Dengan mengkaji berbagai petunjuk nabi saw dalam menjalankan ibadah puasa, kita bisa memahami bahwa salah satu sasaran yang hendaknya dibangun dalam aktifitas berpuasa adalah kesabaran. Meninggalkan makan dan minum selama sehari penuh, hanya bisa dilakukan oleh orang yang sabar. Menghindari kata-kata buruk dan perbuatan yang tak bermanfaat, hanya bisa dilakukan dengan sabar. Menahan emosi ketika ada orang mencaci, juga hanya bisa dilakukan dengan dasar sabar.

Sabar adalah sebuah akhlak mulia dalam kaca mata Islam. Bahkan Allah menyebut kata sabar di dalam al-Qur’an lebih dari 70 kali. Seringnya disebut kata sabar menunjukkan betapa pentingnya sifat ini bagi umat manusia.

Apabila sifat sabar ini berhasil dimiliki oleh manusia, banyak kebaikan akan dia dapatkan. Diantaranya adalah;

1- Mendapatkan pahala yang tak terbatas, firman Allah

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala (atas) mereka (dengan) tanpa batas” (Az-Zumar:10).

2- Seluruh keadaannya mendatangkan pahala dari sisi Allah. Rasulullah saw bersabda;

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن : إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له ( رواه مسلم).

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu. Sesungguhnya seluruh persoalannya adalah kebaikan. Hal itu tidak akan pernah dijumapi, kecuali pada serang mukmin. Apabila dia mendapat anugerah kenikmatan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan njika ditimpa musibah, dia bersabar, maka hal itu akan menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

3- Mendapatkan pertolongan dan ma’iyyah Allah. Firman Allah

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah:153)

Rasulullah saw bersabda

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.(HR Ahmad)

Sabar, dari tinjauan bahasa artinya adalah menahan. Adaun secara itilah, kekuatan jiwa untuk menahan diri terhadap tiga hal, yaitu; dalam mentati Allah, dalam menjauhi kemaksiyatan, dan dalam menerima taqdir Allah.

1- Sabar atas ketaatan kepada Allah. Karena mentaati Allah itu adalah sebuah pekerjaan berat, baik secara fisik, mental, bahkan kadang-kadang juga dari segi finansial. Puasa, tentu akan dirasakan berat secara fisik. Adapun zakat, akan terasa berat dari segi finansial. Demikian juga berda’wah dan berjihad di jalannya, adalah jenis-jenis amal yang beresiko tinggi.

2) Sabar atas kemaksiatan. Karena manusia ini memiliki nafsu, dan nafsu memiliki kecenderungan kepada keburukan sangat besar. Untuk bisa menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah sangat dibutuhkan kesabaran contoh, nafsu untuk berkhalwat dengan lawan jenis, nafsu untuk curang, nafsu untuk mencuri dan lain-lain. Tanpa adanya kekuatan sabar yang memadai, seseorang akan mudah tertarik kepada kemaksiatan yang memang permukaannya tamak menarik.

3) Sabar atas takdir yang ditentukan oleh Allah, seperti yang disebutkan di dalam ayat berikut;

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (al-Baqarah:155)

Berbagai cobaan dan musibah adalah hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Namun dengan kesabaran yang tertanam, dia akan menghadapinya dengan penuh keridlo’an. Tidak ada caci maki untuk Allah. Bahkan bisa jadi keluh kesah pun tidak melncur dari lisan orang yang sabar. Justru yang akan banyak keluar adalah dzikir kepada Allah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bersin hendaklah mengucapkan ‘AL HAMDULILLAH ALA KULLI HAL (Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan). (HR Abu Dawud)

Demikian indahnya orang yang sanggup bersabar dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Untuk dapat benar-benar mewujudkan sbaar itu, harus diketahui kapan sabar harus mulai dimunculkan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى.

dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata,: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata,: “Kamu tidak mengerti keadaan saya, karena kamu tidak mengalami mushibah seperti yang aku alami”. Wanita itu tidak mengetahui jika yang menasehati itu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Lalu diberi tahu: “Sesungguhnya orang tadi adalah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Spontan wanita tersebut mendatangi rumah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam namun dia tidak menemukannya. Setelah bertemu dia berkata; “Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda”. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang mushibah) “. (HR al-Nukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa sabar harus sudah muncul pada saat pertama kali musibah itu datang. Sebab jika kesabaran setelah beberapa saat sejak dari musibah, bisa jadi karena sudah ada penghibur lainnya sehingga ia sanggup menahan diri.