Arsip Taushiyah di Harian JogloSemar, 16/08/2010 M

Berkah Ramadan bagi bangsa Indonesia adalah sesuatu yang sangat nyata. Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Sukarno dan didampingi oleh Hatta, terjadi bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 H.

Sepintas, proklamasi 17 Agustus adalah peristiwa politik biasa, tanpa ada semangat ketuhanan. Namun jika memahami watak masyarakat Indonesia yang kental dengan simbol, peristiwa ini ternyata sarat dengan semangat ketuhanan.

Dipilihnya tanggal 17, menyimbolkan jumlah rekaat shalat dalam sehari semalam. Dipilihnya hari Jum’at, karena hari ini dipandang baik oleh umat Islam, mayoritas penduduk Indonesia. Apalagi di bulan Ramadan, bulan yang penuh dengan berkah.

Berkah ini begitu disadari oleh founding fathers kita. Hingga dalam pembukaan UUD 45 disebutkan, “Atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Di sini ditambahkan kata rahmat karena pada sepuluh hari pertama bulan Ramadan dipercaya penuh dengan rahmat Allah.

Sayang, dalam perjalanan sejarah bangsa ini hari proklamasi dan tahun hijriyahnya tidak lagi disebut. Yang biasa disebutkan hanya tanggal, bulan dan tahun masehi, yang dinilai netral agama. Kebiasaan ini telah menyebabkan masyarakat kehilangan pemahaman terhadap simbol dibalik peristiwa proklamasi kemerdekaan. Dan masyarakat juga kehilangan sense terhadap berkah dan rahmat Allah dalam kemerdekaan itu.

Dampak selanjutnya, dalam mengisi kemerdekaan nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan semakin dijauhkan kehidupan masyarakat. Memang, pelajaran agama tetap ada di dalam kurikulum sekolah. Tetapi kebijakan yang bernuansa ketuhanan dialienasikan. Bahkan tak jarang orang yang kuat beragama dan hendak memberi corak keagamaan dalam pembangunan mendapatkan stigma buruk.

Inilah sikap bangsa kita yang kurang pandai bersyukur. Ketika merdeka disebutlah nama Allah, tetapi setelah merdeka Allah tidak lagi disebut-sebut. Karena rahmat, berkah dan nikmat Allah ditinggalkan maka Allah tidak memberikan karunia yang lebih banyak lagi. Bisa jadi inilah akar masalah mengapa negeri kita semakin tertinggal dari bangsa lain. Firman Allah

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu ingkari (nikmatKu), Maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. (Ibrahim:7)

Bukan hanya tertinggal, bahkan banyak peristiwa menyedihkan menimpa negeri ini. Tingginya angka korupsi, semakin merebaknya pornografi dan kerusakan moral. Ditambah lagi berbagai bencana yang datang silih berganti. Semua itu adalah akibat dari teralienasinya syari’ah Allah dari bumi pertiwi ini. Allah berfirman, ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (ar-Rum:41)

Ramadan adalah saat untuk menanamkan ketaqwaan. Juga saat yang tepat untuk bertaubat dari segala kesalahan. Inilah saat yang tepat untuk memperbaharui tekad dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia, dan membangun negeri berdasarkan ketaqwaan kepada Allah. Jika negeri dibangun berlandaskan ketaqwaan, maka Allah pun menjanjikan berkah dan kesejahteraan bagi penduduknya.

Jika sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-A’raf:96)