Ulama’ dalam pandangan Islam memiliki kedudukan yang sangat mulia. Sebab mereka lah orang yang memahami kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw. Pemahaman itu menjadi bekal baginya untuk meniti kehidupan yang benar dan menunjukkan masyarakat untuk berjalan di jalan yang benar. Sehingga, dengan segala kelebihan itulah Rasulullah menyebutnya sebagai pewaris para nabi.

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ 

Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Dawud)

Dalam perumpamaan yang lain, para ulama adalah seperti bintang dilangit. Bintang memberikan petunjuk arah di tengah gelapnya malam. Sedangkan ulama’ menjadi fasilitator bagi umat ini untuk mendapatkan petunjuk di tengah gelapnya jahiliyah. Merekalah yang menjelaskan kepada ummat ini jalan petunjuk dan keistiqomahan di atas pentunjuk tersebut. Dengan merekalah ummat paham tentang jalan yang buruk dan cara menjauhinya.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, tersebarlah berbagai fitnah di tengah umat islam ini. Di antara fitnah yang paling mematikan keberagamaan umat ini adalah, munculnya para ulama’ su’. Ulama’ su’ adalah ulama’ jahat. Dikatakan jahat, karena mereka bukannya menunjukkan jalan yang benar kepada umat, namun justru rakus kepada kehidupan dunia. Dan akhirnya mereka menjual agamanya untuk kemaslahatan dunianya. Kadang mereka lebih fasih dan lebih mudah untuk diterima penjelasannya. Bahkan metodenyapun juga berfariasi sehingga ummat banyak yang tertarik terhadap mereka. Ketertarikan itulah yang kemudian menjadikan sebagian umat ini ngefans terhadap para ulama’ su’ tersebut. Padahal mereka pada hakekatnya di atas kesesatan. Tentang mereka ini, Rasululloh saw bersabda,

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتَلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنْ اللِّينِ أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنْ السُّكَّرِ وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبِي يَغْتَرُّونَ أَمْ عَلَيَّ يَجْتَرِئُونَ فَبِي حَلَفْتُ لَأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولَئِكَ مِنْهُمْ فِتْنَةً تَدَعُ الْحَلِيمَ مِنْهُمْ حَيْرَانًا “

Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Alloh berfirman, “Apakah dengan-Ku kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)

Apabila manusia ini dibuat ranking, maka ulama su’ adalah manusia yang menduduki rangking yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Semua itu dikarenakan ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan, padahal ia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Yang lebih parah lagi, ia mampu menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia sanggup membungkus kebatilan dengan couver sebuah kebenaran. Ada kalanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, penghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para wakil Dajjal.

Apa perbedaannya ?

Sebenarnya tidaklah sulit untuk membedakan antara ulama’ yang jujur dengan ulama su’ para pengekor penguasa. Ulama’ yang baik, entah mereka berada di tempat yang terpencil, atau di dalam penjara taghut dan tempat-tempat yang lain, umat ini akan melihat mereka senantiasa komitmen terhadap diin ini. Tapi sebaliknya, umat ini akan melihat para ulama’ su’ selalu menjual kehidupan akhirat untuk mendapatkan sedikit dari kehidupan dunia. Mereka nentiasa berada di pintu-pintu penguasa tiran. Sebagaimana perkataan hudzaifah ra :

إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ بِبَابِ الْسُلْطَانِ فَاتَّهَمُوْا دِيْنَهُ، فَإِنَّهُمْ لاَ يَأْخُذُوْنَ مِنْ دُنْيَاهُمْ شَيْئاً أَخَذُوا مِنْ دِيْنِهِمْ ضِعْفَهُ

Jika kalian melihat seorang ‘alim berada di pintu penguasa, maka tertuduhlah dinnya. Maka tidaklah mereka [para ulama’] mengambil sebagian dari dunia mereka [penguasa], kecuali pera penguasa tersebut akan mengambil dari din mereka [ ulama’] secara sebanding.

Orang yang ikhlas dan berpandangan jernih akan sangat mudah membedakan antara ulama’ su’ dan ulama’ yang ikhlas. Bagaimana kita tidak bisa membedakan antara seorang ulama’ yang sudah terbukti pengorbananya dan menghabiskan waktunya untuk berdakwah di jalan Allah swt; dengan seorang ulama’ yang dipenuhi dengan kenikmatan dan suka membela kemunkaran? Ulama’ yang ikhlas berdakwah untuk tegaknya Islam dan jayanya umat islam. Ulama’ su’ berdakwah untuk mendapatkan kemewahan dunia, atas pesanan sponsor. Ulama’ yang ikhlas akan senantiasa sabar menghadapi tantangan demi mendapatkan ridlo Allah, sementara ulama’ su’ akan segera berubah sikap demi menyelamatkan diri, keluarga dan hartanya.

Contoh Ulama’ Ikhlash

Sebagai gambaran yang sangat jelas, marilah kita melihat Imam Ahmad, beliau adalah salah satu contoh sosok ulama’ yang ikhlas. Dalam kehidupannya dipenuhi dengan ujian dan bala’ ?. Beliau pernah dipenjara hanya untuk mempertahankan sebuah kata, “Al-Qur’an bukan makhluq”. Padahal beliau bisa mengambil ruhshah untuk mengikuti penguasa dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluq. Akan tetapi beliau lebih senang mendapat ujian karena itu akan meningkatkan derajat di hadapan Allah Ta’ala.

Marilah kita merenungkan perkataan Ibnu Taimiyah ketika beliau sedang diuji. Agar menjadi jelas bagi kita jalan para ulama’ yang sholih :

مَا يَفْعَلُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا سِجْنِي خَلْوَةً، وَنَفْيِي سِيَاحَةً، وَقَتْلِي شَهَادَةً

Apa yang diperbuat musuh kepadaku, jika aku dipenjara, itu sebagai kholwah bagiku, jika aku diusir, itu sebagai plesir bagiku. Dan jika aku dibunuh, itu sebagai sahid.

Marilah kita lihat juga Sayyid Qutub ketika beliau dipaksa untuk mencabut perkataannya dan permusuhannya dengan taghut ketika itu !. beliau berkata :

إِنَّ إِصْبَعُ السَبَابَةِ الذِي يَشْهَدُ لِلَّهِ بِالْوَحْدَانِيَةِ فِي الصَّلاَةِ لَيُرَفَّضَ أَنْ يَكْتُبَ حَرْفاً يُقِرُّ فِيْهِ حُكْمَ طَاغِيَةٍ

Sesungguhnya jari tulunjuk yang bersaksi pada Allah dengan mentauhidkan-Nya dalam shalat, tidaka akan mau untuk menulis satu hurufpun yang mengakui hokum taghut.

Inilah jalan para ulama’ yang jujur. Inilah jalan jalannya para nabi dan para penegak diin ini. Tidak ada jalan lain, kecuali jalan orang-orang yang jauh dari tuntunan nabinya.

Sikap kita

 Ulama’ su’, dalam bahasa lainnya adalah para penyeru ke pintu neraka, sebagaimana disebutkan di dalam hadits nabi saw;

قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Apakah setelah kebaikan (yang ada kotorannya itu) akan timbul lagi keburukan?”. Beliau menjawab: “Ya, yaitu para penyeru yang mengajak ke pintu jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka maka akan dilemparkan kedalamnya”. Aku kembali bertanya; “Wahai Rasulullah, berikan sifat-sifat (ciri-ciri) mereka kepada kami?”. Beliau menjelaskan: “Mereka itu berasal dari kulit-kulit kalian dan berbicara dengan bahasa kalian”. Aku katakan; “Apa yang baginda perintahkan kepadaku bila aku menemui (zaman) keburukan itu?”. Beliau menjawab: “Kamu tetap berpegang (bergabung) kepada jama’atul miuslimin dan pemimpin mereka”. Aku kembali berkata; “Jika saat itu tidak ada jama’atul muslimin dan juga tidak ada pemimpin (Islam)?”. Beliau menjawab: “Kamu tinggalkan seluruh firqah (kelompok/golongan) sekalipun kamu harus memakan akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap berada di dalam keadaan itu (berpegang kepada kebenaran) “.(HR al-Bukhari)

Hadits ini memberikan petunjuk kepada kita agar kita terhindar dari fitnah ulama’ su’. Jika kita perincikan, petunjuk Rasul itu adalah sebagai berikut;

Pertama : Senantiasa berpegang pada jama’ah, maksudnya dalah kebenaran al-Qur’an dan hadits dan kumpulan orang yang berpegang pada al-Qur’an dan hadits nabi saw.

Kedua : Menjauhi firqah-firqah, khususnya adalah kelompok-kelompok yang dipimpin oleh para ulama’ jahat (su’) tersebut.