Arsip Naskah taushiyah di harian JogloSemar, 11/08/2010 M

Bulan Ramadlan kini telah hadir kembali. Meskipun harus menjalani kewajiban yang terbilang berat, kaum muslimin menyambut kehadiran bulan ini dengan suka cita. Ramainya masjid untuk shalat tarawih, geliat malam dini hari untuk makan sahur, jama’ah subuh dan kuliah pagi, semua itu menandai semangat menyambut bulan yang penuh berkah.

Kaum muslimin layak bergembira dengan segala beban di bulan ini, karena endingnya adalah untuk meraih taqwa, sebagaimana telah diinformasikan di dalam Al-Qur’an (2:183). Sedangkan taqwa itu diyakini sebagai indikator kemuliaan seseorang di sisi Allah (49:13). Jika taqwa itu benar-benar bisa diraih, akan banyak fasilitas yang diberikan oleh Allah, seperti solusi atas segala problem, kesejahteraan sosial, dan yang tertinggi adalah masuk ke dalam sorga.

Kebahagiaan kaum muslimin mengupayakan taqwa sudah menjadi fenomena. Namun ada persoalan besar di hadapan kita, benarkah taqwa bisa kita peroleh di akhir Ramadlan ini? Inilah pertanyaan kunci yang harus dijawab dengan bukti, bukan hanya dengan kata-kata.

Arti Taqwa

Di dalam al-Qur’an tidak ada definisi taqwa yang spesifik, sehingga kaum muslimin berbeda-beda dalam mendefinisikannya. Ada yang mengartikan dengan takut kepada adzab Allah, ada pula yang mengartikan dengan berhati-hati. Pendapat yang paling masyhur adalah menjauhi seluruh larangan dan melaksanakan perintah Allah.

Ketaqwaan yang hendak dibentuk melalui puasa ini bukanlah sebuah sifat ad hoc, yang bertahan hanya selama bulan Ramadlan ini saja. Tentu saja ketaqwaan itu harus hidup sepanjang usia. Sedangkan Ramadlan ibarat charge saja, agar ketaqwaan tidak sampai drop.

Sebagai ilustrasi, di bulan ramadlan, seorang muslim sangat berhati-hati memperhatikan waktu makan. Ia tidak akan buka sebelum adzan maghrib dikumandangkan. Dan ia akan mengakhiri sahurnya ketika fajar terbit. Ini merupakan bentuk disiplin terhadap firman Allah, “Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.” (al-Baqarah:187).

Pembentukan Disiplin

Memang kebiasaan tersebut hanya dilaksanakan pada saat berpuasa saja, karena di luar waktu berpuasa tidak ada larangan demikian. Namun semangat untuk mentaati aturan seperti fenomena tersebut harus selalu hidup di dalam diri muslim. Sepanjang hari dalam seluruh hidupnya harus dibangun semangat mentaati aturan Allah, itulah taqwa.

Disiplin dalam istilah manajemen modern bisa dissandingkan dengan kata taqwa dalam Islam. Mungkin tidak tepat betul, tetapi beberapa aspek kesamaan di antara keduanya. Salah satunya adalah pada aspek ketaatan.

Apabila saat puasa seseorang merasa harus disiplin sedemikian rupa, mestinya terhadap hal-hal lain disiplin itu bisa dilakukan. Tetapi sayang di tengah umat Islam ini muncul pemahaman parsial terhadap Islam. Yang dianggap ajaran Islam hanya ibadah, sedangkan amanah sosial bukan Islam. Akibatnya, kalau puasa harus disiplin tetapi dalam urusan amanat rakyat boleh tidak disiplin. Atau bahkan ia merasa yang harus ditaati hanyalah aturan Allah, sementara tugas di kantor bukan aturan Allah?

Tidakkah ia ingat bahwa Allah telah berfirman, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (An-Nisa’:58).

Dengan itu, bukankah disiplin dalam menunaikan amanat, meskipun dalam urusan dunia, adalah bagian dari perwujudan ketaatan kepada Allah. Jika demikian, akankah puasa kita tahun ini sanggup mendorong untuk selalu berdisiplin?