عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ اللهَ لَيُنَادِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ جِيرَانِي , أَيْنَ جِيرَانِي ؟ “

Dari Anas bin Malik ra, bahwasannya ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Sesungguhnya, pada hari kiamat nanti, Allah benar-benar akan berseru, “Di manakah tetanggaku? Di manakah tetanggaku?”

قَالَ : “فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: رَبَّنَا! وَمَنْ يَنْبَغِيَ أَنْ يُجَاوِرَكَ !!

Beliau bersabda; Para malaikat bertanya-tanya, “Wahai Tuhan kami, Siapakah yang layak bertetangga denganmu?”

فَيَقُولُ: أَيْنَ عُمَّارُ الْمَسَاجِدِ ؟ “.

Allah berfirman, “Di manakah orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid?”

(Hadits ini diriwayatkan oleh al-Harits bin Abi Usamah di dalam Musnadnya (16:1) dinyatakan shahih oleh al-Albani, di dalam Silsilah ash-Shahihah (6:512)

Yang dimaksudkan dengan orang-orang yang memakmurkan masjid di dalam hadits ini adalah, orang-orang yang memelihara shalat lima waktu dengan berjama’ah di dalam masjid, berdzikir kepada Allah, dan menuntut ilmu di dalam masjid.

Sebagai gambaran orang yang memakmurkan masjid, marilah kita menyaksikan riwayat-riwayat para pendahulu umat ini. Berikut adalah beberapa riwayat tentang mereka;

Ibnu Juraij berkata, “Masjid itu adalah kasurnya ‘Atha’ selama dua puluh tahun. Dan beliau adalah orang yang shalatnya paling bagus.”

Sa’id bin Musayya(i)b berkata, “Tidaklah para mu’adzdzin mengumandangkan adzan, selama tiga puluh tahun, melainkan aku sudah berada di dalam masjid”

Rabi’ah bin Zaid berkata, “Tidaklah mu’adzin mengumandangkan adzan untuk shalat dhuhur selama empat puluh tahun, melainkan saya sudah ada di dalam masjid, kecuali jika saya sedang sakit atau sedang dalam perjalanan”

Materi terkait

Mengikat Hati dengan Masjid