Arsip Taushiyah di Harian JogloSemar, 23/08/2010 M

Di antara keistimewaan bulan Ramadan adalah, bulan turunnya Alqur’an. Fakta sejarah ini bukan hanya dicatat oleh manusia, yang saat itu belum suka catat-mencatat. Bahkan yang mencatatnya adalah Sang Pencipta manusia, dalam firmanNya “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (al-Baqarah:185)

Alqur’an adalah kitab panduan hidup manusia, jalan yang lurus, pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Kitab inilah yang telah menyatukan bangsa Arab yang terpisah-pisah menjadi sebuah kekuatan dunia yang tak bisa dilupakan sepanjang sejarah. Kitab ini pula yang akan membimbing manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Begitu penting nilai Alqur’an dalam hidup Rasulullah saw. Maka di bulan ini beliau selalu memperingati turunnya Alqur’an. Namun bukan dengan seremonial, festival ataupun seminar. Beliau memperingati turunnya Alqur’an sepanjang bulan dengan memperbanyak membacanya dan selalu memperbaiki bacaannya di hadapan malaikat Jibril.

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw, adalah orang yang paling pemurah, dan lebih pemurah lagi di bulan Ramadan ketika bertemu Jibril, beliau bertemu setiap malam bulan Ramadan membimbing bacaan Alqur’an Rasul saw. Dan Rasulullah adalah orang yang sangat pemurah dalam kebaikan lebih dari angin yang berhembus” (HR Bukhari)

Mengomentari hadis ini, Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “Hadis ini memberikan dorongan untuk mempelajari Alqur’an di bulan Ramadan, mengadakan majelis untuk itu, dan mengoreksikan bacaan kepada orang yang lebih ahli dalam bacaan Alqur’an”

Tradisi ini selalu dilestarikan oleh para shahabat, tabi’in dan para pengikut beliau. Utsman bin Affan, jika memasuki bulan Ramadan beliau meningkatkan frekwensi bacaan Alqur’annya. Beliaupun berkata, “Andaikata hati manusia itu bersih, niscaya ia tak akan pernah kenyang dengan bacaan Alqur’an.

Imam Malik, apabila memasuki bulan Ramadan maka beliau letakkan kitab hadits dan juga beliau tinggalkan majelis-majelis pengajiannya, lalu beliau menghadap mushaf dan membacanya berulang-ulang.

Demikianlah para pendahulu umat ini memperhatikan Alqur’an. Maka selayaknya kita melanjutkan tradisi tersebut semampu kita. Semampu kita bukan semau kita, harus ada keinginan kuat dan usaha yang serius untuk menunjukkan kemampuan. Memang kondisi orang berbeda-beda kemampuannya. Tetapi perhatian terhadap Alqur’an di bulan ini tidak boleh surut. Minimal, selama bulan ini harus bisa mengkhatamkan sekali.

Namun perlu diingat bahwa kitab ini bukanlah sekedar harus dibaca. Fungsi sebagai petunjuk hidup tidak akan terealisir hanya dengan dibaca. Alqur’an akan benar-benar berfungsi sebagai petunjuk apabila kandungannya dipraktikkan. Untuk itulah kita harus faham apa yang dikandungnya. Firman Allah, ”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (shad:29)

Frase “supaya mereka mentadabburi”, maksudnya agar ummat Islam ini berupaya memahami makna-maknanya dan beramal dengannya. Tidak mungkin bisa beramal dengan Alqur’an kecuali setelah tadabbur. Tidak ada tadabbur tanpa memahami maknanya. Melalui tadabbur inilah akan diperoleh ilmu, sedangkan amal merupakan buah dari ilmu.

Semoga kita termasuk orang yang sanggup mengamalkan Alqur’an dalam hidup kita