Arsip Taushiyah di Harian JogloSemar, 30/08/2010 M

Masjid, oleh umat Islam diyakini sebagai sebuah tempat yang mulia. Keyakinan itu tidak salah, sebab masjid itulah tempat yang paling disukai oleh Allah. Rasul bersabda,

“Tempat yang paling disukai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang peling dibenci Allah adalah pasar” (HR Muslim)

Menyadari akan kemuliaan inilah umat Islam begitu bersemangat membangun masjid. Dimana-mana masjid dibangun dengan megah dan indah. Demikian jga respon umat Islam terhadap pembangunan masjid sangat positif. Manakala datang proposal renovasi atau pembangunan masjid, maka buru-buru ia menyatakan keikutsertaannya. Terlebih lagi Rasulullah telah menjanjikan balasan pahala yang banyak bagi mereka yang membangun masjid.

Sabda Nabi saw, “Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharap pahala Allah, niscaya Allah akan bangunkan baginya semisalnya di sorga.” (HR Bukhari)

Sayang sekali pemahaman kebanyakan umat Islam baru sebatas pembangunan fisik masjid. Hingga kita saksikan fisik masjid saat ini amat bagus. Bahkan ada masjid yang kubahnya dibuat dari emas. Ada juga yang full AC. Tetapi giliran dilihat salat jama’ahnya, yang ada hanya beberapa shaf. Bahkan orang yang bertetangga dengan masjid yang mewah pun, untuk urusan salat merasa lebih nyaman di rumahnya sendiri. Lalu untuk apakah fasilitas yang luar biasa itu dihadirkan ke dalam masjid?

Kemuliaan masjid bukan terletak pada kemegahannya, tetapi karena fungsinya. Apalah arti masjid berharga milaran rupiah, tetapi senantiasa sepi orang dalam salat jama’ah. Rasulullah saw telah menyatakan dengan tegas, bahwa kemewahan dan keindahan masjid tidak terlalu dibutuhkan. Sabda beliau, “Saya tidaklah diperintahkan untuk menghiasi masjid-masjid” (HR Abu Dawud)

Pembangunan fisik masjid, tentu sesuatu yang diperlukan. Dan akan lebih sempurna apabila disertai dengan pembangunan fungsi masjid. Melengkapi masjid dengan fasilitas yang membuat nyaman tentu boleh, apabila hal itu untuk membuat hati umat Islam merasa betah berada di masjid.

Sebuah masjid dibangun dengan tujuan untuk mendirikan salat, beri’tikaf, membaca Alqur’an dan berbagai amal ibadah lainnya. Maka seharusnya umat islam ini membiasakan diri untuk senantiasa salat berjama’ah lima waktu di masjid. Betah menantikan didirikannya salat berjama’ah. Bahkan untuk tinggal di masjid selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan pun tak keberatan.

Banyak janji indah telah terucap melalui lisan Rasulullah bagi orang-orang yang aktif menfungsikan masjid sebagaimana mestinya. Di antaranya, sabda beliau, ”Ada tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka di hari tidak ada naungan kecuali naunganNya; (diantaranya adalah) seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ….” (Muttafaq alaihi)

Apabila kita fahami peranan masjid dalam makna yang sebenarnya janji Rasul ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Ada alasan logis mengapa orang yang terikat hatinya mendapat perlindungan Allah. Sebab masjid bukan hanya menjadi sarana ibadah saja. Tetapi apabila masjid berfungsi secara optimal akan menjadi faktor penting terciptanya masyarakat beradab. Di masjid itulah akan saling berinteraksi pribadi-pribadi mulia, dan mereka akan mengembangkan pola masyarakat yang mulia pula.

Dengan demikian masjid menjadi penyelamat bagi seseorang dari kesesatan ”Setan adalah serigala bagi manusia laksana serigala bagi kambing yang terlepas dan tersingkir. Karena itu janganlah kalian bercerai berai, kalian harus bersama jamaah, orang banyak dan masjid.” (HR Ahmad)