Oleh : Syaikh Nawawi al-Bantani

Disebut juga dengan nama surat Tabbat. Termasuk surat Makiyyah. Terdiri dari lima ayat, 23 kata, dan 77 huruf

بسم الله الرحمن الرحيم

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَّ تَبَّ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan ia akan binasa.
Abu Lahab adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthallib. Kata tabbat (yang pertama) berfungsi sebagai do’a sedangkan yang kedua kedudukannya dalam suatu kalimat berita. Maksudnya, kebinasaan itu telah menimpanya. Kalimat seperti ini dapat diperkirakan adanya kata qad (berfungsi sebagai penguat kata lampau yang berarti telah) sebelum kata tabb. Bacaan Ibnu Mas’ud menguatkan perkiraan ini, karena beliau membaca qad tabb (sungguh telah binasa). Dalam qiraat beliau kata qad dibaca dengan jelas.

Ada yang berpendapat bahwa kedua kalimat adalah kalimat berita, tetapi yang dimaksud dengan kalimat pertama adalah kebinasaan amalnya sedangkan yang kedua adalah kebinasaan dirinya, karena sesungguhnya seseorang itu akan beramal untuk kemaslahatan diri dan perbuatannya. Lalu Allah memberitahukan bahwasannya Abu Lahab diharamkan dari mendapatkan dua kemaslahatan itu.-

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa pada suatu hari Rasulullah saw menaiki bukit shafa, kemudian berseru, “Wahai manusia, ke marilah’. Kemudian orang-orang Quraisy berkumpul di sekitar beliau, lalu beliau bertanya, “Apa pendapatmu jika aku beritakan bahwa musuh akan menyerbu kalian pada waktu pagi atau sore, apakah kalian mempercayaiku?”

Mereka menjawab, “Ya, kami percaya” Kemudian beliau berkata lagi, “Sesungguhnya aku memperingatkan kalian dari adzab pedih yang akan menimpa kalian”. Katika itu Abu lahab kontan berkata, “Binasa (celaka) kau, untuk inikah kau panggil kami?” lalu turunlah ayat ini.

Dan diriwayatkan pula bahwa Abu Lahab bertanya, “Apa hakku (yang akan aku peroleh) jika aku masuk Islam?”. Beliau besabda, “Apapun yang menjadi hak kaum muslimin”. Abu Lahab berkata, “Bukankah aku ini lebih utama daripada mereka?”. Rasulullah saw bertanya, “Dengan apakah kau lebih mulia?”. Lalu Abu Lahab berkata, “Celakalah agama ini, karena ia menyamakanku dengan orang lain”

Diriwayatkan pula bahwa beliau saw menyerukan Islam kepada Abu Lahab di siang hari, tetapi dia menolaknya. Ketika malam telah sunyi dan gelap gulita, baliau saw mendatangi rumah Abu Lahab untuk menyerukan agama Islam kepadanya seperti halnya yang beliau lakukan di siang hari. Beliau mengambil cara demikian karena mencontoh pada apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Nuh as. Ketika beliau saw telah bertemu dengan Abu Lahab, maka dia berkata, “Mengapa kau susah-susah mendatangiku?”. Nabi duduk di depannya seperti orang yang sangat membutuhkan, lalu mengajaknya untuk masuk Islam, seraya bersabda, “Kalau kau malu mengikuti secara terang-terangan, sambutlah ajakanku saat ini lalu diamlah” Abu Lahab menjawab, “Aku tidak percaya (iman) kepadamu sehingga anak kambing ini mempercayaimu”. Rasulullah pun kemudian bersabda kepada anak kambing tersebut, “Siapakah aku”. Anak kambing itu menjawab pertanyaan Rasul dan memuji beliau saw. Mendengar itu kedengkian yang menguasai Abu Lahab memuncak, lalu ia memegang kedua tungkai anak kambing tersebut dan mematahkannya seraya berkata, “Celaka kau, mulutmu telah terpengaruh oleh sihir”. Kemudian anak kambing itu berkata, “Tidak, tetapi kamulah yang celaka” Kamudian turunlah surat ini berkaitan dengan peristiwa itu, celakalah kedua tangan Abu Lahab, karena ia telah mematahkan kedua tungkai anak kambing. Di samping itu, juga disebabkan karena pada diri Abu Lahab telah tumbuh keyakinan yang batil, kata-kata yang batil, dan perbuatan batil.

مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَ مَا كَسَبَ

Tiada berguna baginya harta kekayaan dan amal usahanya.
Apa pengaruh harta dan usahanya dalam rangka untuk menolak adzab Allah? Tak seorang pun yang kekayaannya melebihi Qarun, tetapi bisakah hartanya menolak datangnya kematian darinya? Tak seorangpun yang kekuasaannya melebihi Nabi Sulaiman, tetapi apakah kekuasaannya itu mampu menolak kematian darinya? Maka harta dan daya upaya Abu Lahab tak akan bermanfaat ketika itu. Kata maa pada kalimat maa aghna berfungsi untuk nafy (meniadakan) dan istifham (kalimat tanya). Sedangkan kata maa pada maa kasab,bisa difahami sebagai mashdariyah, mausulah (kata sambung) yang dihilangkan a’idnya (kata benda yang dituju oleh kata yang disambunginya), atau istifham sehingga bermakna, amal perbuatan apakah yang dapat memberikan manfaat baginya.

Diriwayatkan bahwasannya Abu Lahab pernah berkata, Apabila yang dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka aku akan menebus kesalahan diriku dengan hartaku dan anak-anakku sehingga aku akan selamat darinya. Sungguh amat buruk pengharapannya dan akibat dari impiannya itu, anaknya yang bernama Utaibah diterkam singa di jalan menuju Syam, lalu turunlah ayat tersebut.

Yang dinamakan kasab adalah keuntungan hartanya. Ada yang berpendapat, artinya hasil perjalanannya. Ibnu Abbas berkata, Makna wa maa kasab (amal usahanya) adalah anaknya. Dalil yang menunjukkannya adalah sabda nabi saw,

إِنَّ أَطْيَبَ مَا يَأْكُلُ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَ وَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

Sesungguhnya sebaik-baik harta yang dimakan seseorang adalah hasil pekerjaannya, dan anak adalah termasuk hasil pekerjaannya
Sabda Nabi yang lainnya

أَنْتَ وَ مَالُكَ لِأَبِيْكَ

Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.
Abu Lahab mati karena bisul mematikan yang keluar dari badan tujuh hari setelah perang Badr,.

سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ الْحَطَبِ

Maksudnya, Abu Lahab akan masuk ke dalam nyala api yang sangat besar di hari akhirat kelak. Pada ayat ini ada yang membaca ya’nya dengan dlammah, lamnya ada yang ditasydidkan ada pula yang tidak ditasydidkan.

وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

Bersamanya Ummu Jamil al-Aura’ binti Harb, saudara Abu Sufyan Shakhr bin Harb. Nama aslinya adalah al-Aura’, tetapi ada yang mengatakan bahwa nama aslinya adalah Arwa. Ada yang membaca ayat ini dengan tashghir yaitu muraiatuhu, maksudnya adalah sebagai penghinaan kepadanya. Ummu Jamil ini mati karena tercekik oleh tali yang digunakan untuk membawa kayunya.

Karena begitu bencinya kepada nabi saw, maka dia mau membawa sendiri duri-duri dan kayu-kayu. Kamudian pada malam hari itu semua ditebarkan di jalan yang biasa dilalui oleh nabi saw, sehingga beliau harus melewati jalan itu dengan hati-hati.

Ashim membaca kata hammalata dengan nashab (bertanda fathah) sebagai cacian, atau sebagai hal (kata keterangan), apabila yang dimaksud dengan membawa kayu itu mutlak (tak dibatasi oleh waktu tertentu). Para ahli qira’ah lainnya membaca dengan rafa’ (bertanda dlammah sehingga berbunyi hammalatu), karena dianggap sebagai na’t pada kata imra`’atuhu, karena yang dimaksudkan membawa kayu itu di masa yang lalu.

Potongan ayat ini ada yang membaca dengan hammalatan lil-hathab (dengan bacaan nashab), dan ada pula yang membaca hammalatun lil-hathab (dengan bacaan rafa’). Yang membaca dengan rafa’ mengasumsikannya sebagai khabar bagi kata amra’atuhu, sedangkan yang membaca dengan nashab mengasumsikannya sebagai cacian atau sebagai hal bagi kata imra’atuhu. Apabila kita baca dengan rafa’, ‘athfnya kepada dlamir mustatar (kata ganti yang tak kelihatan) maksudnya pada hari kiamat ia membawa seikat kayu bakar ke neraka. Sebagaimana ketika di dunia ia membawa kayu bakar untuk menyakiti Rasulullah saw. Ketika itu, kalimat fi jidiha berfungsi sebagai hal untuk kata imra’atuhu. Dan apabila kita membaca dengan rafa’, maka kalimat fi jidiha berfungsi sebagai khabar

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Di lehernya terikat tali dari sabut yang dibuat dari besi, di akhirat kelak. Ibnu Abbas berkata; al-Masad adalah rangkaian besi panjangnya 70 hasta, dimasukkan lewat mulut dan keluar melalui dubur. Semua rangkaian tali dari besi itu berada di leher sehingga menjeratnya dengan jeratan yang kuat. Ada yang berpendapat, di lehernya ada tali kekang yang terbuat dari sabut pohon Muql, yaitu jenis pohon a-Daum, sehingga kekang itu mencekiknya dan mematikannya.

Qatadah dan Adl-Dlahhak berkata, Pada mulanya al-Aura’ menghina Rasulullah dengan menyebutnya sebagai lelaki fakir, Lalu Allah menjelek-jelekkannya dengan menyebutkan bahwa ia adalah tukang cari kayu dengan membawa tali yang diletakkan di lehernya sehingga tali itu mencekiknya dan membunuhnya.