”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (shad:29)

Berinteraksi dengan al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca. Qur’an bukanlah buku bacaan yang cukup dibaca, selesai. Salah satu hal yang harus diperhatikan saat berinteraksi dengan al-Qur’an, adalah tadabbur. Berkah al-Qur’an akan kita dapatkan jika dalam membaca al-Qur’an disertai dengan tadabbur, demikianlah di antara kandungan ayat di atas.

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Qur’an, “Itulah kitab yang tidak ada keraguan, di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang berakal” (al-Baqarah:2)

Memang membaca al-Qur’an, faham artinya atau tidak sudah termasuk ibadah. Tetapi apalah arti ibadah jika tidak memperoleh petunjuk al-Qur’an? Karena itulah kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan al-Qur’an ini sebagai penuntun hidup kita. Langkah pasti yang harus ditempuh adalah dengan mentadabburnya

Bagi kaum yang tidak akrab dengan bahasa al-Qur’an, tentu mentadaburnya merupakan pekerjaan luar biasa. Ya, memang luar biasa. Bahkan bagi para pengguna bahasa al-Qur’an dalam kesehariannya pun untuk mentadabburnya masih juga dianggap persoalan luar biasa.

Namun yakinlah, jika kita berfikir bisa maka, in sya Allah, kita akan bisa. Namun jika kita sudah berpikir tidak bisa, kapankah kita akan bisa?

Berikut ini adalah beberapa langkah yang harus ditempuh agar kita bisa mentadabbur al-Qur’an;

1- Membacanya.

Membaca al-Qur’an adalah syarat mutlak seseorang untuk bisa mentadabbur al-Qur’an. Kalau seseorang tidak pernah embaca mana mungkin ia bisa mentadabburnya? Karena itulah, membiasakan membaca al-Qur’an, meskipun tanpa memahami artinya sudah merupakan kebiasaan baik. Hanya saja perlu ditingkatkan.

Yang harus diingat di sini, dalam membaca al-Qur’an harus menekankan aspek kebenaran menurut kaidah tajwid. Karena itu jangan pernah bosa untuk senantiasa memperbaiki bacaan al-Qur’an.

Kemudian, dalam membaca jangan terlalu cepat, tetapi tartil. Makna tartil adalah mebaca dengan lambat sehingga bisa membaca sesuai kaidah tajwid. Demikianlah rasulullah membaca al-Qur’an, dengan tartil sehingga ayat yang pendek pun tampak seperti ayat panjang

كَانَ يَقْرَأُ بِالسُّورَةِ فَيُرَتِّلُهَا حَتَّى تَكُونَ أَطْوَلَ مِنْ أَطْوَلَ مِنْهَا

beliau membaca sebuah surat dengan mentartilkannya, hingga surat itu (terasa) menjadi lebih panjang daripada surat yang (sesungguhnya lebih panjang dari surat tersebut. (HR Muslim)

2- Ikhlas dalam membaca dan mempelajarinya

Ikhlas adalah pondasi diterimanya amal dan ibadah manusia. Maka orang yang membaca al-Qur’an hendaklah mengikhlaskan tujuannya hanya untuk Allah. Bacaan al-Qur’an seseorang tidak akan memberikan manfaat apa-apa sehingga ia mengikhlaskan niat semata-mata karena Allah.

Janganlah ada tujuan untuk mencari ketenaran, pamer, mendapatkan pujian, atau untuk mendapatkan imbalan duniawi; baik berupa materi, pekerjaan, status sosial, ataupun sekedar pujian manusia, di balik bacaan kita. Firman Allah

barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (asy-Syuro:20)

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَابْتَغُوا بِهِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ قَوْمٌ يُقِيمُونَهُ إِقَامَةَ الْقِدْحِ يَتَعَجَّلُونَهُ وَلَا يَتَأَجَّلُونَهُ

Bacalah al-Qur’an dan carilah ridha Allah azza wa jalla sebelum sebelum datangnya sebuah kaum yang menegakkan (bacaan)nya sebagaimana menegakkan bejana, mereka terburu-buru dan tidak mau menangguhkannya. (HR Ahmad)

Yang dimaksudkan dengan terburu-buru di dalam hadits ini adalah ingin bersegera mendapatkan balasan di dunia, baik berupa materi, pujian orang lain atau yang lainnya. Sedangkan menangguhkannya, maksudnya adalah menangguhkan balasan kelak di akhirat.

4- Memperhatikan bacaan al-Qur’an

Allah berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya.” (Qaf:37)

Allah telah memberitahukan bahwa orang yang telinganya mendengarkan seharusnya hatinya pun ikut memperhatikan apa yang dibaca. Firman Allah di atas, ”Bagi orang-orang yang memiliki hati (akal)” maknanya adalah hati yang hidup, yang bisa memahami pesan-pesan Allah, sebagaimana firmanNya

“Tidak lain ia (Al Quran itu) hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya)” (Yasin:69-70)

5- Taubat dan menjauhi kemaksiatan

Segala bentuk kemaksiatan itu berbahaya terhadap agama dan dunia. Kemaksiatan adalah sebab terbesar munculnya penyakit hati dan kerasnya hati. Firman Allah

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (al-Muthaffifin:14)

Para ulama’ mengatakan, ran, adalah dosa di atas dosa sampai dosa-dosa itu menyelimuti hati dan menutupnya, lalu hati itu mejadi mati.

Orang yang memiliki hati yang sakit karena banyaknya maksiat, adalah manusia yang paling jauh dari mentadabur al-Qur’an.

6- Mempelajari Kitab-kitab Tafsir

Karena tadabbur tidak akan terlaksana tanpa dengan memahami apa yang dibaca, maka untuk memahami al-Qur’an pertama kali harus membaca terjemahnya. Atau elajar menerjeahkan al-Qur’an. Yang terekhir ini, meskipun lama tetapi akan memberika bekal untuk lebih baik dalam mentadabbur al-Qur’an, karena kelak ia akan lebih mudah memahami arti tanpa harus membaca buku terjemahan al-Qur’an.

Setelah itu, perlu juga menela’ah kitab-kitab yang telah disusun oleh para ahli tafsir, baik dari kalangan shahabat, tabi’in, maupun para ulama’ setelah mereka, yang telah dikenal luas amanahnya dan keilmuannya.

Kitab tafsir yang disepakati oleh para ulama’ kebaikannya adalah kitab tafsir yang ditulis dengan metode bil ma’tsur. Yaitu kitab tafsir yang mendasarkan tafsirannya pada riwayat-riwayat. Yang termasuk kitab tafsir bil ma’tsur d antaranya adalah Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Baghawi, dan Tafsir at-Thabari. Untuk Sekarang, bisa juga membaca tafsir al-Aysar karya al-Jazairi, atau Tafsir As-Sa’di. Keunggulan kedua tafsir itu lebih ringkas, dan dengan bahasa yang ringan sehingga memudahkan bagi pembaca.