Berkenaan dengan Liburan santri PPMI Assalaam, maka para santri pun berpulangan ke tempat yang jauh. Untuk itulah tulisan singkat ini semoga bisa menjadi acuan dalam menjalani ibadah selama dalam perjalanan.

1- Shalat Dalam Perjalanan

Orang yang safar (dalam perjalanan) disyari’atkan untuk mengqoshor shalatnya, yaitu menyingkat shalatnya yang empat rekaat menjadi dua rekaat. Dia boleh mulai mengqoshor jika telah keluar dari wilayah kotanya. Firman Allah


Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu). (An-Nisa’:101)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ الصَّلَاةَ أَوَّلَ مَا فُرِضَتْ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ

Dari ‘Aisyah, bahwa ketika pertama kali, shalat ditetapkan sebanyak dua rakaat, lantas dua rakaat ditetapkan untuk shalat safar, sedangkan ketika bermukim, shalat disempurnakan (ditambah).” (HR Muslim)

Apabila seorang musafir menjadi makmum orang yang mukim, dia harus mengikuti shalat empat rakaat. Jika ia masbuk maka ia harus menambah kekurangannya sebagaimana shalatnya orang yang mukim, sehingga menjadi empat rakaat.

Tetapi jika seorang musafir diangkat menjadi imam bagi orang yang mukim, maka dia tetap mengqoshor shalat. Dan hendaklah sebelum mulai shalat ia memberitahukan perihal qoshornya kepada makmum dan menganjurkan mereka yang mukim (tidak safar) untuk menyempurnakan shalatnya setelah imam mengucapkan salam.

Selain disyari’atkan mengqoshor, dalam safar juga diizinkan menjama’ shalat. Yaitu mengerjakan shalat dhuhur dan ashar, atau maghrib dan isya’ dalam satu waktu. Dia boleh melaksanakan shalat jama’ dengan salah satu cari dua cara; yaitu jama’ taqdim yaitu kedua shalat dilaksanakan di waktu yang pertama, atau jamak ta’khir yaitu kedua shalat dilaksanakan pada waktu yang akhir.

Jika menjama’ shalat, hendaknya mengumandangkan satu kali adzan dan membaca dua kali Iqomat. Pada setiap shalat satu Iqomat. Setelah selesai shalat yang pertama tidak perlu berdzikir lebih dahulu. Dzikir dibaca setelah selesai shalat yang kedua.

Jika seorang musafir akan melakukan jama ta’khir setelah ia sampai di tempat tinggal, maka ia harus menyempurnakan shalatnya (tanpa qoshor).

Dalam melaksanakan shalat wajib sebisa mungkin untuk turun dari kendaraan. Tetapi jika khawatir tertinggal oleh kendaraan umum, boleh saja dilaksanakan di atas kendaraan. Sedangkan shalat sunnah boleh dilaksanakan di atas kendaraan, dan tidak perlu turun dari kendaraan meskipun memungkinkan untuk turun.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي سُبْحَتَهُ حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ نَاقَتُهُ

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw pernah shalat sunnah kearah manapun hewan tunggangannya menghadap. (HR Muslim)

Selama dalam perjalanan tidak perlu mengerjakan shalat sunnah rawatib, kecuali shalat sunnah fajr. Selain itu boleh shalat witir, shalat dhuha, shalat setelah berwudhu dan tahiyatul masjid.

Boleh melakukan safar (perjalanan) di hari jum’at. Tetapi jika telah dikumandangan adzan shalat jum’at dan dia masih ada di tempat, hendaklah mengikuti jama’ah shalat jum’at. Lain halnya jika khawatir akan tertinggal rombongan atau jadwal penerbangan, dia boleh tetap melakukan perjalanan.

2- Puasa bagi Musafir

Jika musafir melakukan safar (perjalanan) pada bulan Ramadan, apabila merasa keberatan ia boleh berbuka, lalu ia mengganti puasa yang ditinggalkannya itu pada hari lain. Firman Allah

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Al Baqarah: 185)

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّهَا قَالَتْ سَأَلَ حَمْزَةُ بْنُ عَمْرٍو الأَسْلَمِىُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصِّيَامِ فِى السَّفَرِ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

Dari Aisyah r.a. ia berkata: Hamzah bin ‘Amr al-Aslamy bertanya kepada Rasulullah tentang puasa dalam perjalanan maka belia bersabda: Jika engkau mau berpuasalah dan jika engkau mau berbukalah.” (HR. Muslim)

Tetapi jika ia merasa kuat berpuasa boleh juga berpuasa, tetapi yang terbaik baginya adalah yang paling mudah (ringan). Jika puasa lebih ringan bginya maka hendaknya berpuasa. Tapi jika puasa lebih mudah hendaknya berpuasa. Jika keduanya sama, maka puasa lebih utama.

3- Do’a-do’a dalam Perjalanan

Berikut adalah sebagian di antara do’a-do’a yang disunnahkan oleh Rasulullah saw untuk dibaca oleh orang yang bepergian (safar)

a- Do’a keluar rumah

بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.

“Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakkal kepadaNya, dan tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

b- Do’a naik kendaraan

Ketika menaiki kendaraan membaca bismillah, lalu alhamdulillah, lalu do’a

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesung-guhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا واطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ

Ya Allah mudahkan perjalanan kami ini dan jadikan perjalanan yang jauh menjadi dekat.

c- Bacaan ketika memasuki kota

Dalam perjalanan kembali ke rumah dari suatu perjalanan, setelah memasuki wilayah kota tempat tinggal membaca:

آيِبُوْنَ، تَائِبُوْنَ، عَابِدُوْنَ، لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

“Kami kembali dengan bertobat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan kami”

Bacaan ini diulang-ulang hingga sampai di rumah.

d- Do’a jika singgah di suatu tempat:

أَعْوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, dari kejahatan apa saja yang diciptakan-Nya.”