Istilah suap menyuap sudah menjadi kamus yang sangat akrab di telinga kita. Namun dalam kehidupan kita, ada dua makna dari satu istilah ini. Yang pertama adalah tindakan seorang ibu memberi makan kepada anak balitanya yang belum bisa makan sendiri. Adapun istilah kedua, yaitu tindakan seseorang memberikan sejumlah uang kepada pihak tertentu untuk mengubah kebijakan, baik berupa memperoleh manfat atau menghindarkan madharat..

Persoalan pertama tentu persoalan yang disepakati kemanfaatannya, sehingga tidak perlu dibahas. Dan suap dalam makna kedua inilah yang akan menjadi sorotan kita kali ini, mengingat persoalan ini semakin menjadi-jadi di dalam kehidupan kita. Sebagai misal, orang yang berperkara, lalu ia berusaha memberikan sejumlah uang kepada hakim agar pihaknya dimenangkan dalam perkara tersebut. Cukup banyak sudah mass media menyebutkan kasus ini, pada akhir-akhir ini.

Di antara bentuk lain yang juga menggejala adalah suap yang dilakukan oleh calon kepala desa, kepala kabupaten, bahkan juga calon anggota DPR kepada konstituen, untuk memilih dirinya. Praktik ini lebih dikenal sebagai politik uang. Namun hal ini juga termasuk ke dalam kategori suap.

Dan suap bisa juga terjadi dalam suatu proyek, agar pihak pemakai jasa memenangkannya dalam suatu tender, maka suatu perusahaan memberikan sejumlah uang kepada pemakai, dengan permintaan dimenangkan dalam tender.

Suap juga kerap kali terjadi dalam penerimaan pegawai. Agar seseorang isa diterima menjadi pegawai suatu perusahaan atau suatu instansi, maka ia memberikan sejumlah uang kepada panitia penerimaan agar bisa diterima.

Ulama’ sepakat suap hukumnya adalah haram. Keharaman ini bukan hanya berdasarkan kesepakatan saja, tetapi juga didasarkan kepada dalil-dalil syara’ yang cukup banyak. Di antaranya adalah

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (al-Maidah:2)

Ayat ini memberikan dorongan agar umat Islam bekerja sama dalam kebaikan. Selain itu uga melarang praktik kerja sama dalam kejahatan. Sementara itu suap yang diberikan kepada hakim di pengadilan atau kepada pembuat polecy lainnya untuk berpaling dari kebenaran dan memutuskan sesuatu sesuai dengan hawa nafsunya, adalah salah satu bentuk dari kerja sama dalam kejahatan.

Menerima calon pegawai yang sesungguhnya tidak layak, adalah suatu kedhaliman. Memilih calon kepala daerah yang sesungguhnya tidak layak adalah kedhaliman. Dan kedhaliman-kedhaliman itu semuanya adalah tindakan berdosa. Karena itulah, suap bisa dikategorikan kepada tindakanbekerja sama dalam melakukan dosa dan kejahatan.

Karena suap mengkonsekuensikan pada memakan harta orang lain secara bathil, maka larangan suap ini bisa juga didasarkan atas firman Allah

Dan Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (al-Baqarah:188).

Selain ayat tersebut, juga diriwayatkan di dalam hadits shahih

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ

Dari Abu Hurairah ra, bahwasannya ia berkata; Rasulullah saw mengutuk penyuap dan yang menerima.” (HR at-Tirmidzi)

Di dalam riwayat lain, dikatakan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

Dari Abdullah bin Amr, bahwasannya ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Laknat Allah semoga diturunkan kepada orang yang menyuap dan yang menerima suap” (HR Ibnu Majah)

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا

Dari Abu Zur’ah dari Tsauban berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaknat orang yang menyuap, yang disuap dan perantaranya (HR Ahmad)

Hadits-hadits ini lebih gamblang memberikan penjelasan tentang haramnya menyuap dan menerima suap. Rasyi, yaitu orang yang memberikan sejumlah uang untuk mendapatkan manfaat atau menghindarkan madharat. Sedangkan murtasyi, adalah orang yang menerima uang tersebut dengan janji akan memberikan manfaat atau menghindarkan suatu madharat.

Keharaman juga berlaku kepada pihak-pihak yang terkait dalam transaksi suap itu. Rasulullah menybutnya sebagai Raisy, yaitu mediator antara penyuap dan penerima suap. Mediator itu bisa berupa orang yang mencatat, saksi, kurir dan lain-lainnya. Laknat bagi mediator ini sangat logis, karena mereka lah yang melancarkan transaksi suap-menuap ini. Meskipun ada keinginan dari seseorang untuk menyuap, bisa jadi keinginan itu batal kalau tidak difasilitasi dan dimediasi oleh orang lain. Maka peran fasilitator dan mediator ini sangat penting bagi terjadinya transaksi suap. Sehingga rasulullah pun memasukkannya ke dalam golongan orang yang dilaknat.

Namun kadang-kadang di masyarakat juga muncul kenyataan lain yang mirip dengan persoalan suap menyuap ini. Sebagai ilustrasi, sebuah lembaga pendidikan mendapatkan bantuan dari suatu badan nasional dengan nilai yang cukup signifikan. Tetapi kemudian ada pihak tertentu yang menghalangi turunnya dana bantuan itu ke lembaga tersebut, apabila lembaga itu tidak mau memberikan sejumlah uang.

Harus diingat, bahwa suap yang dilarang adalah suap untuk mengubah kebijakan secara bathil. Adapun dalam kasus memberikan sejumlah harta atau uang untuk mendapatkan hak, maka hal ini berbeda dengan kasus suap. Orang yang memberikan uang tidak bisa dihukumi sebagai rasyi (orang yang meberikan suap), sebab tidak ada keinginan darinya untuk meminta perubahan kebijakan secara bathil. Ia memberikan suap karena ingin mendapatkan haknya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun bagi yang meminta uang ia tetap berdosa, karena ia telah melakukan tindakan pemalakan atau pemerasan dengan ancaman tidak akan memberikan hak apabila ia tidak menerima sejumlah uang.

About these ads