Saat ini kita sudah memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Arab Saudi menetapkan tanggal satu bulan Dzulhijjah ini pada hari Ahad, karena pada hari sabtu sudah ada yang bisa melihat hilal. Sementara itu Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkannya pada hari Senin, sebab pada hari Sabtu sore para ahli rukyat negeri ini belum bisa melihat hilal. Persyarikatan Muhammadiyah juga menetapkan awal Dzulhijjah hari ahad, karena kriteria awal bulan menurut persyarikatan ini adalah wujudul hilal, bukan rukyatul hilal.

Sepuluh hari pertama di bulan dzul hijjah adalah hari-hari yang sangat diagungkan di dalam Islam. Allah berfirman

وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ) الفجر:1-2(

Demi fajar, dan malam yang sepuluh

Para ulama’ berbeda-beda dalam memahami malam yang sepuluh. Al-Qur’an dan terjemahan Departemen Agama RI memberikan catatan pada kata “malam yang sepuluh sebagai berikut, “Malam yang sepuluh itu ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. dan ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram Termasuk di dalamnya hari Asyura. ada pula yang mengatakan bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama bulan Zulhijjah.”

Ibnu Abbas berpendapat, Malam yang sepuluh itu adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Pendapat ini diikutioleh ulama’-ulama’ lain dan dinyatakan pendapat yang paling kuat dan paling shahih oleh Ibnu katsir. Alasan menguatkan pendapat ini adalah adanya hadits;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak ada amal yang lebih utama pada hari-hari (tasyriq) ini selian berkurban.” Para sahabat berkata, “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad. Kecuali seseorang yang keluar dari rumahnya dengan mengorbankan diri dan hartanya (di jalan Allah), lalu dia tidak kembali lagi.” (HR al-Bukhari)

Senada dengan riwayat al-Bukhari, al-Bazzar juga meriwayatkan dengan teks yang berbeda

أفضلُ أيامِ الدُّنْيا أيامُ العَشْرِ

Seutama-utama hari di dunia adalah hari yang sepuluh (HR al-Bazzar, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)

Sepuluh hari inilah yang disebut dengan hari-hari tertentu di dalam firman Allah

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ) الحج:28. (

Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.

Ibnu Abbas menafsirkan ayyam ma’lumat pada ayat ini dengan sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah.

Diutamakannya sepuluh hari awal bulan Dzuhijjah karena di dalamnya ada hari ‘Arafah. Juga karena di dalamnya ada hari raya Qurban, sebagaimana sabda Rasulullah saw.

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah tabaraka wa ta’ala adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban), kemudian hari setelah hari al-Qarr.” (HR Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh al-Albani)

Hari al-Qarr adalah tanggal 11, dimana jama’ah haji menetap di Mina.

Ibnu Hajar menambahkan, “Di antara sebab utamanya hari-hari itu adalah karena pada hari-hari tersebut terkumpul beberapa peribadatan penting, yaitu shalat, puasa, haji, shodaqoh, Kurban dan lain-lain. Ibadah-ibadah tersebut jarang terkumpul dalam satu masa seperti pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah.

Demikianlah riwayat-riwayat yang menjelaskan keutamaan sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Namun sayang, kebanyakan kaum muslimin kurang memperhatikannya. Jika kita telah menyadari keutamaan hari-hari itu hendaklah bangkit untuk memperbanyak amal, di antaranya adalah;

1- Bersyukur kepada Allah.

Umur panjang hingga bisa memasuki hari-hari yang terutama ini adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Panjang umur adalah kesempatan untuk beramal. Dan panjangnya umur yang disertai dengan amal shalih adalah sebuah nikmat yang sangat agung.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ؟”، قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Dari Abdillah bin Busr, bahwa seorang Baduwi bertanya, Wahai Rasulullah, siapakh manusia yang terbaik itu? Beliau menjawab, orang yang panjang umurnya dan baik amalnya (HR Ahmad dan at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani)

Hadits ini dikuatkan lagi dengan riwayat lain

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي عُذْرَةَ ثَلَاثَةً أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمُوا قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَكْفِنِيهِمْ قَالَ طَلْحَةُ أَنَا قَالَ فَكَانُوا عِنْدَ طَلْحَةَ فَبَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا فَخَرَجَ أَحَدُهُمْ فَاسْتُشْهِدَ قَالَ ثُمَّ بَعَثَ بَعْثًا فَخَرَجَ فِيهِمْ آخَرُ فَاسْتُشْهِدَ قَالَ ثُمَّ مَاتَ الثَّالِثُ عَلَى فِرَاشِهِ قَالَ طَلْحَةُ فَرَأَيْتُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ الَّذِينَ كَانُوا عِنْدِي فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ الْمَيِّتَ عَلَى فِرَاشِهِ أَمَامَهُمْ وَرَأَيْتُ الَّذِي اسْتُشْهِدَ أَخِيرًا يَلِيهِ وَرَأَيْتُ الَّذِي اسْتُشْهِدَ أَوَّلَهُمْ آخِرَهُمْ قَالَ فَدَخَلَنِي مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أَنْكَرْتَ مِنْ ذَلِكَ لَيْسَ أَحَدٌ أَفْضَلَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَمَّرُ فِي الْإِسْلَامِ لِتَسْبِيحِهِ وَتَكْبِيرِهِ وَتَهْلِيلِهِ

dari Abdullah bin Syaddad bahwa beberapa orang dari Bani ‘Udzrah -yaitu sekitar tiga orang- menemui Nabi saw lalu mereka masuk Islam. Abdullah bin Syaddad berkata; Nabi saw bertanya: “Siapa yang akan menanggung biaya hidup mereka?” Thalhah menjawab; “Saya.” Maka mereka menetap di (rumah) Thalhah. Kemudian Nabi saw mengutus satu pasukan, salah seorang dari mereka ikut keluar bersama mereka dan mati syahid. Kemudian beliau mengutus satu pasukan lagi dan yang lainnya ada yang ikut berangkat dan mati syahid juga, sedang orang yang ketiga meninggal di atas tempat tidurnya. Thalhah berkata; “Saya bermimpi bahwa mereka bertiga yang menetap (rumah) ku berada di syurga. Saya melihat bahwa yang meninggal di atas tempat tidurnya berada di paling depan mereka, sedangkan orang yang mati syahid paling akhir di belakangnya, dan saya melihat orang yang mati syahid pertama kali berada di paling terakhir dari mereka bertiga. Hal itu menggangguku, kemudian saya menemui Nabi saw dan menyampaikan hal itu. Rasulullah saw bersabda: “Apa yang kamu ingkari dari hal itu? tidak ada seorangpun yang lebih utama di sisi Allah daripada seorang mukmin yang dipanjangkan umurnya dalam keadaan Islam karena bacaan tasbihnya, takbirnya dan tahlilnya.” (HR Ahmad)

Hadits riwayat Ahmad ini menunjukkan bahwa amal shalih akan meningkatkan derajat seseorang. Semakin panjang umur seseorang yang diisi dengan amal shalih, maka akan semakin tinggi derajatnya. Karena itulah dalam menyukuri nikmat ini adalah dengan memperbanyak ketaatan kepadaNya. Dan inilah watak seorang mukmin berdasarkan hadits

وَإِنَّهُ لا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلا خَيْرًا

Dan sesungguhnya umur seorang mukmin itu tidak akan bertambah melainkan akan menambah kebaikan (HR Muslim)

2- Memperbaharui taubat

Taubat adalah tugas manusia dalam hidupnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu rajab al-Hanbali, ”Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan Allah bergembira dengan taubatnya seorang hambaNya. Karena itu seorang manusia senantiasa ada dalam kebutuhan untuk bertaubat. Dan ini adalah pintu kebahagiaan seorang hamba.

3- Puasa

Pusa adalah salah satu amal yang sangat utama. Beliau senantiasa menunaikan puasa pada tanggal 9 dzulhijjah, sebagaimana dijelaskan oleh para isteri beliau;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

Rasulullah saw berpuasa pada tanggal sembilan Bulan Dzul Hijjah, serta pada Hari ‘Asyura` serta tiga hari dari setiap bulan, dan hari Senin serta Kamis pada setiap bulan. (HR Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad)

Tangal 9 Dzulhijjah adalah hari Arafah. Saat itu kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan haji sangat dianjurkan untuk berpuasa, dan kepada mereka Rasulullah saw menjanjikan akan diampuni dsa-dosanya selama dua tahun

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Puasa pada hari Arafah, aku memohon pula kepada Allah, agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun setahun penuh sebelumnya dan setahun sesudahnya. (HR Muslim)

4- Memperbanyak Shalat.

Shalat adalah ibadah agung di dalam Islam. Bahkan Rasulullah menjadikan shalat sebagai penyejuk hatinya.

Yang terutama dalam shalat ini adalah menunaikan shalat lima waktu dengan penuh keikhlasan dan kekhusyu’an. Lalu meningkatkan lagi dengan shalat-shalat sunnah. Dan jangan sampai ketinggalan, shalat hari raya berjama’ah.

5- Banyak berdzikir

Rasulullah saw bersabda;

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ

“Tidak ada satu hari yang pahala dihari itu lebih besar di sisi Allah dan beramal di hari itu lebih dicintai di sisi Allah daripada sepuluh hari ini. Oleh sebab itu perbanyaklah kalian bertahlil, bertakbir dan bertahmid”. (HR Ahmad)

6- Shadaqah

Allah berfirman;

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (al-Baqarah:245)

Demikian pula sabda Rasulullah saw

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Bertaqwalah kepada Allah, meskipun hanya dengan sebiji korma (Muttafaq ‘alaih)

Apalagi di masa banyak bencana yang datang, dan anyak orang berada dalam kesusahan, kesempatan ini harus dimanfaat sebaik-baiknya untuk mengeruk pahala dari Allah swt.

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat (HR al-Bukhari dan Muslim, dengan lafadz mengikuti al-Bukhari)

7- Haji bagi yang mampu

Ibadah haji bagi orang yang mampu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, Nabi saw bersabda

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Lakukanlah haji dan umrah dalam waktu yang berdekatan, karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan menghapus dosa sebagaimana al kir menghilangkan karat besi, emas dan perak. Tidak ada balasan haji mabrur kecuali syurga.” (HR at-Tirmidzi)

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلا الْجَنَّةُ

Tidak ada balasan haji mabrur kecuali syurga.” (HR al-Bukhari dn Muslim)

Adapun orang yang belum mampu melakukan haji, Allah telah memberikan pahala sebesar pahala berhaji dengan melakukan beberapa amal shalih, di antaranya adalah;

– menghadiri shalat Jum’at secara berjama’ah. Rasulullah saw bersabda

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً

Barangsiapa yang mandi seperti mandi janabah pada hari jum’at, kemudian ia pergi ke masjid pada waktu yang pertama, maka pahalanya seperti pahala berkurban seekor unta (Muttafaq ‘alaih)

Sa’id bin Musayyab berkata; Hal itu lebih aku sukai daripada ibadah haji sunnah.

– Menghadiri shalat Jama’ah dan melakukan shalat dhuha, Sabda Rasulullah saw.

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يَنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang haji yang sedang ihram, dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat Dluha, dia tidak mempunyai niat kecuali itu, maka pahalanya seperti orang yang sedang umrah. (HR Abu Dawud)

–         Shalat Subuh berjama’ah, lalu tetap tinggal di tempat shalat hingga terbitnya matahari kemudian shalat dhuha dua rekaat.

عن أنس -رضي الله عنه- قال: قال -صلى الله عليه وسلم مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang shalat subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit yang dilanjutkan dengan shalat dua raka’at, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.” dia (Anas ra) berkata, Rasulullah bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna. (HR at-Tirmidzi)

– Pergi ke masjid untuk mengajarkan ilmu atau untuk mempelajari kebaikan dengan niat yang ikhlas.

عن أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ؛ كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًا حَجَّتُهُ

Dari Abu Umamah, dari Nabi saw, “Barangsiapa pagi-pagi pergi ke masjid tidak ada yang diinginkan melainkan untuk belajar kebaikan atau mengajarkanya, maka baginya pahala seperti pahala haji yang sempurna hajinya (HR at-Thabrani, di dalam Mu’jam al-Kabir, dinyakan hasan shahih oleh syaikh al-Albani)

8- Berkorban

Ini adalah salah satu syi’ar Islam yang agung. Dengan berkorban kita membuktikan tauhid kita, dan sekaligus mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah kita peroleh. Berkorban juga berarti berbagi kebahagiaan dengan orang lain di hari raya.

Korban ini lebih utama dan lebih baik daripada shadaqah dengan harga yang nilainya sama dengan harga berkorban. Imam Ahmad berkata, “Aqiqah lebih utama daripada shadaqah yang senilai dengan harga aqiqah”

Ibnu Mundzir berkata, “Benarlah Imam Ahmad, menghidupkan sunnah, dan mengikuti sunnah lebih utama”

Bagi orang yang sudah berniat untuk berkorban, jika ia telah memasuki awal bulan Dzulhijah, maka dianjurkan untuk tidak memotong kuku dan rambutnya

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun (HR Muslim)

9- Jangan sampai melalaikan hari raya dan hari tasyriq, Rasulullah saw bersabda;

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah tabaraka wa ta’ala adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban), kemudian hari setelah hari al-Qarr (hari tasyriq).” (HR Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh al-Albani)