Khutbah Idul Adha 1431 H

di Masjid at-Taqwa, desa Ngaglik, kec. Sambi, kab. Boyolali

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله نحمده ونشكره، ونتوب إليه ونستغفره، يجزي على الحمد حمدًا وفضلاً، ويكافئ على الشكر زيادة وبِرًّا، ويدفع بالاستغفار عقوبةً ويغفر ذنبًا،

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، عمَّ فضلُه العالمين، ووسع إحسانُه الخلقَ أجمعين، وكتب رحمتَه للمؤمنين،

وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، أنار الله – تعالى – به الطريق للسالكين، ورفع ذِكره في العالمين، وجعله حُجةً على العباد أجمعين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وأصحابه السادة المتقين، والغر الميامين، وعلى التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa menganugerahkan nikmat-Nya kepada kita semua, nikmat Iman dan Islam, nikmat sehat wal afiat, sempat, serta di tengah berbagai bencana yang melanda negeri ini kita dalam keadaan selamat, dan masih banyak lagi nikmat yang tidak mungkin bisa kita ingat maupun kita catat.

Shalawat dan salam marilah senantiasa kita sampaikan kepada Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat, serta para pengikutnya yang setia menjalankan syariat, hingga hari kiamat.

Amma ba’d

Allahu akbar, allahu akbar, walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Prosesi manasik haji yang sedang berlangsung di tanah Haram dan perayaan Idul Adha yang sedang kita peringati ini, sesungguhnya adalah menapaktilasi peri kehidupan Nabi Khalilullah Ibrahim as. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الأَضَاحِىُّ قَالَ « سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ »

Dari Zaid bin Arqam, bahwasannya ia berkata; Para shahabat rasulullah saw bertanya, Wahai rasulullah, Apakah Idul Adha ini? Beliau menjawab, ini adalah sunnah ayah kalian Ibrahim (HR Ibnu Majah)

Nabi Ibrahim as adalah seorang nabi agung yang diutus oleh Allah swt. Beliau salah satu di antara nabi-nabi yang termasuk ke dalam jajaran Ulul Azmi. Karena keagungan pribadinya, kegigihannya dalam memperjuangkan tauhid dan menda’wahkannya, Nabi Ibrahim as diangkat oleh Allah sebagai panutan seluruh alam hingga akhir zaman. Allah swt berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya (al-Mumtahanan:4).

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Banyak hal yang bisa kita teladani dari kehidupan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; Namun pada kesempatan ini hanya kami kemukakan dua pelajaran saja;
Pertama, Kegigihan beliau dalam memegang prinsip tauhid.

Kedudukan tauhid dalam kehidupan manusia adalah kedudukan yang sangat penting. Sebab tauhid adalah tugas pokok manusia diciptakan oleh Allah swt. Tauhid adalah tugas manusia yang utama dan pertama. Allah telah berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahKu (adz-Dzariyat:56)

Para ulama’ ahli tafsir mengartikan menyembahKu di dalam ayat tersebut dengan kata liyuwahhidun (untuk mentauhidkanKu). Penjelasan para ulama’ ini merupakan penegasan akan makna ibadah. Bahwa ibadah yang akan bernilai di sisi Allah adalah ibadah yang dilandasi tauhid. Ibadah tanpa didasari dengan tauhid ibarat shalat tanpa wudlu. Shalat tidak akan sah jika tidak didahului dengan wudlu, dan ibadah pun akan gugur jika tidak dilandasi dengan tauhid. Allah swt berfirman

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Maka barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan tuhannya, hendaklah ia beramal shalih, dan tidak menyekutukan dengan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya (al-kahf:110)

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Nabi Ibrahim hidup di suatu masa, di mana negeri dipimpin oleh seorang tirani yang kejam. Selain kejam juga sangat sesat, karena mereka menyembah berhala. Saat itulah nabi Ibrahim adalah satu-satunya manusia yang menyembah Allah. Beliau harus mempraktikkan kehidupan tauhid di hadapan seluruh penduduk negeri yang musyrik.

Meskipun berhadapan dengan arus utama yang penuh dengan kemusyrikan, tidak sedikitpun menyurutkan nabi ibrahim untuk melakukan dakwah. Dengan sopan dan santun beliau mengajak orang tuanya untuk menyembah Allah. Dengan penuh keyakinan beliau mengajak masyarakat untuk meninggalkan berhala-berhala, untuk menyembah Allah yang maha Esa.

Sikap acuh tak acuh masyarakat terhadap dakwah Tauhid ini membuat nabi Ibrahim menahan geram. Saat ada kesempatan, rumah berhala yang menjadi pusat kemusyrikan beliau hancurkan. Satu per satu berhala yang ada di dalam bangunan itu beliau rusak. Hingga tinggal satu berhala terbesar, yang beliau beri hadish sebuah kapak.

Ketika beliau berhadapan dengan raja Namruj, dengan gagah berani beliau menjelaskan hakekat tauhid yang sangat jelas dan tegas. Beliau bantah logika argumen syirik dengan cerdas. Dan ketika raja namruj dan kaumnya dengan terang-terangan menolak ajakan beliau, maka beliau pun berucap;

إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, dan juga apa-apa yang kalian sembah selain dari Allah (al-Mumtahanah:60)

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Inilah keteguhan nabi Ibrahim as dalam memegang tauhid yang harus kita teladani. Ketauhidan yang bersih, murni, dan tanpa kompromi dengan kemusyrikan sedikit pun. Inilah sikap yang diangkat oleh Allah untuk diteladani oleh umat manusia. Dan inilah keteguhan memegang prinsip tauhid yang harus kita teladani. Tauhid yang disertai dengan pengingkaran terhadap segala jenis kemusyrikan.

Berpijak pada semangat yang diteladankan oleh nabi Ibrahim ini, maka ada beberapa sikap yang kita wujudkan dalam hidup kita, di antaranya adalah;

• Kita harus memegang teguh prinsip tauhid ini untuk melandasi semua aktifitas hidup kita di muka bumi.

• Segala bentuk kemuyrikan yang masih tersisa harus dibersihkan dari kehidupan kita dan dari masyarakat kita.

• Tidak boleh ada kompromi dan rasa pekewuh terhdap segala kemusyrikan yang berkembang di dalam masyarakat.

• Kita tidak boleh pasif dalam menyikapi persoalan kemusyrikan. Sebaliknya kita harus ikut serta aktif dalam menyingkairkan keyakinan syirik.

Kalau di sana masih ada orang yang mempercayai bahwa Gunung Merapi dikuasai oleh danyang-danyang, entah itu nyi Blorong, mBah Petruk, atau yang lainnya, maka keyakinan itu harus kita bersihkan dari kehidupan kita, dan kita harus berperan aktif dalam menyingkirkan keyakinan itu. Jika masih tersisa pada sebagian masyarakat, adanya dewa dewi yang berkuasa di sejengkal bumi, di perempatan jalan, di pekuburan, di sungai, jembatan, sawah atau yang lainnya, keyakinan yang membuat mereka mau memberikan sesaji, maka kepercayaan ini harus kita hilangkan. Dan tidak boleh ada kompromi terhadap keyakinan tersebut.

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Hal Kedua yang bisa kita tarik pelajaran dari kehidupan Nabi Ibrahim as; bahwa beliau adalah sosok yang sangat peduli terhadap kesinambungan generasi yang dapat memperjuangkan tegaknya nilai-nilai tauhid. Hal ini tercermin ketika usia Nabi Ibrahim sudah semakin tua, kerinduannya pada generasi penerus perjuangan menjadi semakin besar dan tak pernah putusasa. Meskipun usianya sudah di atas usia produktif, beliau tetap berdo’a agar Allah swt. menganugerahkan kepadanya keturunan yang shaleh. Beliau mengatakan dalam sebuah do’anya:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (الصافات: 100)

” Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang shaleh” (ash-Shoffat:100)

Satu hal yang harus kita ingat bahwa anak merupakan anugerah sekaligus amanah. Sebagai anugerah dari Allah swt, maka setiap orang tua harus mensyukuri kehadiran sang anak, apapun jenis kelaminnya dan bagaimanapun keadaan anak itu.

Dalam kaitan dengan anak sebagai generasi pelanjut, bahwa anak merupakan amanah dari Allah swt yang tidak boleh disia-siakan. Anak harus dididik dengan sebaik-baiknya sebagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar telah mendidik puteranya Ismail. Sebagai seorang isteri dari seorang suami yang aktif berjuang di jalan Allah, Ibunda Hajar memberikan perhatian kepada anaknya, Ismail dengan begitu baik. Ketika mereka berdua harus ditematkan di sebuah lembah yang tandus dan gersang, maka Bunda hajar harus berusaha mencari air sendiri. Beliau pergi hingga ke bukit Shafa lalu ke Marwa, namuntidak dijumpainya air itu. Inilah yang kemudian disebut dengan Sa’i dari Shafa ke Marwa sebanyak tujuh kali.

Melalui asuhan seorang ibu yang shalihah, pemuda Isma’il tumbuh dalam suasana keagamaan yang taat. Akhlak ditanamkan sedemikian rupa. Hingga akhirnya pemuda Isma’il ini menjadi pribadi yang shalih. Keshalihan ini tampak, ketika nabi ibrahim menyampaikan wahyu yang datang kepada beliau dalam bentuk mimpi;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. (ash-Shoffat;102)

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Kita saksikan di dalam ayat tersebut, dua insan yang beriman, bertaqwa dan shalih, membangun rumah tangga yang dilandasi dengan ketaqwaan. Maka ketika mereka melahirkan generasi, mereka mendidiknya menjadi anak yang shalih. Marilah sekali lagi kita cermati kata nabi Isma’il ketika ditawarkan oleh nabi Ibrahim, “Ananda, Aku mendapatkan wahyu untuk menyembelih dirimu. Apa pendapatmu?”

Tanpa ada rasa takut, tanpa ada rasa khawatir, nabi isma’il mengatakan

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (ash-Shoffat;102)

Menangislah Nabi Ibrahim as mendengar jawaban itu. Betapa tulusnya anak yang masih beru menginjak dewasa ini menerima perintah Allah, meskipun harus mengorbankan dirinya. Nabi Ibrahim meneteskan air mata tanda sedih bercampur bahagia. Sedih, karena merasa akan berpisah dengan anaknya. Tetapi juga bahagia ternyata anaknya begitu taat kepada Allah.

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Pemandangan yang kita saksikan pada keluarga nabi Ibrahim ini sangat kontras dengan keluarga-keluarga yang kita temui saat ini. Nabi Ibrahim membangun rumah tangga dilandasi dengan ketaqwaan, untuk melahirkan generasi yang siap melanjutkan estafet perjuangan. Adapun sekarang, orang membangun rumah tangga kebanyakan dilandasi oleh cinta syahwat. Hanya untuk bersenang-senang belaka. Merasa bangga kalau memiliki anak banyak, meskipun ilmu agamanya tidak memadai.

Bagaimana tidak, ketika seseorang memilih calon pasangan hidupnya, yang menjadi pertimbangan diterimanya adalah cantik, punya kekayaan yang cukup, dan kadang-kadang juga disertai dengan pangkat sosial tertentu. Jika ada orang datang dengan kriteria tersebut, soal agama tidak ditanya. Pernahkan seorang calon pengantin ditanya berapa banyakkah hafalanmu? Bisakah Anda membaca al-Qur’an? Sungguh jika ada calon pengantin ditanya pekerjaan, itu soal biasa. Tetapi akan dikatakan aneh oleh masyarakat kita kalau ada seorang melamar lalu dites baca al-qur’annya.
Padahal, untuk bisa melahirkan generasi yang shaleh, orang tuanya harus menjadi shaleh terlebih dahulu. Sangat jarang terjadi orang tua mendambakan anaknya menjadi shaleh sementara ia sendiri tidak shaleh. Hal ini karena mendidik anak harus dimulai dengan keteladanan yang baik dari lingkungan keluarganya, karenanya bagaimana mungkin orang tua bisa mendidik anak-anaknya dengan baik kalau ia sendiri tidak bisa memberi contoh yang baik.

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Perhatian dan kepedulian terhadap kaderisasi generasi muda harus menjadi agenda utama setiap penduduk bangsa ini, karena di tangan generasi muda lah terletak masa depan yang diharapkan lebih baik dari masa kini. Generasi muda yang memiliki pemahaman agama yang baik, memiliki akhlak yang baik, dan kepribadian yang baik, itulah yang akan sanggup membangun bangsa dan Negara ini dalam arti yang sesungguhnya. Syauqy Byk, Seorang ulama’ ahli hikmah mengatakan;

وَإِنَّمَا الاُمَمُ الاَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ – فَإِنْ هُمُوا ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوا

“Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka mempunyai akhlak yang mulia,
maka apabila akhlak yang baik telah hilang, maka hancurlah bangsa itu”.

Negeri kita akan bisa melepaskan kebiasaan korupsi, kolusi, dan berbagai kejahatan yang terjadi secara structural manakala akhlak terbangun dengan baik di semua lapisan masyarakat. Dan akhlak yang baik tidak akan lepas dari pemahaman dan penghayatan agama Islam yang baik pula. Dari sinilah perhatian kita akan pendidikan agama anak-anak harus ditingkatkan, agar generasi pelanjut perjuangan ini tidak pupus. Agar bangsa kita semakin dekat dengan ampunan Allah, dan masyarakat adil makmur yang diridloi Allah dapat diwujudkan di negeri Indonesia ini. Tanpa kebaikan agama masyarakatnya, mustahil Allah akan memberikan anugerah masyarakat yang diridloi. Marilah kita simak firman Allah

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-A’raf:96)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (an-Nur:55)

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Kita simak di dalam ayat-ayat di atas, Allah menjanjikan kebaikan suatu negeri apabila penduduknya beriman dan bertaqwa. Kebaikan itu di antaranya adalah, teguhnya agama Islam di tengah masyarakat, terciptanya keamanan dan kesentosaan. Juga turunnya berkah dari langit, dan dari bumi. Tetapi jika penduduk negeri ini tidk beriman dan bertaqwa, yang akan diturunkan adalah berbagai bencana. Na’udzubillahi min dzalik. Karena itulah, persoalan pendidikan untuk melahirkan generasi yang shalih dan bertaqwa, yang beraqidah kuat, beribadah tekun dan berakhlak mulia marilah kita jadikan priorotas dalam penyiapan masa depan bangsa kita. Untuk semua itu, kita harus memulai dari diri kita, membina diri kita untuk lebih mencintai agama Allah yang telah diridloi ini. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua.

Allahu akbar, allahu akbar, la ilahaillallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin Arsyadakumullah

Selanjutnya, marilah kita kembali kepada Allah, meninggalkan dosa-dosa kita dan bertekad untuk lebih kuat memegang tata aturan yang telah diturunkan kepada nabi kita, Nabi Muhammad saw. Marilah kita bertekad untuk senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Marilah kita memohon ampunan kepada Allah atas semua dosa kita, memohon semoga Allah berkenan memberikan kebaikanNya bagi kita semua di dunia maupun di akhirat

اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اللّهُمَّ لا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لايَخَافُكَ وَلا يَرْحَمُنَا, اللّهُمَّ انْصُرِ المُجَاهِدِيْنَ الَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ , اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانِنَا المُسْلِمِيْنَ فِى عِرَاق وَفِى فَلَسْطِين وَفِى لبنان وَفِى سوريا وَفِى كَشْمِيْر وَفِى الهِنْد وفى أفغانستانِ وَفِى شِيْشَان وَفِى جَنُوْبِ بِلِيِبين وَفِى صومال وفى تايلند وَفِى بَلَدِنَا أندونيسيا
اللّهُمَّ يَا مُنْزِلَ الكِتَابِ وَ يَا مُجْرِيَ السَّحَابِ وَ يَاهَازِمَ الأحْزَابِ اِهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ,
اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِاليَهُوْدِ وَمَنْ وَالاهُمْ, اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِالنَّصَارَى وَمَنْ وَالاهُمْ, اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِالهُنَوْدِ وَمَنْ وَالاهُمْ, اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِالأمِيرِكَان وَمَنْ وَالاهُمْ, اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِالِبرِيطَان وَمَنْ وَالاهُمْ,
اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَحْزَابِ المُشْرِكِيْنَ الطَّاغِيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَمَنْ وَالاهُمْ, اللّهُمَّ دَمِّرْهُمْ تَدْمِيْرًا وَ تَبِّرْهُمْ تَتْبِيْرًا وَاجْعَلْهُمْ هَبَاءً مَنْثُوْرًا اللّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَكَ ,
اللّهُمَّ أَعِزَّ الإسْلامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ . اللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاتَنَا وَقِيَامَنَا وَجَمِيْعَ حَسَنَاتِنَا وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الكَرِيْم
ربنا هب لنا من أزواجنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
ربنا ءاتنا فى الدنيا حسنة وفى الاءخرة حسنة وقنا عذاب النار .
وصلى الله على محمد وعلى ءاله وصحبه اءجمعين . والحمدلله رب العالمين
تقبل الله منا ومنكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Budi Prasetyo
PPMI Assalaam, 10 Dzulhijjah 1431 H/16 Nopember 2010 M