Soal

apakah alasan orang-orang melakukan shalat tahiyyatul masjid ketika sedang dilakukan khutbah? Bukankah mendengarkan khutbah itu wajib dan shalat tahiyyatul masjid itu sunnah?

 

Jawab:

Persoalan shalat tahiyyatul masjid ketika sedang khutbah Jum’at memang menjadi perdebatan di antara ulama’, baik ulama’ salaf maupun khalaf. Setidaknya ada dua pendapat dalam hal ini; 

Pertama mereka yang memandang tetap disunnahkannya shalat tahiyyatul masjid meskipun sedang ada khutbah. pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama’. 

Kedua, Ada sekelompok ulama’ yang berpendapat tidak ada sunnah tahiyyatul masjid ketika sedang khutbah, karena mendengarkan khutbah itu wajib. Jangankan melakukan aktifitas, memeluk kaki sendiri, atau sekedar mengucapkan “Diam!!” saja terlarang, karena mengurangi perhatian terhadap khutbah. 

Namun menurut kami, pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, yang menyatakan bahwa shalat tahiyyatul masjid sunnah dilakukan meskipun sedang ada khutbah

Argumen 1

Landasan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ, وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ . فَقَالَ: “صَلَّيْتَ؟” قَالَ: لَا. قَالَ: “قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

Dari jabir ra, ia berkata; Ada seorang lelaki masuk masjid pada hari Jum’at, dan nabi saw sedang berkhutbah. Maka beliau bersabda; Sudah shalat kah kamu? Ia jawab belum. Beliau bersabda; Berdirilah untuk shalat dua rekaat. (HR al-Bukhari dan Muslim) 

Argumen 2

Memang benar, secara sengaja tidak memperhatikan khutbah menyebabkan terhapusnya pahala, sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut; 

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا 

Siapa yang mengusap kerikil maka ia telah sia-sia (HR Muslim) 

Yang disebut dengan mengusap kerikil di dalam adits tersebut adalah orang yang mengusap tempat sujudnya, untuk membersihkan dari kerikil, atau meratakan pasir. Di masa nabi, shalat belum di atas lantai yang keras, tetapi masih di atas pasir. Untuk masa kita sekarang, orang yang menyingkirkan kotoran di depannya, ketika imam sedang khutbah termasuk lagha. 

إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِك : أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ 

Apabila kamu mengatakan kepada temanmu, “Diamlah”, pada hari jum’at ketika imam sedang berkhutbah, maka kau telah melakukan hal yang sia-sia (HR al-Bukhari dan Muslim) 

Antara hadits-hadits yang melarang beraktifitas dengan hadits yang memerintahkan shalat tahiyyatul masjid ini jangan dipertentangkan. Larangan itu datangnya dari rasul. Perintah juga datangnya dari rasul. Semuanya diriwayatkan secara shahih. Karena itu jangan dipertentangkan, tetapi harus dicari titik temunya. 

Untuk mempertemukan beberpa hadits yang bertentangan ini, maka kita menggunakan teori yang disebut dengan ‘am dan khash. ‘Am artinya umum, dan khash artinya khusus. Dalil-dalil yang melarang seseorang melakukan aktifitas di saat khatib berkhutbah adalah bersifat ‘am atau umum. Maksudnya secara umum khutbah harus didengarkan maka dilarang melakukan aktifitas apapun. Meskipun di dalam hadits disebutkan tindakan khusus, seperti mengatakan “diam”, atau mengusap kerikil, namun itu semua masuk ke dalam pengertian perbuatan secara umum. Kemudian adanya hadits Jabir ini, harus didudukkan ke dalam bentuk khusus. Maknanya, khusus untuk shalat tahiyatul masjid, boleh dilakukan ketika sedang khutbah sekali pun. 

Argumen 3

Kaum yang tidak setuju dengan shalat tahiyyatul masjid ketika sedang ada khutbah dengan membawakan hadits 

إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلَا صَلَاةَ وَلَا كَلَامَ حَتَّى يَفْرُغَ الْإِمَامُ 

Apabila seorang kalian masuk masjid dan imam sedang berkhutbah, maka janganlah shalat, dan juga jangan berbicara sampai imam selesai berkhutbah 

Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani, tetapi hadits ini sangat dla’if, karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ayyub bin Nahik. Para ulama’ menilainya munkar dan matruk, meskipun Ibnu Hibban mengelompokkan ke dalam rawi yang tsiqah. Tetapi yang benar, dia adalah rawi yang munkar. Kaarena haditsnya lemah, maka hadits ini tidak bisa menjadi dasar beralasan tidak bolehnya shalat tahiyyatul masjid selama khutbah berlangsung. 

Demikan penjelasan singkat, tentang masalah shalat tahiyyatul masjid ketika khutbah. 

Allahu a’lam bish-shawab.