Hari-hari berlalu sangat cepat. Tidak terasa, Ramadan tahun ini tinggal beberapa hari lagi. Bagi anak-anak, mereka sangat bergembira karena sebentar lagi akan merayakan Idul Fitri. Tetapi, orang dewasa, mestinya tidak berfikir kekanak-kanakan, asal bergembira karena beban puasa sudah selesai.

Di balik segala ibadah di bulan Ramadan ini ada satu harapan, agar dosa-dosa selama ini terhapus. Harapan ini didasarkan atas janji Rasulullah saw, ”Siapa berpuasa Ramadan dengan dilandasi oleh iman dan harapan mendapatkan pahala maka dosa-dosanya yang lalu diampuni” (Muttafaq ’alaih)

Di dalam riwayat lain dikatakan, ”Siapa berpuasa Ramadan dan ia mengetahui aturannya lalu ia memelihara apa yang seharusnya dia pelihara maka dosa-dosanya yang lalu ditutup” (HR al-Baihaqi)

Hadis Baihaqi ini menyebutkan bahwa orang yang berpuasa tidak serta merta diampuni dosanya. Para ulama’ menjelaskan bahwa ampunan itu akan diberikan apabila memenuhi tiga syarat;

Pertama, menjauhi dosa besar, sebagaimana disebutkan di dalam hadis riwayat Muslim, ”Salat lima waktu, salat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa dosa yang otomatis diampuni oleh Allah setelah melaksanakan ibadah puasa adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, hanya akan diampuni apabila pelakunya bertaubat nasuha. Namun dosa kecil itupun tidak akan diampuni manakala dosa-dosa besar masih terus dilakukan.

Kedua, melaksanakan kewajiban dengan sempurna. Persoalan ini sangat diperhatikan oleh generasi awal umat ini. Mereka beramal bukan sekedar melihat banyaknya amal, tetapi juga memperhatikan kesempurnaan amal agar diterima oleh Allah. Dan sempurnanya amal seorang hamba diukur dari keikhlasannya dan kesesuaian amal dengan tuntunan Islam.

Ketiga, kontinuitas dalam meniti jalan yang benar. Firman Allah ”Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar” (Thoha;82)

Sangat menyedihkan jika Ramadan telah berlalu tetapi ampunan tidak juga bisa diraih. Rasulullah saw menyebutkan orang yang demikian ini justru akan semakin dijauhkan dari keberuntungan. Sabda beliau, ”Jibril telah datang kepadaku lalu berkata, ”Siapa yang mendapati bulan Ramadan, tetapi dosanya tidak diampuni lalu ia mati maka ia akan masuk neraka dan Allah akan menjauhinya, katakanlah amin” maka aku katakan amin (HR Ibnu Hibban)

Tetapi saat ini muncul kebiasaan, ketika memasuki bulan Ramadan banyak orang bertobat. Mereka menunaikan salat, berpuasa, rajin berjama’ah, menghadiri berbagai majelis ta’lim, mengenakan pakaian yang menutup aurat, dan segala amal saleh lainnya. Tetapi selepas Ramadan mereka kembali kepada kebiasaan lamanya, bergelimang dalam maksiat.

Orang-orang seperti ini adalah golongan manusia yang paling merugi. Tobatnya sia-sia belaka, karena tobat yang tidak nasuha tidak menghadirkan ampunan Allah. Firman Allah, ”Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang nasuha, semoga Tuhanmu menghapuskan dosa-dosamu” (at-Tahrim:8)

Orang seperti ini sesungguhnya telah beramal tanpa dilandasi iman. Karena mereka tidak menyadari bahwa Tuhannya di bulan Ramadan juga Tuhan di bulan-bulan yang lainnya. Bukankah Allah tidak hanya mengawasi mereka di bulan Ramadan saja? Dan bukankah hal-hal yang haram di bulan Ramadan juga haram di bulan yang lain? Lalu mengapa mereka hanya taat kepada Allah di bulan Ramadan?