan gampang saja dihapus pakai setip, tip ex, atau penghapus lainnya, tetapi bagaimana kita menghapus kekeliruan kita? Rasulullah saw di menunjukkan bahwa melakukan amal kebaikan itu akan menghapuskan keburukan

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Dan iringilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Demikian juga Allah menyebutkan hal yang senada

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (Hud:114)

Inilah obat segala dosa, istighfar, taubat dan bersegera melakukan amal kebaikan. Inilah sabun untuk setiap dosa, kotoran yang pasti terjadi di dalam diri setiap manusia. Cara inilah yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah saw.

Apabila seseorang telah teggelam ke dalam kekeliruan dan dosa-dosanya, dan ia tidak mau bertaubat maka dosa kecil akan menjadi bernilai dosa besar, dan dosa besar akan menjadi pembatal keislaman, disebabkan karena menghalalkan yang diharamkan Allah. Atau mungkin hati kita akan terkunci mati oleh dosa-dosa dan kesalahan, sehingga kita tidak lagi bisa membedakan antara yang ma’ruf dengan yang mungkar. Jika sudah demikian berbagai peringatan tidak akan bisa menembus relung hati kita. Hati menjadi keras seperti batu, atau lebih keras lagi. Ketika turun tetesan hujan hidayah, tidak ada satu tetes pun yang sanggup menembus kekerasan hati. Na’udzubillahi min dzalik.

Dengan demikian, setiap manusia wajib menjaga saat, memanfaatkan waktu yang ada untuk bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Dia juga wajib menjaga kehidupan hati, supaya bisa merasa salah, merasa berdosa. Jika rasa salah telah hilang maka kemauan bertaubat pun tidak akan muncul. Dan dengan adanya sensitifitas terhadap kesalahan, ia akan mudah dan cepat bertaubat ketika melakukan kekeliruan.

Sensitifitas perasaan itu akan memelihara keimanan seorang manusia, sebagaimana sabda Rasul;

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ

Barangsiapa yang kebaikannya membuatnya gembira, dan keburukannya membuatnya bersedih maka ia mukmin.

Adanya rasa bahagia ketika melakukan ketaatan dan rasa sedih ketika melakukan keburukan menunjukkan sensitifitas perasaan. Sebaliknya, ketika sensitifitas itu semakin menurun, maka ia akan kesulitan membedakan kebaikan dan keburukan.

Hidupnya sensitifitas perasaan itu menunjukkan hidupnya hati. Berdasarkan alur di atas maka kifa fahami mengapa orang yang selamat di akhirat kelak hanya orang yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ () إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (asy-Syu’ara’:88-89)

Interaksi dengan sesama manusia

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik. (HR Tirmidzi)

Hadis ini memberikan kaidah penting dalam berinteraksi dengan sesama makhluk, agar kita berbuat baik dengan siapapun dan apapun.

Akhlak yang baik itu memiliki keutamaan yang sangat banyak, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw

ذَهَبَ حُسْنُ الْخُلُقِ بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

Akhlak yang baik itu telah membawa seluruh kebaikan dunia dan akhirat (Thabrani)

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغَ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak yang baiknya benar-benar akan mencapai derajat orang yang berpuasa di siang hari dan qiyamul lail di malam hari (Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Hibban)

إِنَّكُمْ لَنْ تَسْعَوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ تَسْعَوْنَهُمْ بِأَخْلاَقِكُمْ

Sesungguhnya kalian tidak akan bisa memuaskan manusia dengan (membelanjakan) harta kalian, tetapi kalian akan bisa memuaskan mereka dengan akhlak kalian yang baik (al-Hakim dan Ibnu Abi Syaibah)

Akhlak yang baik ini sesungguhnya tidak membebanimu sedikit pun, tetapi ia merupakan pintu kebaikan dan pintu pahala yang sangat agung. Rasulullah adalah sosok manusia yang paling baik akhlaknya

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (al-Qalam:4)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah memiliki akhlak yang agung kepada siapapun. Kepada Allah, kepada sesama makhluk, kepada siapapun yang bergaul dengan beliau, bahkan kepada binatang melata, akhlak Rasulullah adalah akhlak yang tinggi.

Dengan demikian Rasulullah menjadi manusia yang paling santun, paling utama, dan paling baik akhlaknya. Hingga kepada binatang yang tidak dipedulikan oleh kebanyakan manusia pun, beliau memberikan perhatian yang besar. Kemudian sifat Rasulullah yang utama ini diwarisi oleh para shahabat. Dan selanjutnya diwarisi lagi oleh para tabi’in. Dan kemudian diwarisi oleh para pengikut kebenaran, keutamaan dan kebaikan di kalangan ummat ini

Bila kita membaca biografi para shahabat, atau tabi’in niscaya kita akan menemukan sosok teladan yang baik. Akan nampak di mata kita berbagai bentuk akhlak yang baik, seperti toleran, kemuliaan, memiliki harga diri, memuliakan orang lain, cinta, pengorbanan dan lain-lain.

Dengan akhlak yang baik inilah Allah membukakan pintu hati umat manusia sehingga mereka menerima Islam dengan tangan terbuka, tanpa dipaksa. Para shahabat menaklukkan umat manusia bukan karena mereka membawa pedang dan memerangi mereka. Para shahabat setelah menaklukkan suatu wilayah tidak pernah memaksa penduduknya untuk memeluk Islam. Mereka yanga ingin menyampaikan da’wah Islam, dan melindungi da’wah Islam. Bagi mereka yang menolak ajaran Islam, selama tidak ada upaya untuk mengganggu da’wah Islam, dibiarkan. Mereka yang menolak ajakan untuk memeluk Islam ini pun diperlakukan dengan baik. Justru akhlak yang baik inilah yang membukakan mata hati manusia untuk menerima hidayah dan dengan suka rela memasuki agama ini.

Seluruh ummat beragama di dunia ini pasti membaca kitab mereka masing-masing. Ahli kitab juga membaca sejarah hidup tokoh-tokoh mereka, baik dari kalangan ahli ibadah ataupun intelektualnya. Aneh, mereka sudah cukup lekat dengan itu semua, tetapi mengapa tidak juga tumbuh atsar yang baik? Berbeda halnya dengan ummat Islam. Ketika datang generasi shahabat, generasi yang unik, generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah saw, maka luluh lah hati manusia seantero dunia karena menyaksikan model interaksi ini, yang dilandasi dengan akhlak yang baik, akhlak kenabian, akhlak para nabi dan rasul.

Apa yang mereka saksikan bukan sekedar lips service, pura-pura atau sandiwara. Yang mereka saksikan adalah hekekat kesadaran, hakekat keadilan, hakekat persamaan, dan hakekat kemuliaan manusia yang telah dianugerahkan oleh Allah. Membela yang lemah, kasih sayang dari orang yang lebih besar dan kuat kepada lebih kecil adalah hal yang telah hilang dari masyarakat saat itu. Setelah itu mereka melihat keagungan dan keutamaan perilaku para shahabat. Hingga akhirnya mereka tertarik kepada Islam, dan masuk Islam. Terlebih lagi, aqidah ini adalah aqidah yang agung dan original, sebab aqidah Islam adalah aqidah fitrah. Allahu a’lam