Banyak pertanyaan diajukan kepada kami, berkenaan dengan perbedaan shalat Id Adha dan puasa Arafah tahun ini. Untuk tidak memperpanjang kalam, di sini tidak kami sebutkan pertanyaan satu per satu. Meskipun shalat Id Adha dan puasa Arafah sudah berlalu, akan kami jelaskan masalah ini agar bisa difahami konsepnya sehingga kelak, bisa menyikapi perbedaan dengan arif.

Umat Islam saat ini berbeda dalam menjalankan Idul Adha dan puasa Arafah karena perbedaan dalam menentukan kriteria penentuannya. Ada kriteria yang berkembang di tengah umat Islam, pertama kriteria penanggalan hijriyah sesuai mathla’ masing-masing negeri dan kedua kriteria wukuf di Arafah.

Penetapan puasa Arafah dan Idul Adha yang menggunakan kriteria penanggalan menyatakan bahwa puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah dan Idul Adha tanggal 10-nya. Sementara itu para pengguna kriteria wukuf di Arafah sebagai penetapan hari Arafah, tanggal, menyatakan bahwa apabila jama’ah haji telah menunaikan wukuf di Arafah, maka hari itu disebut hari Arafah, sehingga bagi kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji disunnahkan untuk berpuasa hari Arafah.

Alasan golongan yang menggunakan kriteria penanggalan, seperti yang dikemukakan oleh Prof. T. Djamaluddin, Hari Arafah hanya penamaan hari pada 9 Dzulhijjah, sama halnya dengan Yaum Nahar untuk 10 Dzulhijjah, dan Yaum Tasyrik untuk 11-13 Dzulhijjah. Sementara itu golongan yang menggunakan kriteria wukuf mengatakan, bahwa hari Arafah itu adalah penamaan hari di mana jama’ah haji sedang melakukan wukuf. Memang wukuf dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah dengan penetapan tanggal oleh Kerajaan Saudi Arabia. Meskipun demikian, bagi negeri-negeri kaum muslimin yang lain tinggal menyesuaikan saja dengan keputusan Saudi sehingga saat jama’ah haji wukuf, mereka berpuasa.

Dalil yang digunakan untuk mendasari kriteria wuquf adalah,

فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ

Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR asy-Syafi’I dan al-Baihaqi)

Adapun golongan yang menggunakan kriteria penanggalan, memahami hadits di atas, bahwa hari Arafah itu adalah nama tanggal dan penanggalan masing-masing negeri didasarkan kepada mathla’ (tempat terbit)nya hilal masing-masing. Dengan mempertimbangkan perbedaan mathla’ inilah maka penanggalan satu negara dengan negara yang lain bisa berbeda. Sebab dasar penentuan awal bulan adalah tampaknya hilal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits;

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah karena kalian melihatnya (hilal) maka, dan berbukalah karena kalian melihatnya” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Selain dengan hadits ini, Dari Kuraib, bahwasannya Ummu Fadhli, puteri Harits, mengutusnya (Kuraib) menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata, “Aku tiba di Syam dan menyelesaikan urusannya (Ummu Fadhl). Ternyata Ramadhan tiba dan aku masih di Syam. Aku melihat hilal Ramadhan pada malam Jumat. Aku masuk Madinah pada akhir Ramadhan. ‘Abdullah bin ‘Abbas bertanya kapan aku melihat hilal Ramadhan. Kukatakan aku melihatnya pada malam Jumat. Ibnu ‘Abbas bertanya apakah aku melihat sendiri hilal. Kujawab aku melihatnya, begitu juga orang-orang. Mereka berpuasa dan begitu juga Mu’awiyah. Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa dia melihat hilal Ramadhan pada malam Sabtu sehingga akan menggenapkan puasa tigapuluh hari atau hingga hilal Syawal terlihat. Aku bertanya tidak cukupkah kita berpedoman pada rukyat dan puasa Mu’awiyah. Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tidak, sebab demikianlah Rasulullah memerintahkan.” (HR Muslim, An-Nasai, dan Abu Dawud)

Oleh golongan yang menggunakan kriteria penanggalan, hadits-hadits tentang penetapan awal puasa ini digunakan untuk menetapkan seluruh bulan, termasuk bulan Dzulhijjah. Sehingga, memungkinkan terjadinya perbedaan hari Arafah antara satu negara dengan negara yang lain.

Sedangkan oleh golongan yang menggunakan kriteria wukuf, hadits-hadits penetapan awal puasa ini hanya digunakan untuk menentukan awal puasa, tidak untuk menentukan hari Arafah. Sedangkan untuk menentukan puasa Arafah dan Idul Adha adalah hadits yang disebutkan oleh asy-Syafi’i dan al-Baihaqi di atas. Akibatnya, golongan ini tidak mempedulikan kapan masuknya bulan Dzulhijjah menurut mathla’ negerinya, tetapi mereka akan mengikut saja kepada ketetapan Saudi tentang awal masuknya bulan Dzulhijjah.

Namun para pengikut kriteria penanggalan itu pun tidak sama dalam menentukan standar pergantian bulan. Ada madzhab rukyat global, rukyat lokal, imkanu rukyat, ada pula wujudul hilal, dan ada pula ijtima’ qablal ghurub. Namun yang dominan untuk kasus penetapan dzulhijjah di negeri kita ini ada dua madzhab saja, madzhab wujudul hilal yang direpresentasi oleh Muhammadiyah, dan madzhab imkanu rukyat yang digunakan oleh Pemerintah RI.

Wujudul hilal adalah penetran pergantian bulan jika dalam perhitungan (hisab) ketika matahari tenggelam bulan suda hada di atas ufuk, berapapun besarnya, maka dianggap telah terjadi perubahan bulan. Sementara imkanu rukyat artinya penentuan pergantian bulan jika hilal (bulan sabit) memungkinkan untuk bisa dirukyat. Negara-negara di Asia Tenggara (MABIMS) telah menyepakati bahwa hilal akan bisa dirukyat bila terpenuhi beberapa syarat berikut;

(1)· Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
(2). Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
(3)· Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak.

Pada tahun ini, 1431 H, tinggi hilal dari Yogyakarta pada saat matahari tenggelam hari Sabtu 6 Nopember 2010 diperkirakan 1°17’ di atas ufuk. Angka tersebut dalam pandangan wujudul hilal, telah memenuhi syarat pergantian bulan, sehingga mereka menentukan awal bulan Dzulhijjah pada hari Ahad. Sementara itu dalam pandangan imkanu rukyat, tinggi hilal seperti itu belum dipandang memenuhi syarat untuk dilihat sehingga  ditetapkan istikmal, dan awal bulan Dzulhijjah adalah hari senin, 8 Nopember 2010. Konon ada beberapa orang yang hari sabtu sore bisa melihat hilal di Jakarta, namun jika pengakuan itu kondisi hilal, secara hisab, masih belum memenuhi syarat imkanu rukyat, maka pengakuan itu ditolak.

Saudi, dalam penetran tanggal dikenal mengikuti madzhab rukyat. Keistimewaan rukyat saudi ini, mengabaikan hasil-hasil perhitungan (hisab). Alasannya sederhana, karena Rasulullah saw memerintahkan untuk melihat hilal, tidak untuk menghitungnya. Karena itulah meskipun secara hisab, di Saudi pada tahun ini, hilal juga belum memenuhi standar imkanu rukyat sebagaimana yang dipersyaratkan MABIMS, namun kesaksian seseorang tetap bisa ditetapkan. Dan kebetulan pada rukyat sabtru sore di saudi ada yang mengaku bisa melihat hilal, Karena itulah Saudi mengumumkan awal bulan Dzulhijjah pada hari ahad 7 Nopember 2010.

Akibat selanjutnya bisa diketahui, semua yang mengumumkan awal Dzulhijjah jatuh hari ahad, maka hari Senin 15 Nopember 2010 menunaikan shiyam hari Arafah dan keesokan harinya merayakan Idul Adha. Adapun yang menentukan awal Dzulhijjah hari Senin, maka puasa Arafah tanggal 16, dan shalat Idul Adha pada tanggal 17 Nopember 2010. Adapun para pengikut kriteria wukuf, tidak akan ambil pusing, Senin mereka ikut puasa dan pada hari Selasa mereka menunaikan shalat Idul Adha. Dari sini kita ketahui bahwa orang-orang yang menunaikan ibadah shalat Idul Adha pada hari Selasa sebenarnya memiliki latarbelakang yang bermacam-macam.

Meskipun demikian, semua pendapat toh memiliki dasar masing-masing. Perselisihan di antara umat ini adalah perselisihan yang masih ada di dalam koridor syar’i, sehingga semuanya bisa diterima. Yang harus diciptakan adalah suasana damai, dan toleran, serta tidak boleh saling merendahkan. Apalagi memaksa golongan lain untuk mengikuti pendapatnya. Marilah kita renungkan pesan Sufran ats-Tsauri, “Jika kamu melihat seseorang mengamalkan statu ilmu yang diperselisihkan, sementara pendapatmu berbeda dengannya, maka janganlah kamu mencegahnya.”

Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak seyogyanya seorang faqih menyuruh dan mengajak orang lain untuk mengikuti madzhab tertentu”. Jika mengajak saja tidak boleh, apalagi memaksa atau mengancamnya.

Allahu a’lam bish-Showab