Khutbah Idul Fitri 1431 H

di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا .

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah, marilah senantiasa kita ungkapkan syukur kita kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat Islam dan iman. Kemudian Alhamdulillah kita ucapkan bagi Allah, yang telah memudahkan kita menempuh jalan ibadah, khususnya ibadah selama bulan Ramadlan. Kita akan benar-benar merasakan telah dimudahkan melaksanakan ibadah itu dengan melihat nasib saudara kita yang di italia, untuk berpuasa saja harus berhadapan dengan aturan yang melarangnya. Alhamdulillah, kita menunaikan ibadah shiyam tanpa rasa takut peperangan seperti di Gaza ataupun Afghanistan. Alhamdulillah, kita laksanakan qiyamu Ramadlan dalam keadaan aman dari bencana, baik berupa gunung meletus seperti di Karo ataupun berupa banjir seperti di Pakistan.

Shalawat dan salam semoga selalu Allah limpahkan kepada nabi akhir zaman, Nabi Muhammad, yang telah mengenalkan syari’at Islam, menuntun umat manusia keluar dari gelapnya jahiliyah menuju terangnya cahaya Islam, semoga juga dilimpahkan kepada keluarga beliau, para shahabat, dan para pengikut yang setia di jalan Islam.

Amma ba’d

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


  
Kaum muslimin arsyadakumullah

Setelah sebulan penuh kita menunaikan ibadah puasa, hari ini, dengan diiringi oleh takbir, tahmid dan tahlil kita merayakan salah satu syi’ar Islam yang paling agung, yaitu Idul Fitri. Hari raya ini adalah satu dari dua hari besar dalam Islam, tidak ada yang lain. Islam tidak mengajarkan hari besar yang lain, baik yang berkaitan dengan kemenangan atas kau kafir, yang berkaitan dengan peristiwa bersejarah, ataupun berdirinya suatu negeri. Hanya dua hari besar (raya) ini sajalah yang ada dalam Islam, Idul Fitri dan Idul Adlha.

Pada hari ini, kita merayakan Idul Fitri di tengah merosotnya kebanggaan umat Islam terhadap ajarannya sendiri. Kemerosotan ini disebabkan oleh merosotnya iman dan ilmu, dan diiringi dengan meningkatnya semangat kebangsaan. Sehingga tak jarang seorang yang mengaku muslim lebih membanggakan bangsanya daripada agamanya.

Pada umumnya suatu kaum atau bangsa membanggakan peradaban material-intelektual yang telah mereka capai. Baik pencapaian itu terjadi pada masa kini, atau masa lalu. Kita bisa melihat, beberapa bangsa membangga-banggakan sejarah peradaban nenek moyang mereka. Sebagai contoh, orang Mesir membanggakan bangsa mereka dengan kemajuan yang pernah diraih oleh Fir’aun. Orang Irak membanggakan ketinggian peradaban Mesopotamia. Kebanggaan inilah yang kemudian digunakan untuk mengikat sesama mereka dalam membentuk kehidupan bermasyarkat dan bernegara.

Sebagai muslim, marilah kita kembalikan rasa bangga kita terhadap Islam. Marilah kita merasa bangga dengan Allah sebagai tuhan kita dan bangga dengan Muhammad saw sebagai nabi kita. Marilah kita merasa bangga dengan Al-Qur’an sebagai panduan hidup kita. Marilah merasa bangga dengan hidayah yang ada dalam genggaman kita. Sebab sesungguhnya kemuliaan hakiki itu hanyalah milik Allah, sebagaimana firmanNya

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ (المنافقون:8)


Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (al-Munafiqun:8)

Ayat ini menunjukkan bahwa dengan iman itulah sesungguhnya kita menjadi kaum yang memiliki derajat tinggi. Tinggi melebihi capaian apapun yang pernah diraih oleh manusia. Sebab keimanan itu anugerah Allah, maka kita tidak perlu merasa rendah diri di hadapan bangsa-bangsa di dunia ini

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (آل عمران:139)


Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imran:139)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Kaum muslimin arsyadakumullah,

Ayat-ayat di atas mendorong kita untuk senantiasa optimis dan merasa memiliki harga diri. Maka tidak sepatutnya kita, sebagai umat Islam, merasa minder dengan ajaran kita di hadapan umat dunia. Sebaliknya justru umat Islam harus merasa bangga dengan ajaran yang dianugerahkan oleh Tuhannya, Yang Maha pengasih, Maha Mengetahui, dan juga Maha bijaksana. Tidak ada ajaran di dunia ini yang lebih bijak daripada Islam, tidak ada ajaran yang lebih komprehensif daripada Islam, tidak ada konsep hidup yang lebih realistis dan praktis melebihi ajaran Islam. Kalau kita mau mebandingkan Islam dengan ajaran-ajaran para filosof dunia, adalah ibarat gambar seorang pelukis kaliber internasional dengan coretan seorang anak TK. Sebab Allah adalah Dzat yang Maha Luas Ilmunya, sedangkan ilmu para filosof itu hanyalah setetes air dilautan

Memang secara material banyak bangsa-bangsa yang tidak memegangi Al-Qur‘an tampak maju, namun apabila kita lebih jauh menelisik peradaban mereka, dibalik kemajuan material yang mereka tunjukkan itu tersimpan kerusakan mental dan spiritual yang sangat parah. Kerusakan ini disebabkan karena mereka mengalami krisis orientasi hidup. Mereka berada dalam kebingungan, ke manakah arah melangkahkan kaki dalam menempuh kehidupan ini. Mereka yang menolak Islam, terjebak ke dalam kehidupan praktis-pragmatis. Dan, sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Alexis Karel dalam bukunya Man the Unknown, peradaban ini menuju ke jurang kehancurannya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Kaum muslimin arsyadakumullah

Meskipun kaum yang ingkar dari Islam berada di jurang kehancuran, tetapi ternyata banyak umat Islam yang merasa silau dengan capaian material mereka. Yang menyedihkan, bukan hanya kaum awam yang silau terhadap peradaban kaum kafir, para cerdik-pandai pun merasa silau. Meskipun memang ada sisi kekaguman yang berbeda. Kaum grass root, mengagumi kehidupan orang kafir pada bidang material yang tampak fun, trendy, dan modern. Sedangkan kaum cerdik merasa kagum dalam bidang intelektualnya. Tetapi ujungnya sama, mereka membebek (taken of granted) terhadap produk peradaban kaum kafir, peradaban non-Islam.

Jika kita peduli terhadap kondisi umat Islam, apa yang hari ini kita saksikan merupakan bukti kebenaran apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ


Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Kaum muslimin arsyadakumullah

Hadits Abu Sa’id itu menunjukkan bahwa sejak 15 abad yang lalu, Rasulullah saw telah memberikan warning, agar umat Islam tidak ikut-ikutan kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi kini apa yang diperingatkan rasulullah justru terjadi, dan sebabnya adalah munculnya keminderan kaum muslim. Bahkan muncul sebuah slogan, apapun bentuknya, asal sudah meniru barat, mereka merasa lebih maju dan lebih keren. Dan kita saksikan mereka benar-benar meniru budaya dan peradaban barat, meskipun berakibat pada merosotnya kualitas iman dan taqwanya. Sabda Rasulullah saw

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


Barangsiapa meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk ke dalam golongan mereka (HR Abu Dawud)

Untuk menyebut keseluruhan fenomena tersebut terlalu banyak, namun marilah kita saksikan beberapa di antaranya sebagai bahan refleksi kita. Di antaranya dalam pola pergaulan; ideologi permisifisme kini telah merasuki kaum pemuda dan remaja muslim. Dalam bergaul antara lelaki dan wanita, banyak di antara kaum muslimin tidak lagi merasa terikat dengan aturan syari’at. Baik melalui media, maupun dalam realitas kita bisa saksikan, para pemuda kita tidak lagi merasa malu melakukan pergaulan ikhtilat maupun khalwat. Bahkan cukup sering muncul pemberitaan beredarnya video perzinaan.

Di antara contoh yang lain, dalam dunia mode pun demikian. Kita mudah saja menjumpai para remaja meniru gaya rambut bintang-bintang asal barat. Atau kita jumpai para remaja bertatoo. Atau memakai anting di berbagai bagian tubuh. Di tahun 80-an, masyarakat kita masih menganggap pelakunya sebagai anak nakal, urakan, bahkan sebagai salah satu ciiri penjahat, namun kini semakin merajalela.

Juga contoh fenomena silaunya umat ini terhadap barat, kaum wanita lebih suka membuka aurat daripada menutupnya rapat-rapat. Ada yang masih malu-malu, di satu sisi memakai jilbab tetapi kemudian menonjolkan aurat di balik pakaiannya. Padahal cara berpakaian seperti itu termasuk apa yang dikatakan oleh nabi saw;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا


Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (HR Muslim)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Kaum muslimin rahimakumullah

Kalau kaum grass root umat ini melakukan berbagai penyimpangan dalam bentuk perbuatan, kaum intelektual telah melakukan pembebekan terhadap barat dalam bidang pemikiran. Sebagai contoh, mereka mengimpor metode-metode pemahaman al-Qur’an dari barat, seperti hermeneutik untuk menggantikan ilmu tafsir warisan para ulama’ Islam.

Hermeneutik adalah sebuah metodologi untuk memahami sastra, atau memahami bible. Sebuah karya sastra disusun oleh seorang yang terlingkupi oleh kondisi lingkungan, zaman dan subyektif diri. Karena itulah untuk memahami sebuah karya sastra ini diperlukan perangkat yang dinamakan hermeneutik. Demikian juga bible, kitab yang sudah mendapatkan tambahan dari para tokoh agama itu ditulis sesuai dengan kondisi zaman dan masyarakat saat menulis, sehingga tidak sesuai lagi dengan kondisi saat akan diterapkan, maka untuk memahami bible dibutuhkan hermeneutik.

Al-Qur’an, adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah untuk manusia hingga akhir zaman. Al-Qur’an ini tetap up to date, karena masih dalam masa berlakunya sehingga tidak membutuhkan pola penafsiran dengan  metode hermeneutik. Mengadopsi metodologi hermeneutik untuk memahami al-Qur’an sesungguhnya sama artinya menganggap al-Qur’an sebagai sebuah karya sastra, atau menganggap al-Qur’an sudah out of date atau kedaluwarsa. Hanya saja para intelektual ini masih malu-malu untuk mengatakan secara terbuka. Nasr Hamid Abu Zaid adalah intelektual asar Mesir yang telah secara jujur dan terang-terangan menyatakan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya. Akibatnya, ia divonis murtad oleh pengadilan agama Mesir.

Dari alur singkat tersebut tampak, bahwa impor metodologi ternyata membawa konsekuansi perubahan ideologi, bahkan bisa jadi menuju kemurtadan. Hal ini pun telah ditegaskan di dalam al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ


Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Ali Imran:100)

Dan jika kita lanjutkan, hasil pemahaman al-Qur’an dengan metode hermeneutik ini pun akan jauh berbeda dengan pemahaman para ulama’ sebelumnya. Akhir-akhir ini kita temukan fatwa tidak wajibnya wanita menutup aurat. Muncul juga gagasan pernikahan campur agama, yang digagas oleh kaum pluralis. Bahkan pernah pula muncul wacana untuk memfatwakan bolehnya pernikahan sejenis. Itulah hasil pemahaman al-Qur’an melalui metode hermeneutika. Na’udzubillah min dzalik.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Kaum muslimin rahumakumullah

Orang yang mengimpor metodologi ini beranggapan bahwa usahanya adalah dalam rangka memajukan Islam. Tetapi kenyataannya, dengan usahanya itu bukannya memajukan kehidupan beragama, tetapi justru menundukkan Islam di hadapan peradaban barat. Tidak ada kebaikan sama sekali. Maka tepatlah yang dikatakan oleh Umar bin Khattab

إِنَّا كُنَّا أَذَلُّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ


Kita dahulu adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan selain yang digunakan untuk memuliakan kita, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.”  (HR al-Hakim, dengan sanad yang shahih)

Senada dengan wasiat Umar bin Khaththab, Amir Syakib Arsalan, seorang da’i dan pejuang kebangkitan Islam pernah menuliskan sebuah buku, Limadza ta’akhkharal Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum?”. (Mengapa Umat Islam Mundur, Sementara Umat Lain Maju?). Di dalam bukunya itu beliau mengemukakan pendapat, penyebab kondisi tersebut adalah karena masing-masing meningalkan ajarannya. Umat islam mundur karena meninggalkan beberapa ajarannya al-Qur’an dengan mempraktekkan ajaran non-Islam. Sementara kaum non-islam maju justru karena mengambil beberapa ajaran islam dan dipraktekkan, meskipun formalnya mereka tetap non-Islam.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Jama’ah shalat Id arsyadakumullah

Islam adalah sebuah agama yang diturunkan oleh Allah dengan sempurna. Kesempurnaan agama ini telah dnyatakan oleh Allah di dalam firmanNya

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا


Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.  (al-Maidah:3)

Islam, dengan kesempurnaan yang ditetapkan oleh Allah, tidak lagi membutuhkan aspek-aspek luar untuk melengkapinya atau untuk mengupdatenya. Allah yang telah menjadikan agama ini sebagai agama akhir zaman, tentu sudah mempersiapkan perangkat yang memadai untuk mempertahankan kesesuaian agama ini terhadap perkembangan zaman. Maka jika kita kembali kepada ajaran kita, kembali kepada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw, kita akan menemukan kunci kekuatan Islam.

Berbicara tentang panduan kebangkitan islam Sayyid Quthb, di dalam kitab Ma’alim fith-Thariq mengatakan, ”Panduan-panduan itu hendaklah diambil dan ditimba dari sumber asal akidah ini yaitu Al-Quran, juga dari arahan-arahan Al-Quran yang asasi, juga

dari konsep yang telah dipancarkan oleh Al-Quran ke dalam jiwa para pelopor dan pendahulu umat ini, yang telah diberi penghormatan besar oleh Allah SWT untuk mengubah sejarah umat manusia mengikut kehendak Allah.”

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Jama’ah kaum muslimin arsyadakumullah

Umat ini pernah memimpin dunia ketika mereka merasa memiliki harga diri dan yakin dengan keagungan Islam. Namun seiring dengan merosotnya rasa kebanggaan dengan Islam, maka merosot pula peran kepemimpinan umat islam atas dunia ini. Dan kepemimpinan Islam atas dunia ini tidak akan pernah kembali kepada umat ini kecuali jika umat Islam sendiri merasa memiliki keagungan dengan Islam.

Pada kesempatan yang baik ini, pada hari yang dirahmati ini, marilah kita tanamkan keyakinan yang utuh terhadap aqidah islam. Marilah kita yakinkan pada diri kita, bahwa islam mampu mengatasi segala problematika zaman. Maka untuk mencari solusi atas segala problematika, marilah kita menggalinya dari sumber-sumber Islam dengan metode yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah saw sendiri dan juga para shahabatnya.

Komitmen kita yang utuh terhadap Islam, terhadap al-Qur’an itulah taqwa kita. Loyalitas yang penuh kepada Allah dan RasulNya itulah taqwa kita. Perasan izzah kita terhadap Islam itulah bukti taqwa kita. Taqwa yang menjadi tujuan disyari’atkannya puasa. Dan yang hendak kita bangun melalui berbagai aktifitas kita selama bulan Ramadlan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Kaum muslimin

Marilah kita mengeratkan pegangan kita terhadap tali Allah. Marilah kita selalu meningkatkan loyalitas kita kepada Allah, kepada islam, kepada rasulullah, dengan memegang erat panduan hidup di dalam Al-Qur’an dan sunnah. Marilah kita mantapkan tekad kita untuk hidup berpandukan syari’at islam. Marilah kita senantiasa memperbaiki dan menjaga ketaqwaan kepada Allah, dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Semoga ini semua menjadi sebab Allah memenuhi janjiNya, mengeluarkan kita dari berbagai kesulitan, sebagaimana firmanNya;

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (ath-Thalaq:2-3)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا


Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (ath-Thalaq:4)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-a’raf:96)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ


Ayyuhannas, rahimakumullah

Selanjutnya, marilah kita pusatkan konsentrasi untuk memanjatkan do’a kebaikan kepada Allah, kebaikan bagi diri kita, kebaikan bagi keluarga kita, dan juga kebaikan bagi kaum muslimin.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. آمين

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسّأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ، اْلأَحَدُ الصَّمَدُ، الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، الْجَوَّادُ الْكَرِيْمُ، أَنْ تُجَوِّدَ عَلَيْنَا بِالْقَبُوْلِ وَالصَّلاَحِ وَاْلإِصْلاَحِ، وَأَنْ تَجْعَلَنَا فِيْ يَوْمِنَا هَذَا مِنَ الْفَائِزِيْنَ الْمُفْلِحِيْنَ، نَفُوْزُ بِجَائِزَتِكَ، وَنُفْلِحُ بِرِضْوَانِكَ .

اللَّهُمَّ أَتْمِمْ عَلَيْنَا نِعْمَتَكَ بِالتَّمَسُّكِ بِدِيْنِ اْلإِسْلاَمِ، وَاْلاِقْتِدَاءِ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَاتَمِ الرُّسُلِ الْكِرَامِ .

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَحْشُرُوْنَ إِلَيْكَ وَفْدًا، وَيَفُوْزُوْنَ بِصُحْبَةِ نَبِيِّهِمْ فِي دَارِ النَّعِيْمِ، وَيُنْعِمُوْنَ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .

اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ

اللَهم اْنصُرْ عِبَادَكَ الْمَظْلُوْمِيْنَ في فلسطين وَانْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الْعِرَاقِ وَفِى شِيْشَانَ وفي الصُّوْمَالِ وَفِي أَفْغَان وفي كُلِّ بُقْعَةِ أَرْضِكَ

اللَّهُمَّ أَنْزِلِ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ  وَاكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاغْفِرلَنَا وَلَهُمْ وَثَبِّتْ قُلُوْبُنَا وَإِيَّاهُمْ على دِيْنِكَ

اللَّهُمَّ سَهِّلْ أُمُوْرَنَا ، وَأُمُوْرَ وَالِدِيْنَا ، ,أُمُوْرَ مَعْهَدِنَا السَّلاَمِ، مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ

رَبَّنَا أتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلِّ اللهُ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.