Beramal dalam Islam tidak boleh berprinsip asal beramal pasti diterima. Lalu semakin banyak amal maka akan semakin banyak pahala. Di dalam beramal, ada dua syarat pokok agar amal seseorang bisa diterima dan diberi pahala oleh Allah. Kedua syarat tersebut adalah;

1- Benar, sesuai dengan tuntunan syari’at Islam.

2-Amal itu dikerjakan dengan ikhlash, karena mengharap balasan dari Allah semata.

Menentukan dua syarat ini bukanlah otak-atik seseorang, tetapi sudah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Memang kadang-kadang penyebutannya tidak sefulgar kalimah tersebut. Dari berbagai redaksi yang ada, difahami, direnungkan, lalu dirumuskan ulang. Di antara ayat yang menunjukkan syarat diterimanya amal adalah;

Maka, barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan TuhanNya hendaklah ia melakukan amal shaleh dan janganlah menyekutukanNya dalam beribadah kepadaNya dengan seorang pun (Al-Kahfi;110)

Ayat ini menyebutkan orang yang rindu kepada Rabbnya, dan ia ingin bisa bertemu muka denganNya. Yang bisa bertemu muka dengan Allah adalah orang mukmin yang diridlaiNya, kelak di sorga akan bertemu dengan Allah; yang dilakukan oleh orang yang rindu kepada Allah adalah melakukan amal shalih, amal yang sesuai tuntunan syari’at, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, tidak riya’ atau sum’ah, apalagi syirik besar.

Agar amal sesuai benar dengan tuntunan Rasulullah saw, maka kesahihan sebuah hadis, apakah benar-benar berasal dari Rasulullah saw, perlu dipastikan. Apabila hal ini tidak dilakukan, bisa jadi amal kita akan menyeleweng karena memegangi hadis yang tidak berasal dari Rasulullah saw. Hadis yang dibuat oleh musuh Islam, atau orang bodoh, tetapi dianggap sebagai hadis dan tidak ada penelusuran keshahihannya. Akibatnya adalah melakukan ibadah tidak mengikuti tuntunan Rasulullah saw.

Di tengah masyarakat, ternyata sangat banyak hadis yang keasliannya dari Rasulullah saw diragukan. Demikian juga hadis-hadis yang berkaitan dengan bulan Ramadlan. Karena itu agar ibadah kita murni, kita perlu mengenali hadis-hadis dla’if ini untuk kita jauhi, dan kita bersihkan dari kehidupan kita.

Berikut adalah beberapa hadis tentang ramadlan yang masyhur telah di masyarakat, saying ternyata hadits tersebut palsu dan dla’if;

Pertama

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ ، لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أََنْ يَكُونَ السَّنَةَ كُلَّهَا

Andaikata seorang hamba mengetahui apa yang ada di dalam bulan Ramadlan, niscaya ummatku mengharap agar setahun itu seluruh bulannya adalah Ramadlan

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah, di dalam sanad hadis ini ada Jarir bin Ayyub. Al-Bukhari menilainya dengan, “Munkarul hadits”, an-Nasa’i dan ad-Daruquthni meilainya dengan “Matruk”.

Dengan kelemahan ini Syaikh Mushthafa al-A’dhami menilainya dla’if, atau bahkan maudlu’ (palsu). Ibnul jauzi juga memasukkan hadis ini ke dalam kitab al-Maudlu’at (hadis-hadis palsu)

Kedua

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Sesunguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah mewajibkan puasa ramadlan atas kalian. Dan aku menyunnahkan bagi kalian qiyamnya, maka barangsiapa berpuasa dan mendirikannya karena iman dan mengharap pahala, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya

Hadits ini terdapat di dalam Sunan an-nasa’I, Sunan Ibnu Majah dan Musnad Imam Ahmad. Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama an-Nadlr bin Syaiban, dia dinilai layyinul hadits, sehingga al-Bukhari menilainya dengan, “haditsnya tidak shahih”

Meskipun secara sanad hadis ini tidak shahih, tetapi makna yang dikandung oleh hadis ini shahih. Ini bisa dibandingkan dengan ayat ataupun hadis yang lain. ayat yang menunjukkan wajibnya puasa adalah

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa” (al-Baqarah;183)

Adapun hadis yang shahih menjelaskan keutamaan siyam dan qiyam ramadlan adalah;

مَنْ قَامَ رَمَصَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Siapa yang mendirikan shalat di malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (muttafaq alaih)

Di dalam hadis lain diungkapkan

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramaldan karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّال خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Barangsiapa berpuasa Ramadlan dan mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya

Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam Mu’jam al-Awsath. Di dalam sanad terdapat rawi bernama Maslamah bin ali al-Khasyani, rawi ini dinilai dla’if oleh para ahli hadis. An-Nasa’id dan ad-Daruquthni menilainya matrukul hadits.

Adapun hadis shahih tentang hal ini adalah

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa pada bulan ramadlan kemudian diikuti dengan bulan sysawal maka ia seperti berpuasa sepanjang masa (HR Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Keempat

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّى فِيْ رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكَعَةَ وَالْوِتْرَ

“Sesungguhnya Nabi saw shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan ditambah witir.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Awsath dan dalam Al-Mu’jamul Kabir)

Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam Mu’jam al-Ausath dan Mu’jam al-Kabir, tetapi ath-Thabrani sendiri berkata: “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Hakam kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dengan sanad ini saja.” Sementara itu di dalam kitab Nashbur Rayah dijelaskan: “Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adalah rawi yang lemah, sebagaimana disepakati oleh ahli hadis.

Adapun hadis shahih dalam masalah tarawih ini diriwayatkan dari Aisyah ra, beliau pernah ditanya tentang shalat Tarawih yang dilakukan oleh rasulullah saw, maka beliau menjawab;

مَا كَانَ يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ..

“Tidaklah (Rasulullah saw) melebihkan (jumlah rakaat) pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat.” (HR. Al-Bukhari)

Kelima

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.

Bahwa nabi saw apabila telah berbuka beliau membaca, Allahumma laka sumtu… (Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan dengan rizkiMu aku berbuka)

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya. Hadis ini diriwayatkan oleh Mu’adz bin Zuhrah, dia bukan seorang shahabat, melainkan seorang tabi’in tetapi menyebutkan hadis ini dari Rasulullah saw. Karena di dalam sanad tidak disebutkan shahabat yang meriwayatkan hadis ini, maka hadis ini bernilai dla’if. Syaikh al-Albani mengatakan, “Sanad hadits ini dhaif, karena disamping hadits ini mursal, terdapat pula di dalamnya seorang rawi yang majhul (tidak dikenal) yaitu Mu’adz (bin Zuhrah)”

Di dalam lafal yang lain ath-Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik;

كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Nabi saw apabila telah berbuka beliau membaca do’a: Bismillah… (Dengan nama Allah, ya Allah hanya kepadaMu aku berpuasa, dan atas rizkiMu aku berbuka)

Di dalam sanad hadis ini ada rawi yang bernama Sulaiman bin Amru, rawi ini dinilai dl’if oleh ahli hadis. Sementara gurunya yang bernama Dawud bin Zuburqan, juga ada dalam sanad hadis ini dinilai matruk. Karena itulah hadis ini juga dla’if, dan tingkat kedla’ifannya termasuk parah, sehingga tidak bisa mengangkat hadis yang serupa menjadi hasan lighairihi.

Adapun hadis shahih yang mengajarkan bacaan dzikir buka adalah;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Rasulullah saw apabila telah berbuka beliau membaca: dzahabadh-dhama-u…. ( “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahala in sya Allah) (HR Abu Dawud)

Do’a ini dibaca setelah minum atau berbuka puasa. Dari kata afthara yang artinya telah berbuka, dan dari makna kata yang terkandung di dalam do’a, bisa difahami bahwa do’a dibaca setelah berbuka. Adapun sebelum berbuka cukup dengan membaca bismillah, sebagaimana ditunjukkan oleh keumuman hadis

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيـَـقُلْ بِسْمِ اللهِ

“Apabila salah seorang dari kalian makan makanan maka ucapkanlah “Bismillah” (HR. At Tirmidzi)

Keenam

صُومُوا تَصِحُّوا

Berpuasalah, niscaya engkau akan sehat.

Hadis ini adalah potongan dari hadits yang dikemukakan oleh ath-Thabrani di dalam Mu’jam al-Ausath

اغْزُوا تَغْنَمُوا، وَصُومُوا تَصِحُّوا، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا

Berperanglah kalian akan mendapatkan ghanimah, berpuasalah kalian akan sehat dan bersafarlah niscaya kalian akan mendapatkan kecukupan

Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam Mu’jam al-Awsath, di dalam sanadnya terdapat Zuhair bin Muhammad. Penjelasan yang paling lengkap tentangnya diberikan oleh Abu Hatim, beliau menilai Zuhair ini pada asalnya jujur, tetapi hafalannya buruk, maka jika ia meriwayatkan dengan hafalannya maka akan banyak mengalami kekeliruan, dan jika meriwayatkan dengan tulisannya maka hadisnya baik.

Hadis-hadis yang diriwayatkannya dari tokoh di Syam lebih munkar dari yang diriwayatkan dari tokoh di Iraq karena buruknya hafalannya. Sementara itu ia mengambil hadis ini dari Suhail bin Abi Shalih, tokoh hadis yang berasal dari Madinah, sehingga ketika itu ia belajar dengan mengandalkan hafalannya maka hadisnya adalah dla’if.

Ketujuh

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Awal bulan ramadlan adalah rahmah, pertengahannya adalah ampunan (maghfirah) dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka

Syaikh al-Albani menuyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh al-Uqaili di dalam adl-Dlu’afa’, Ibnu Adi, al-Khathib, ad-Dailami dan Ibnu Asakir, dengan jalur sanad dari Salam bin Suwar, dari Maslamah bin As-Shalt, dari Az-Zuhri dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Persoalannya terletak pada Salam bin Sulaiman bin Suwar, dia dinilai munkarul hadits. Sementara gurunya yang bernama Maslamah oleh Ibnu Abi Hatim dinilai matrukul hadits. Sehingga hadis ini munkar.

Yang semakna dengan hadis ini tetapi ada perbedaan lafal, disebutkan di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dan Syu’abul Iman al-Baihaqi di dalam sebuah hadis yang panjang. Sanad hadis tersebut adalah yusuf bin Ziyad, dari Hammam bin Yahya, dari Ali bin Zaid bin Ja’dan, dari Sa’id bin al-Musayyib, dari Salman, dari rasulullah. Tetapi sanad hadis tersebut juga tidak sah, karena ada rawi yang bernama Yusuf bin Ziyad dan Ali bin Zaid bin Ja’dan. Yusuf bin Ziyad Dla’if sekali, dan Ali bin Zaid dla’if. Maka secara keseluruhan, hadis seperti ini adalah dla’if.

Kedelapan

الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

Puasa adalah setengah dari kesabaran

Teks tersebut adalah potongan dari hadis yang lebih panjang, lengkapnya hadis tersebut adalah

الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ لِكُلِّ شَىْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab Sunannya, dan oleh al-Qudla’i di dalam kitab Musnad asy-Syihab, dengan sanad dari Musa bin Ubaidah, dan Jumhan, dari Abu Hurairah. Musa bin Ubaidah dinilai dla’if oleh para Ulama’. Imam Ahmad mengatakan, janganlah kamu tulis hadis dari Musa bin Ubaidah, saya juga tidak pernah menulis hadis darinya sedikit pun, karena dia munkarul hadis. Tetapi sebagian ulama’ mengatakan, hadisnya tentang hal-hal yang menghaluskan hati boleh ditulis. Ungkapan boleh ditulis ini bukan menunjukkan kesahihan, tetapi menunjukkan bahwa tingkat kedla’ifannya tidak parah. Meskipun tidak parah, hadis ini tidak bisa menjadi hujjah.

Kesembilan

شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَ اْلأَرْضِ ، وَ لاَ يُرْفَعُ إِلَى اللهِ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

Bulan Ramadlan tergantung di antara langit dan bumi, dan tidak dinaikan kepada Allah melainkan dengan zakat fitri

Di dalam kitab al-Jami’ush Shaghr disebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Sahin di dalam kitab at-Targhib. Sedangkan Ibnu al-jauzi menyebutkan di dalam kitab al-’Ilal al-Mutanahiyah, dan menjelaskan bahwa hadis ini dla’if, karena di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin ’Ubaid. Tokoh ini tidak dikenal identitasnya (majhul). Disamping adanya kelemahan pada sanad, matan hadis ini pun rusak.

Tampak dengan jelas bahwa antara puasa dan zakat adalah dua ibadah yang berbeda, dan diterima atau tidaknya puasa tidak ada hubungannya dengan zakat fitri. Kaidah yang berlaku tentang diterima atau tidaknya suatu amal, adalah ikhlas dan mutaba’ah. Selama puasa dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan nabi, in sya’Allah diterima oleh Allah meskipun tidak membayar zakat, misalnya karena tidak mampu. Tetapi hadis ini sering dijadikan dalil untuk mendorong kaum muslimin menunaikan zakat fitri. Dan dengan penuh ketakutan akan tidak diterimanya puasa yang telah dilakukan maka kaum muslimin menunaikannya.

Kesepuluh

مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَيْ الْعِيدِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Barangsiapa menghidup-hidupkan dua malam hari raya hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati mati

Hadis ini disebutkan oleh Ibnu Nu’aim di dalam Ma’rifatu shahabah, dengan sanad Marwan bin Salim dari Ibnu Kardus, dari ayahnya, dari Rasulullah saw. Tetapi sanad ini tidak sah karena Marwan bin Salim munkarul hadis, dan Ibnu Kardus mastur. Dengan parahnya kelemahan dua rijal ini maka hadis ini bisa dikelompokkan ke dalam hadis palsu.

Selain hadis dengan ungkapan di atas, ada beberapa ungkapan lain yang ditampilkan di dalam riwayat yang lain, yaitu

مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى ، لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Barangsiapa shalat pada malam hari raya fitri dan hari raya adlha hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati mati

Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam Mu’jam al-Ausath, dari Umar bin harun, dari Tsaur, dari Khalid bin Ma’dan dari Ubadah bin Shamit. Umar bin harun dinilai matruk, bahkan ia tertuduh memalsukan hadis, sehingga hadisnya dinilai palsu.

مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلَّهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Barangsiapa yang melakukan qiyam pada dua malam id (hari raya) karena Allah dan karena mengharap pahala dari Allah, hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati mati

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah; dari Baqiyyah bin al-Walid, dari Tsaur. Baqiyyah ini orangnya dinilai tsiqah selama meriwayatkan dari tokoh-tokoh yang tsiqah, tetapi ia suka melakukan tadlis (yaitu menyambungkan sanadnya yang terputus sehingga seolah-olah sanadnya bersambung). Sementara itu Ibnu Majah menyebutkan Baqiyyah meriwayatkan dari Tsaur dengan ungkapan ’an (dari). Karena Baqiyyah termasuk tokoh yang mudallis, maka ungkapan ini menunjukkan ketidaksambungan sanadnya, sehingga hadisnya dla’if.