msn 10Rasululllah saw mengajarkan salah satu amal yang hendaknya diperbanyak pada bulan Ramadhan adalah bersedekah. Beliau menjelaskan bahwa bersedekah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan dari nilai yang disedekahkan, sehingga sedekah ramadlan itu menjadi sedekah yang paling utama.Rasulullah pernah ditanya oleh para shahabat

أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ؟ قَالَ صَدَقَةٌ فَيْ رَمَضَانَ

Rasulullah SAW pemah ditanya; Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yaitu sedekah dibulan Ramadhan.” (HR Tirmidzi)

Bukan hanya memberitahukan keagungan nilai sedekah di bulan ramadlan, beliau juga memberikan teladan untuk memperbanyak sedekah itu. Hingga para shahabat menilai, bahwa di bulan ramadlan beliau menjadi orang yang paling pemurah

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِى رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ( رواه البخاري)

“Rasulullah adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan saat Jibril menemui beliau, … (H.R. Bukhari).

Selain bersedekah, Rasulullah saw juga mengajarkan agar kita memberikan fasilitas berbuka bagi orang yang berpuasa. Pahala yang dijanjikan oleh Rasulullah saw untuk ini pun sangat besar, yaitu sebesar pahala orang yang berpuasa itu. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi. Subhanallah! Rasulullah saw bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi)

Di balik kebiasaan shodaqoh dan menyiapkan buka bagi orang berpuasa yang diajarkan oleh Rasulullah saw ini, terdapat suatu rahasia yang berkaitan dengan ukhuwah islamiyyah. Ukhuwah Islamiyyah, bukan sekedar pengakuan tanpa bukti. Ukhuwah itu harus diwujudkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Contoh realnya adalah saling membantu, saling mendukung, dan adanya kepedulian social di kalangan umat Islam.

Dari sini pula, kita bisa menarik sebuah benang merah, bahwa puasa di bulan ramadlan ini juga menjadi ajang untuk merekatkan ukhuwah. Terlebih jika kita pernah merasakan buka bersama, betapa keakraban itu benar-benar terwujud. Harapannya, tentu bukan hanya akrab karena sama-sama makan, setelah itu sudah selesai. Makan bersama merupakan sarana menciptakan keakraban, dan keakraban yang telah tercipta ini bisa dilanjutkan pada masa-masa selanjutnya.

Namun rupanya persoalan ukhuwah Islamiyyah ini kadang-kadang dihadang oleh semangat ta’ashub. Dan ta’ashub yang terbesar menghadang kita saat ini adalah rasa nasionalisme. Inilah ta’shub yang telah memecah belah umat Islam. Padahal di berbagai ayat Allah sudah melarang umat Islam berpecah belah. Di antaranya Allah berfirman;

Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (asy-Syura:13)

Di dalam ayat yang lain diungkapkan;

“Dan berpegang eratlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah”. (Ali Imran: 103)

Rasulullah pun juga berkali-kali mewasiatkan agar umat ini bersatu dan jangan berpecah belah.. Di antaranya beliau saw bersabda

لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling hasad atau dengki, saling marah, saling memutuskan (persaudaraan) dan janganlah kalian saling bermusuhan, akan tetapi jadilah hamba Allah yg bersaudara.” (HR.Muslim).

Beliau mencela sikap ta’ashub adalah tindakan kaum jahiliyah,

مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Barangsiapa terbunuh di bawah panji ashobiyah, seruan kepada semangat ashobiyyah, atau mendukung semangat ashobiyyah, maka kelatiannya itu adalah kematian jahiliyah. (HR Muslim)

Luar biasa dorongan Rasulullah saw untuk merekatkan persaudaraan Umat Islam ini. Tetapi ternyata umat ini kurang begitu peka terhadap seruan-seruan Rasulullah saw. Bahkan di bulan Ramadlan sekalipun, seruan Rasulullah sering diabaikan.

Bukti nyata yang bisa kita saksikan, saat Pakistan menghadapi banjir bandang, greget umat Islam untuk menghimpun dana bagi umat Islam pakistan tidak begitu tampak.Padahal mereka adalah saudara kita. Dan muncul pemberitaan bahwa Amerika saja mengeluarkan koceknya untuk memberikan bantuan. Eh, kita… hampir lupa. Untung masih ada satu atau dua organisasi kemanusiaan yang menyelamatkan muka kita.

Memperhatikan saudara yang tertimpa musibah, masih minim, ditambah lagi justru mau kelahi dengan tetangga sendiri, Malaysia. Isu inilah yang kini gencar diwacanakan oleh masyarakat kita. Ganyang Malaysia!! Tidak ingatkah bahwa mereka juga mayoritas muslim, sama dengan kita. Kalau benar-benar perang, siapakah  yang paling diuntungkan?

Inggris akan datang. Amerika juga akan datang. Lalu membuat pangkalan. Menjual senjata. Memberi hutang. Maka rakyat kedua negeri inilah yang akan sengsara. Mestinya kita bisa belajar dari kasus Irak dan Kuwait. Irak sekarang hancur, karena perang kuwait. Saudi dan Kuwait, pun tak kalah susahnya.

Memang kita tidak boleh menutup mata atas terjadinya beberapa pelanggaran. Baik pelanggaran perbatasan. Saling klaim wilayah, budaya, hak cipta dan lain-lainnya. Namun penyelesaian terhadap berbagai sengketa ini apakah harus dengan perang. Apakah kita tidak pernah merasa curiga di balik semua ini ada dalang yang memang sengaja mengobok-obok air keruh. Sudah keruh diobok-obok, lagi, biar ikannya pada mati.

Di bulan ramadlan, bulan yang menebar rahmah (kasih sayang), marilah kita kendalikan emosi. Apalagi jika emosi ini hanyalah emosi ta’ashub yang dimurkai oleh Allah. Marilah kita mengedepankan kasih sayang, menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Agar persoalan ini terselesaikan tanpa ditunggangi oleh pihak yang tidak menyukai persatuan umat Islam.