Dalam kehidupan kita, istilah sumpah sudah sering kita dengar. Bahkan mungkin kita pun pernah melakukan sumpah. Tetapi ada beberapa hal dalam masalah sumpah ini yang kadang tidak diperhatikan oleh umat Islam, sehingga sumpahnya mengalami kekeliruan dalam pandangan syari’at. Kekeliruan-kekeliruan itu akan bisa kita lihat setelah kita cermati tulisan ini in sya’ Allah.
Sumpah adalah menyebut sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang untuk menguatkan suatu pernyataan dengen menggunakan kata sumpah. Dalam bahasa Arab, kata sumpah digunakan huruf ba’, ta’ atau wawu. Kata itu digabung dengan sesuatu yang dianggap penting. Jika seseorang memandang Allah sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, maka ia akan menyebut wallahi, tallahi, atau billahi. Adapun dalam bahasa Indonesia, digunakan kata ”demi”, seperti pada kata ”demi Allah”.
Tetapi tidak setiap kata demi ini bermakna sumpah, seperti pada kata, ”aku bekerja siang dan malam demi memberi nafkah anak dan isteri”. Kata demi pada kalimat tersebut maknanya adalah untuk, sehingga tidak bermakna sumpah. Demikian juga tidak bernilai sumpah, orang yang hanya mengatakan ”sumpah” saja. Kecuali kalau dia katakan, ”sumpah demi Allah” maka kalimat itu menjadi kalimat sumpah.
Islam mengajarkan bahwa sesuatu yang dianggap penting, yang boleh dijadikan sumpah itu adalah Allah. Orang yang bersumpah dengan selain Allah dipandang telah melakukan kemaksiatan. Bahkan bersumpah dengan nama nabi, dengan mengatakan “demi Rasulullah”, juga merupakan kemungkaran. Tetapi baru-baru ini ada seorang pejabat yang bersumpah dengan nabi.
Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dengan isnad yang shahih dari Nabi Muhammad saw, bahwasannya beliau bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ.
“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah subhanahuwata’alla maka sungguh ia kafir atau syirik.”
Ibnu Abdil Barr meriwayatkan bahwa telah terjadi ijma’ akan ketidakbolehan bersumpah dengan selain Allah. Selain hadits di atas, diriwayatkan juga dalam hadits-hadits lain yang shahih tentang larangan bersumpah dengan selain Allah, seperti dalam shahihain, dari Nabi Muhammad saw:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ. وفى لفظ آخر فَلاَ تَحْلِفْ إِلاَّ بِاللهِ
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah swt melarang kamu bersumpah dengan nama bapak-bapak kamu, maka barangsiapa yang bersumpah maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau diam.’ Dan dalam lafazh yang lain: ‘Maka janganlah engkau bersumpah kecuali dengan nama Allah.’ (HR al-Bukhari dan Muslim)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ حَلَفَ بِاْلأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang bersumpah dengan amanah maka ia bukan dari golongan kami.” (HR Abu Dawud)
Hadits-hadits dalam bab ini sangat banyak. Wajib bagi seluruh kaum muslimin agar tidak bersumpah kecuali hanya dengan Allah swt saja, dan tidak boleh bagi seseorang bersumpah atas nama siapapun selain Allah berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan di muka dan juga hadits-hadits lainnya.
Memang di masyarakat kita masih ada kebiasaan bersumpah dengan selain nama Allah. Yang paling masyhur adalah bersumpah dengan kehormatan diri, sebagaimana dikatakan, “Demi kehormatanku, aku berjanji…” dan seterusnya. Ini adalah bagian dari kemaksiatan, dosa besar, dan juga kemusyrikan.
Para ulama’ mengelompokkan sumpah dengan selain Allah swt ke dalam syirik kecil. Ini jika hanya berdasarkan hadits yang di riwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi di atas. Termasuk ke dalam dosa besar berdasarkan hadits Abu Dawud. Dan syirik kecil bisa menjadi syirik besar apabila di hati pelaku ada keyakinan bahwa nama yang disebut dengan sumpah berhak mendapat keagungan seperti Allah swt, atau ia bisa disembah bersama Allah swt, dan semisal yang demikian itu dari tujuan-tujuan yang kufur.
Kebiasaan yang salah seperti ini wajib dihindari. Selain menghindari untuk diri sendiri, juga wajib mencegah keluarganya, teman-temannya dan orang lain dari sumpah-sumpah yang tidak menggunakan nama Allah. Hal ini didasarkan pada keumuman makna hadits:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذلِكَ أَضْعَفُ اْلإِبْمَانِ
“Barangsiapa melihat kemungkaran di antara kamu maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah dengan lisannya, maka jika ia tidak mampu maka hendaklah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)